Diskusi · Homeschooler Story · Homeschooling Highlight

Praktek Homeschooling

Resume Diskusi HSMN Bandung

Hari selasa: 26 Mei 2015
pukul 20.00-22.00 WIB
๐ŸŒผ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒป

๐Ÿ‘‘ Narasumber: Teh Patra
๐Ÿ“š Tema: Praktek HS (Homeschooling)

11270642_475098502657578_6090714076785395280_o

๐Ÿ“ฑModerator
1โƒฃ Teh Ria
2โƒฃ Teh Thasya
๐Ÿ“ Notulen Teh Liza

๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah puji syukur kpd Allah atas sgala nikmat yg telah diberikan..shalawat dan salam kita haturkan kpd junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya yg mdh2an kita termasuk di dalamnya..

PROLOG

Yuria Pratiwhi Cleopatra, biasa dipanggil Patra. Ibu dari 4 anak hs (17, 14, 13, 3). Sudah 4 tahun menjalankan hs.

Untuk hs di keluarga teh Patra dibagi menjadi 3 bagian :

1. Pelajaran wajib : Al Qur’an, olahraga
2. Pelajaran akademis sesuai target ujian paket
3. Pelajaran life skills sesuai bakat minat.
Keluarga teh Patra menganggap seluruh bagian sama pentingnya. Jadi untuk jadwal menjadi satu kesatuan.

Jam belajar mulai jam 8-16
aturan dalam jam belajar:

๐Ÿ’ฎtidak melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan pelajaran.
๐Ÿ’ฎjam belajar bisa digeser atau disubstitusi jika ada uzur syar’i.
๐Ÿ’ฎ hari belajar akses gadget/komputer /tv 90 menit per hari . Di hari libur maks 3 jam.

Pengajar adalah ortu. Kadang kakak mengajar adik.

Dari keterangan teh Patra, anak yang besar sekarang sedang ikut kelas intensif bimbel untuk sbmptn, meskipun tdk direncanakan untuk mengikuti tes sbmptn tahun ini.

Keputusan hs ini adalah keputusan bersama, diawali oleh sebuah rapat keluarga. Teh Patra dan keluarga berkumpul untuk sama-sama membahas cita-cita keluarga, visi, misi dan target setiap anggota keluarga.
Dari rapat itu dibuat keputusan bersama untuk melakukan hs.

Untuk lebih lengkap, mengenai latar belakang hs dapat mengunjungi blog narsum : http://yuria-pratiwhi.blogspot.com/2012/09/homeschoolingwhy-why-not.html?m=1

๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’

Sesi Tanya Jawab

TANYA #1
Bagaimana teh patra mengajarkan ke tiga bagian hs di atas terhadap si bungsu (3th)
Mulai dari Membuat kurikulumnya,
Cara mengajarnya sampai kepada target.

JAWAB

Kalau kita merujuk pada peraturan menteri pendidikan, Homeschooling itu adalah pendidikan setara SD, SMP dan SMA untuk mendapatkan ijazah persamaan paket A, B dan C.
Kalau anak berusia di bawah itu, tidak disebut hs..ya tarbiyatul aulad saja ๐Ÿ˜Š

Untuk anak-anak usia pra sekolah saya sendiri belum membuat kurikulum.
Target dibuat sesuai milestone tumbuh kembang anak secara umum mencakup perkembangan fisik, sosial, motorik, dll.
Stimulasi diberikan sebanyak2nya dan seberagam mungkin, tidak dibatasi dugaan bakat minat.

Biasanya anak-anak belajar dengan memanfaatkan alam dan benda sekitar.
Yang paling penting sih di usia pra sekolah itu anak selalu didampingi.
Percuma juga kita beri mainan/bahan ajar edukatif yang mahal misalnya, tapi tidak kita dampingi.

————————–

TANYA #2

1. Ada pernyataan bahwa aplikasi HS ini akan lebih banyak menyedot biaya dibandingkan sekolah formal.. apakah hal itu benar?

2. Apakah anak jebolan HS tidak akan mengalami kesulitan jika ia ternyata ingin menjadi karyawan di suatu perusahaan yg mensyarati hrs ada latar belakang pendidikan formal?

3. apakah anak HS harus memiliki komunitas HS di wilayahnya atau bisa berjalan sendiri?

JAWAB

Sekarang ini HS banyak sekali bentuknya. Tapi secara umum saya bagi menjadi 2 bagian besar ya:

๐Ÿ‘‘JENIS A :

Homeschooling dengan latar kesetaraan. Itu yang nantinya akan melaksanakan ujian pake A, B, C. Saat ini ijazah ujian paket sudah diakui secara resmi dan setara dengan sekolah formal. Insya Allah tidak sulit untuk bekerja. Apalagi kalau melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Jadi anak-anak belajar kurikulum diknas juga, hanya tidak di sekolah formal. Bisa di rumah dengan ortunya, bisa panggil guru privat, bisa di hs komersial seperti punya kak Seto atau lembaga bimbel, dll.

๐Ÿ‘‘JENIS B:

Homeschooling yang betul2 tidak mengikuti standar pendidikan. Yang jenis B ini biasanya dilakukan jika anak sudah punya alur hidup yang jelas dan tidak akan bekerja di sektor formal.. misalnya jadi atlit, seniman, ustadz, atau melanjutkan usaha keluarga.
Jadi jawaban pertanyaannya :

1. Biaya, tergantung jenis hs mana yang akan kita lakukan. Kalau belajar di rumah dengan ortu seperti di keluarga saya (narsum, teh patra) itu menghemat banyak sekali..saya tidak perlu keluar spp, jemputan, katering, dll
Kalau memanggil guru atau ikut hs komersial ya jatuhnya lebih mahal dari sekolah formal. Apalagi sekolah negeri yang gratis

2. Pertanyaan kedua sudah terjawab ya

3. Untuk HS Tipe B sih bebas aja..ga ada hubungannya dengan orang lain.
Untuk tipe A, HS definisi diknas terdiri dari HS tunggal dan HS Majemuk. HS Majemuk bisa mengadakan Ujian kesetaraan sendiri. HS tunggal harus mendaftar via HS Majemuk atau PKBM yang melaksanakan ujian paket kesetaraan.

—————————

TANYA #3

Kalau tadinya HS lalu masuk perguruan tinggi, apakah anak akan mampu beradaptasi dg kondisi sosial, pressure, persaingan antar teman, dsb sedangkan slama 17 tahun dia mgkn bersaing hanya dalam sibling rivalry?

JAWAB:

Justru disitu tantangannya. Kita bisa memberi fasilitas yang menantang. Kan anak hs bukan berarti ga gaul yaa..justru dengan hs pergaulannya bisa lebih luas. Misalnya anak pertama saya (narsum) dia ikut bahasa Perancis. Temannya rata-rata calon mahasiswa s2 yang akan kuliah di Perancis. Kadang ada kompetisi baca, ujian, dll. Dan dia bisa juara ketiga.

Sekarang dia ikut try out sbmptn di nurul fikri. Alhamdulillah hasil try outnya lumayan..sekarang ranking 5 di unitnya..padahal siswa lain banyak dari SMAN 3 dan 5. Bahkan besok dia diminta alumni ngajar fisika untuk anak2 kelas 2 di SMAN 5 ๐Ÿ˜Š

***

SHARING PESERTA :
Mengenai pandangan sebagian orang terhadap jebolan hs yg dianggap tidak dapat bekerja secara berkelompok dan soliter.

TANGGAPAN NARSUM :
Sebetulnya di semua tempat pun selalu ada ya person yang begini begitu. Baik di hs maupun sekolah formal.
Anak hs yang bisa gaul dan kerja tim banyak..yang nggak juga ada.
Anak sekolah formal juga begitu..
Mungkin bukan hs dan non hs saja yang menjadi penentu..ada faktor2 lain yang perlu kita lihat secara komprehensif.

————————–
TANYA #4
apa saja yg harus disiapkan/diperhatikan sebelum memulai prkatek hs?
Apakah praktek hs bsa berlangsung efektif untuk org tua yg bekerja?
(jam kerja 8-10 jam di luar rumah)

JAWAB:

Yang perlu disiapkan di awal..adalah visi misi keluarga.
Keluarga jenis apa yang akan kita bangun? Apakah hs akan mendukung pencapaian visi misi tersebut? Kalau ya bisa dilakukan. Kalau tidak bisa kita gunakan alternatif lain. Hs itu hanya salah satu alternatif saja.

Kalau hs yang dimaksud adalah home schooling, pendidikan berbasis rumah (keluarga), tentunya akan sulit dilakukan jika tidak ada pendidiknya. Siapa yang akan mendidik anak? Kalau di sekolah bisa kita titipkan pada sistem sekolah. Kalau di rumah kita sendiri yang bertanggung jawab atas seluruh sistem pendidikan.
Kalau ortunya tidak ada tentunya sulit sekali tujuan hs bisa tercapai

——————————–

TANYA #5
hambatan apa saja yg pernah dialami selama praktik hs ini?

JAWAB:

Menurut narsum hambatan kebanyakan bersifat teknis : orang tua yg sibuk.
Hambatan lain adalah ketika ujian, hasil ujian paket itu baru keluar sekitar 7 bulan sesudahnya, sehingga sulit jika ingin pindah ke jalur formal.

Biasanya yang jadi hambatan hs juga adalah ketidakjelasan sistem. Berbeda dengan sekolah yang sistematis, banyak keluarga hs tidak memiliki sistem yang jelas sehingga pendidikan tidak efektif.

Banyak ortu cenderung membebaskan anak dengan alasan tidak ingin membatasi/otoriter..tapi yang terjadi malah kebablasan

———————————-

TANYA #6
1. Apa saja yg perlu dipersiapkan sebelum menerapkan HS? Fasilitas apa saja dll?
2. Apakah ada kendala dari segi pertemanan anak yg sekolah formal dengan yg HS?

JAWAB
Untuk pertanyaan no.2, sudah disinggung pada pertanyaan peserta sebelumnya.
Alhamdulillah pengalaman anak-anak saya (narsum) dengan hs pergaulannya justru lebih luas.

Untuk pertanyaan 1, yang perlu disiapkan adalah visi misi dulu. Dari visi misi itu kita turunkan menjadi program 5 tahunan, 1 tahunan, bulanan, sampai harian. Dari program itu nanti akan terlihat fasilitas/perlengkapan apa saja yang akan dibutuhkan dalam proses hs.

Misalnya kita punya visi anak yang sehat secara fisik,siap menjadi mujahid.
Kita buat target 5 tahun ke depan misalnya dia sudah harus bisa berenang, berlari sekian km, menguasai bela diri atau olahraga permainan, memiliki pola makan sehat, dll.

Lalu kita buat program satu tahun pertama.
Kalau misalnya programnya berenang dulu, berarti yang harus dipersiapkan adalah alat berenang.
Kira2 begitu..dan dilakukan untuk seluruh mata pelajaran.

——————————

TANYA #7

Bagaimana mengajarkan tahfidz agar anak tdk mudah jenuh. Brp lama efektifnya utk membimbing tahfidz ini.

JAWAB:

Insya Allah anak-anak tidak akan jenuh karena tahfizh.
Mungkin agak ngantuk..mungkin agak malas tapi Insya Allah gapapa..di konsisten saja.
Jenuh itu kalau anak sama sekali ga mau ngapalin lagi..seperti spons yang sudah tidak bisa menyerap air.

Biasanya kita tawarkan di awal untuk target..kamu sanggupnya berapa ayat/baris/halaman per hari. Jadi anak terlibat dalam pembuatan program. Lalu kita beri reward kalau rencananya tercapai. Kalau tidak tercapai kita evaluasi..apa kendalanya? Ap kurang realistis? Atau butuh penyegaran, dll.

Tidak ada batasan berapa lamanya. sesukanya anak aja. Misalnya anak ketiga saya (narsum) bilang ramadhan nanti mau ngapalin Al Qur’an 5 jam sehari ya kita dukung saja..kita fasilitasi, kita temani.
Kalau ternyata ga sanggup kita bantu membuatkan program baru.

———————————–

TANYA #8

Tantangan terbesar apa yg dirasakan teh Patra dan putra putri ketika memulai proses peralihan (Deschooling, dari sekolah formal ke homeschooling) ini?

JAWAB:

Kalau rencana deschool ini merupakan kesepakatan semua stakeholders insya Allah ga akan banyak tantangan..seru aja karena rasanya jadi seperti mengerjakan proyek baru ๐Ÿ˜Š

Tantangan muncul kalau ada satu pihak yang merasa terpaksa atau terganggu..entah itu ayah, ibu, keluarga besar, dan yang paling bahaya si anak sendiri. Kalau dia dengan sadar dan senang hati mengikuti prosesnya, Insya Allah akan baik. Yang penting programnya terencana dengan baik sehingga jelas apa yang akan dikerjakan.

๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’

PENUTUP

Kesimpulan dari narsum bahwa hs itu dimulai dari visi misi(platform) keluarga dan diprogram secara terencana.

ใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐ

* Homeschooling Muslim Nusantara *

facebook.com/hsmuslimnusantara

๐Ÿ“ท instagram: @hsmuslimnusantara

๐Ÿค twitter: @hs_muslim_n

web: hsmuslimnusantara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s