Homeschooler Story · Homeschooling Highlight

Homeschooling ala Keluarga Bunda Widya

12187676_10207789137948757_5699791292293086813_n

Ngobrolin Homeschooling bareng Teh Widya
19 Agustus 2015.

Sore-sore seru, nimba ilmu dari pengalaman Teh Widya (Sabumi 3) menjalankan Homeschooling.

***

Teh Widya:

/Mulai dari Visi Misi Keluarga/

Anak sy tiga, usia 8 tahun, mau 6 tahun, dan 10 bulan. Kami full HS.

Kami Hs karena sejak awal merasa metode ini yang paling cocok utk keluarga kami. yg terbaik setidaknya saat ini. karena sekolah/ga sekolah khan masalah pilihan dan nyaman saja, iya khan ibu2?

Kami juga electic, dalam artian tidak mengikuti salah satu metode tertentu, yang mana sesuai saja.

Kami mencoba mulai dr akhir, tujuan akhirnya apa… baru di petakan ke program yg lebih detail. Bismillah tujuan akhirnya adalah masuk surga bersama-sama. Ngga sendiri2.

Visinya: belajar bersama, untuk menjadi manusia yang bermanfaat. aamiin. itu saya pasang gede2 di rumah. biar setiap saat ingat tujuan akhirnya kesitu depan pintu kamar di tembok. Pokoknya kebaca waelah kalo beraktivitas.

Kalau kami (saya terutama) kenapa perlu didefinisikan sejak awal? supaya tdk larut dalam hal2 yang kurang mendukung. oya sebelumnya mohon maaf kalau ada yg kurang sependapat ya, karena Hs khan unik pasti bebeda tiap keluarga jadi ya ini yang ada di keluarga kami. kalau ada yg kurang berkenan atau salah2 dlm penyampaian mohon maaf.

Moto yg dipintu kamar anak itu, kenapa saya tempel dimana2 terutama di area publik supaya saling mengngatkan. contoh gampangnya misal kita mau melarang anak sesuatu, pasti ditanya kenapa? karena Alloh/rosul tdk suka khan pengennya masuk surga sama2.

wid

Kurang lebih begitu. Nanti dari situ baru kita buat petakan menuju kesana kita mesti gimana? belajar yang seperti apa.

Beberapa alasan kami memilih HS,

1.karena kami merasapendidikan yg pertama & utama itu di keluarga
2. membangun core value utk anak2 diusia dini yg sesuai dgn core value keluarga
3. karena yg bertaggung jawab nantinya atas pendifikan anak2 adalag suami.
4. karena setiap anak unik baik dr segi minat/speed belajar jadi kasihan jika disamakan

Kalo suruh nulis alesan kenapa HS bisa puajaaang, jadi semoga itu mewakili, dan kami merasa sekolah kurang bisa mengaplikasikan.

Tapi kami memang sdh sejak awal berniat HS yaaa… sy dan suami bukan karena merasa ngga cocok dgn sekolah lalu HS.

Kami merasa HS lebih cocok sejak awal, jd ini yg kami tempuh. tentu saja dgn pengalaman dan pegetahuan yg cukup ttg sekolah, dan emak bpk nya produk sekolah. Insyaa Alloh begitu setidaknya sampai saat ini. Alloh yg Maha membolak-balikan hati.

Oya, catatan penting, pasangan harus satu visi dulu, sebelum beranjak ke anak2.

*

Teh Liza:

Saya ingat betul suami teh patra (pelaku HS, member Sabumi 1) pernah bilang soal ini ke ayahnya anak2.
Bahwa homeschooling bukanlah saingan sekolah formal, melainkan pilihan metode pendidikan untuk anak yang patut dipertimbangkan.

Jadi sebenarnya kl ada yg bilang, aduh saya mau HS aja ngeri atuhlah sama sekolah jaman sekarang.. Ngeri sama lingkungannya.. Memang benar. Tp HS pun punya kendala lingkungan yg sama sulitnya.

Saya trmasuk yg sempat begitu.

Tp setelah merubah cara pandang, mungkin kita bisa lebih terbuka. Anak2 HS jg ngga mudah loh menyikapi paradigma lingkungannya.

Bagaimanapun pendidikan/sekolah itu hak anak. Belajar itu hak mereka. Mau sekolah, hayuk. Unschooling, deschooling, hayuk.

Kita ikhtiar ya buibu. Sebaik2nya ikhtiar. Selama semua personel keluarga ngga masalah.

*

Teh Liza:

Boleh saya bagi sedikit pengertiannya ya…biar sejalan sama penjelasan teh widya. Bisi ada yg blm jelas pengertiannya.

School at home biasanya menjadikan sekolah sebagai role model untuk penerapan metode pada homeschool, membawa apa yang ada di sekolah ke rumah seperti kurikulum, text book learning, evaluasi dan lain sebagainya yang kecenderungannya mengejar kelulusan dalam ujian yang distandarkan oleh kurikulum dan menyeret pada paradigma belajar untuk ujian agar lulus, learn for test, dan bila tidak hati-hati dapat menyeret kita pada cara pandang pendidikan “yg memandang sukses itu adalah berpendidikan untuk raih karir yg menghasilkan banyak uang” semata.

Orangtua menginginkan anaknya menjadi dokter ketimbang menjadi supir bus karena menjadi dokter menghasilkan lebih banyak uang daripada supir bus. Seandainya anak kita menjadi dokter lalu dikirim ke Syria atau Palestina atau ke daerah pelosok manapun tanpa digaji, apa pendapat kita? ini menjadi ujian bagi konsistensi kita terhadap visi dan misi pendidikan.

Nah HS model ini biasanya lebih dikenal sbg fleksi school. Sekedar memindahkan sekolah ke rumah.

Kabar gembiranya adalah, homeschooling memiliki kesempatan berinovasi dalam model school at home yang dijalankan. Homeschooler dapat melakukan pengajaran dengan sangat flexibel dalam hal waktu, materi dan tenaga, beragam pilihan dalam hal materi dan alat belajar (unit studi, project, multimedia, magang, dll, dan memiliki opsi solusi praktis baik dari buku, tutor, internet, bimbel, dll.

Nah sampai sini, oleh founder hsmn dan narsum hsmn, untuk mudahnya, homeschooling kita bagi dua.

1. Homeschooling yg berorientasi gelar akademis, memindahkan sekolah ke tempat lain yg bkn sekolah. Selanjutnya disebut fleksi school.

2. Homeschooling yg mengajarkan kurikulum ke anak sesuai keinginan dan kebutuhannya. Kalaupun perlu kesetaraan atau ijazah, maka dilakukan ujian negara (paket A/B/C) yg ujiannya bisa kapan saja. Mau nanti udah gede dirapel semua jg bisa. Nah kl yg ini sepertinya bisa dikatakan sebagai unschooling.

Unschooling, adalah cara belajar yang tidak terstruktur atau bergantung pada sebuah kurikulum tertentu. Umumnya berpandangan bahwa belajar itu adalah sesuatu yang alami bagi manusia dan tempat belajar terbaik adalah dunia nyata, tidak terpaku pada jangka waktu dan cara tertentu untuk melakukan pembelajaran, freedom to learn anything anyhow.

Kecenderungannya adalah learn for life dan biasanya memiliki cara pandang jadul yang idealis (walaupun tidak selalu) terhadap definisi pendidikan. Namun ini sepertinya bukan perkara mudah sebab menuntut extra kepercayaan diri dan kepercayaan terhadap anak-anak kita dalam interest and passions mereka. Unschooler juga lebih menuntut diri mereka sendiri “being a better person for goodness”.

Sementara electic, seperti yg teh widya lakukan,
Eclectic (Mix and Match) adalah model yang dapat melakukan apapun dalam metodenya, mencampur dan menggabungkan berbagai metode sesuai dengan situasi, kondisi serta kebutuhan visi dan misi pendidikan bagi keluarganya.

Intinya, semua boleh! Hehehhe..

*

Teh Widya:

Betul HS itu pilihan bukan krn lebih baik/lebih keren, mana yg nyaman dan cocok sama aja ky milih makanan sy suka pecel misalnya teh liza suka bakso. that simple. tiap pilihan ada tantangannya sendiri

Makanya sy berjejaring kesini. kami tdnya tgl di jkt dimana supporting groupnya banyak lalu suami di pindah ke cirebon. saya pun coba cari jaringan yg lebih terjangkau dr segi jarak dan waktu. kalau sy merasa supporting group itu perlu sekali kalau sedang down. khan kita bukan mainstream alternatif.

HS akan sangat berat jika diawali dengan “beban”. Kecuali jika memang tujuannya mindahin sekolah ke rumah namanya school at home jadinya. Percayalah itu bukan proses yg mudah.
Deschooling adalah proses transisi, dari pembelajaran sekolah (terstruktur) ke pembelajaran yg tdk terstruktur (homeschool) karena tidak ada lg materi tertentu, waktu tertentu, atau pemberi materi tertentu. kata kuncinya adalah boleh. tdk lagi “harus”.

Nah proses ini yg buat ortu terasa berat berapa lama kita menjadi produk sekolah sehingga begitu terpatri dalam hati *tsaaahh bahasanya*

Sehingga ketika kita mau memulai HS yg terpikir adalah sekolah di rumah, lengkap dgn “penampakan” sekolah yg coba kita visualkan di rumah. Papan tulis. Jadwal. Dan perangkat sekolah lain.

Nanti jika sudah melewati tahap ini kita akan terbuka bahwa learning tidak sama dengan studying.

Learning itu anytime anywhere. Studying adalah proses belajar “formal”, mempelajari. Sedangkan learning adalah aktivitas utk mendapatkan kemampuan.

Untuk evaluasi, saya buat portfolio. Sulung saya tipenya terstruktur jadi kami punya buku besar utk merancang target besar-kecil nanti kami evaluasi pencapaiannya.

Jadwal belajarnya bagaimana?

Dalam HS yang kami jalani, jadwal itu sekedar alat bantu acuan saja. Karena proses belajar itu alami.

Utk keluarga kamu, sedang berusaha sesuai yg “dicontohkan” jadi yg “wajib” ya harus ada. Sholat, sebisa mungkin berjama’ah (anak saya sementara ini laki2 semua). Adab di usia 6 tahun.

Oya kembali ke jadwal, karena kalau yg pertama dibuat jadwal pengalaman melihat banyak kasus malah jadi beban, aduh belum tercapai, aduh tadi belum belajar math, aduh anakku ga ngapa2in main2 aja jadwalnya ga ada yg dikerjain.. *misallll kalo teteh2 cantik disini mah enggak kalii yaaa…..

Padahal anaknya bermain bersama teman (berbagi mainan, menyelesaikan konflik dll) learning khan? padahal anaknya belajar empati (umi capek mau aku pijitin) learning jalan terusss tapi karena acuannya jadwal jadi belum ngerasa belajar (study).

Jadwal perlu untuk acuan tapiiii sesuaikan dgn usia anak, kemampuan, speednya itu khan tujuan awal Hs nya supaya “sesuai” dgn kemampuan anak.

Percayalah jadwal ini juga pemicu stress emak2 lho kalo terlalu dijadikan acuan, aduuuhhh target ga tercapai….. hayoooo visi keluarganya apa baca lagi….

Saya share segini dulu yg sdh kami jalani, (yg kami jalani lho ya catet! yg cocok utk kami).

***

Teh Widya: review yg sdh saya sampaikn kemarin, saya tempel besar besar di rumah
1. tujuàn hidup kita
masuk surga bersama. aamiin
2. visi homeschooling kita
“menjadi manusia yang bermanfaat bagi semesta. aamiin”
dari tujuan itu kami berusaha membuat perencanaan. just info sejak sulung masuk usia 8 tahun-an dia jadi sangat terstruktur, kami punya buku yg isinya perencanaan bulanan (target dan review) juga catatan2 kecil yg kami buat bersama. dulu kami (saya dan sulung karena si tengah baru mo 6 tahun jadi kami tidak memyiapkan target khusus)
kami diskusi lalu saya yg menuliskannya sekarang dia sudah membuat target sendiri. tugas saya? berusaha menghargai dengan ngerem bibir supaya tdk komentar maksudnya. menghargai inisiatifnya menyusun programnya sendiri

untuk jadwal selain perintah Alloh maka kami menghindari penggunaan kata2 “wajib” karrna menurut kami ini penting supaya anak2 tidak rancu, bahwa yang wajib itu ya misalnya: sholat, puasa romadhon, taat kepada Alloh.

jadi dalam jadwal harian yang wajib adalah sholat 5 waktu tepat waktu dan diusahakan berjamaah di masjid (anak saya laki2 semua)

kalau contoh seharian
kegiatan utama adalah
standar pagi (ikut istilah teh kiki)
-sholat subuh
-membaca al qur’an
-olah raga
-sarapan
-mandi
-sholat dhuha
-menghafal

dilanjut jadwal harian
ket disini ya:
baca qur’an waktunya tergantung bangunnya anak idealnya sebelum subuh prakteknya saya masih lebih sering sesudah subuh. hiks bantu doanya ya ibu2 PR buat saya ini membagunkan anak sebelum subuh.
olah raga:
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)
buat kami ini selalu diulang2
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.
olah raga non negotiable di rumah kami, naik turun pasti sy ngalamin yg harus rewel2 dulu baru mau lari setelah diajak ngobrol dulu, membangun kebiasaan baik itu tidak mudah sungguh…. kalau ada yg merasa mudah membangun kebiasaan olah raga di rumah tolong saya diajari triknya…. hiks
minimal lari setiap pagi, sekarang lari dan bersepeda.
berenang (seminggu 1-2x les) badminton 1x semiggu les jg.
memanah dan berkuda dalam proses mencari di cirebon. sebelumnya pernah coba, tapi di cirrbon blm nemu

sarapan, utk sulung dia diusahakan memyiapkan sendiri dan membereskan sendiri sarapannya. sambung mandi sholat dhuha dan menghafal ga perlu ket khusus ya, hafalan masih bersama saya

standar pagi ini diusahakan tetap dilakukan dimanapun kami berada maksudnya walaupun kami ke luar kota/liburan sedangkan jadwal belajar ya sesuai judulnya negotiable

jadwal harian hanya math sekarang ixl, masih campur MEP, Dulu pernah coba kayanya 2 lagi kok lupa namanya ya maaf
jadwal mingguan (saya urut dr senin)
-fiqih
-crafy project

-aqidah
-drawing

-science
-comic strip/story

-history
-craft

-adab
-menulis arab
sabtu minggu free

 

***
Dari Grup WhatsApp Sabumi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s