Diskusi · Parenting

Ihwal Mengajari Anak Membaca dan Pre-Reading Skills

1446559647512

Sharing dari Teh Ratih, member Sabumi 3, ibu homeschooler yang juga seorang psikolog.
22 Agustus 2015

***

Saya juga memfasilitasi kegiatan/games pre-reading, pre-writing & matematika tanpa diminta dl oleh favian (metode trivium/classical education).
Untuk kegiatan pre-reading misalnya bisa pake games seperti mencari harta karun (misal saya membuat kartu2 huruf trs favian diminta mencari kartu2 huruf yg disembunyikan di seluruh rumah dengan panduan peta “harta karun”).
Bisa dengan main “lompat huruf”, yaitu menyusun puzzle mate huruf kemudian saya menyebutkan huruf dan favian diminta loncat dengan satu kaki ke huruf yg disebut.Favian skr usia 6 tahun 11 bulan. Mulai full HS ketika usia 5 tahun 10 bulan. Sebelumnya dia pernah ikut TK, tp di TK pun dia nyaris ga pernah ikut kegiatan belajar di kelas. Lebih sering pretend play di luar kelas dengan 2 anak lain yg juga jarang masuk kelas, atau lihat2 buku di perpus.
Favian blm bisa baca kok.. Masih belajar membaca. Dia keliatan belum minat belajar baca. Jd masih kegiatan pre-reading aja. Mengenal hurufnya dengan main loncat huruf krn dia sukanya kegiatan motorik kasar.
Atau main pesawat, trs pesawatnya mendarat di huruf yg saya sebut. Kadang sambil main monopoli bisa sambil belajar baca (baca nama kota yg disinggahi) & berhitung (jumlahin angka di dadu & menghitung uang monopoli).
Kalo saya memang menunda dl favian belajar baca sampai semua pre-reading skill-nya dikuasai,
Pas di TK-nya diajarin baca IQRA, saya minta ke gurunya supaya favian ga usah diajarin baca dl krn blm ajeg bedain kanan & kiri. as di TK B pun kan bbrp bulan terakhir sblm kelulusan ada les belajar baca stlh plg sekolah dr TK-nya favian. Cuma favian aja yg ga ikutan les.
Setiap anak unik.. tp memang ada batasan umumnya juga sih ttg perkembangan kemampuan anak. Misal, merangkak secara umum bisa dilakukan anak usia 7-9 bulan. Kalo 10 bulan blm bisa merangkak, perlu diwaspadai.
Kalo anaknya pengen belajar baca (self-initiated) ga usah dilarang, kalo blm mau juga jangan dipaksa
Kalo mau ngajarin baca sebaiknya satu2. Huruf latin dl atau huruf hijaiyah dl. Jangan langsung keduanya krn yg latin bacanya dr kiri ke kanan, sedangkan hijaiyah dari kanan ke kiri. Kalau dibarengin bisa kacau. Secara umum, otak baru ajeg bedain kanan & kiri usia 7 tahun.
Anak2nya temen saya jadinya bisa nulis latin kek cermin.. dr kanan ke kiri. Krn kadang dia nulis latin, kadang hijaiyah, jd ketuker2.
Sebaiknya mengajarkan anak membaca usia 7 thn saat otaknya sudah matang. Apakah mau lebih dl mengenalkan iqra atau latin boleh saja asalkan satu2 dikenalkannya.
Anak saya sampai skr suka ketuker “b” dengan “d”. kalau ditanya mana kanan & kiri sih dia bs bedain.. pas robotik juga ga ketuker posisi kanan-kiri. tp membaca kan lebih abstrak.. jd gitu deh jadinya.

*

Pre-reading skill yg sebaiknya dikuasai sblm anak belajar membaca, yaitu:
1. Kemampuan mendengar yg akurat. Mampu membedakan bunyi2. Misal, anak bisa membedakan bunyi “m” dan “n”. Kemampuan mendengar ini menjadi dasar kemampuan mengucap. Sebaiknya jangan mengajarkan membaca jika anak masih cadel.
2. Konstansi persepsi bentuk. Misal anak bisa membedakan bentuk tiap huruf dan bisa melihat persamaan bentuk dr huruf yg sama. Bisa diawali dengan membedakan bentuk2 geometri. Anak harus bisa membedakan lingkaran dengan elips, persegi (bujur sangkar) dgn persegi panjang. Lalu kemudian bisa membedakan bentuk tiap huruf.
3. Mengetahui hubungan antara bentuk dan bunyi huruf.
4. Bisa membedakan arah kiri-kanan, atas-bawah. Misalnya biar bisa bedain “b” dan “d”, “p” dan “q”, “u” dan “n”.
5. Membiasakan anak melihat dr kiri ke kanan (kalo baca latin, sebaiknya diajarkan satu2).
6. Menghafal semua huruf. Huruf kapital lebih mudah dikenali/dihafal lebih dl drpd huruf kecil.
*
Berarti quran sebaiknya diajarkan lewat hafalan dulu daripada tulisannya ya?
Oh iya.. td nanya ttg tahfidz ya.. Menghafal qur’an (tahfidz) bisa dilakukan sedini mungkin dengan sering memperdengarkan hafalannya (boleh dr rekaman atau ibunya ibunya langsung). Semakin anak terbiasa mendengarkan bunyi suaranya, semakin familiar, maka semakin mudah dia belajar mengucapkannya. Saat dia sudah bisa mengucap dengan fasih, maka dia bisa mulai menghafal.
Semuanya tetep dilakukan dengan fun, tidak boleh dipaksa. Kalo anak blm minat, pembiasaan dl aja dengan sering diperdengarkan murattal. Buat anak tipe auditori akan lebih mudah menghafalnya kalo sering diperdengarkan.
Kalo favian dl pas 4 tahun diajarin iqra di TK jdinya bingung konteks/klasifikasi. Dia nanya kenapa huruf “I” (alif) bentuknya sama dengan “I” (huruf “i” latin). Makanya waktu itu saya minta guru TK-nya ga usah ajarin favian baca iqra dl biar favian ga bingung.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s