Diskusi · Multitema

Berdamai dengan Masa Lalu

1446364235059

🌼🌼🌼🌼🌼🌼

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Resume diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)

Tema : Berdamai dengan Masa Lalu

Hari/tanggal: Jumat/04 September 2015
Jam: 20.00-22.30 WIB

Narasumber: Ibu Sri Haryati
Ibu dua anak ini sehari-harinya merupakan ibu rumah tangga sekaligus pengelola flexi school bernama Hayat School: School of Creativity. Ibu Sri juga mendirikan School of Therapy dan sedang mengembangkan project life mapping.
Jika ingin bersilaturahim, bisa langsung berkunjung ke rumah beliau di Villa Pasirwangi Blok G No. 27 Ujung Berung, Bandung.
Moderator: Deviana
Notulen : Astri Pratiwi P.

Berdamai dengan masa lalu

Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga keberkahan Illahi melimpah untuk bunda-bunda hebat di grup sabumi. Tema hari ini tentang berdamai dengan masa lalu sengaja saya angkat, karena ternyata pengasuhan kita pada anak, peran kita sebagai ibu ternyata sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita dibesarkan, oleh siapa, dan apa saja yg mempengaruhi kita, rasa sakit hati kita pada orangtua, soal pilih kasih, kasus-kasus yang membuat kita gagal move on, sehingga tanpa disadari kita berperilaku seperti figur yang kita tidak inginkan. Ternyata. meskipun kita terus memperbaiki diri lewat kajian parenting, dalam prakteknya kita masih sangat sering meniru pola pengasuhan yang kita dapatkan dari lingkungan masa lalu kita. Jadi, pengasuhan kita pada anak hampir 80% berdasarkan masa lalu kita, dan 20% kita pungut secara sadar dari kajian-kajian parenting yg kita ikuti (masih banyak kurangnya).

Ada sebuah cerita:
Seorang ibu katakan bernama A, ibu muda yg baru memiliki 2 putra/i. Setelah 2 kali bertemu, ibu A terlihat sekali kerepotan mengurus 2 putra/i yg masih balita dan batita, si sulung tampak memaksa-maksa ibu A melakukan sesuatu, dan si kecil tampak rewel ingin digendong ibunya. Lalu, saya dekati dan saya tawarkan bantuan.
“Sini teh saya gendong si kecil,” kata saya, tampak sekali kelelahan di wajahnya.
“Oh iya teh, terima kasih,” sahutnya tersenyum sayu. Setelah beres mengurus yang sulung, ibu A mengambil si kecil dari gendongan saya, sambil terus mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Saya usap pundaknya agar beliau tenang, lalu saya hati2 bertanya, “Teteh kecapean ya?” Pertanyaan sederhana tapi entah mengapa sangat mengena di hatinya, tiba-tiba beliau menangis sambil berbisik lirih, “Saya bukan ibu yang baik teh, saya sakit.”
Di antara isaknya, akhirnya saya menawarkan bantuan dan momen untuk bertemu. Keesokan harinya, beliau mendatangi saya. Sengaja saya minta tanpa anak-anaknya. Ini curhat singkatnya.
“Saya sayang anak-anak saya, tapi entah kenapa saya selalu kesal, saya kesal sama mereka, saya pernah hampir kabur karena saya ga tahan, padahal saya tahu mereka ga salah, saya marah sama diri saya, saya ga tahu harus berbuat apa.”
“Teteh ada ibu/bapak?” tanya saya. “Ada teh, tapi saya dari SMP ga tinggal sama mereka, saya tinggal sama bibi saya.” (sepertinya pembajakan masa lalunya masih tinggi).

“Baiklah, coba kita buka gudang memorinya teteh, adakah momen-momen menyakitkan yg teteh alami sehingga teteh dibajak oleh emosi?”

Akhirnya mengalirlah cerita ketika ditinggal ibu/bapak, ketika menangis sendirian menghadapi dirinya, ketika mens pertama tanpa pendampingan, kemarahan karena ditinggal ibu/bapak, ketika melihat adik-adiknya bersama ibu/bapak, betapa inginnya dianggap anak yang baik dan tinggal bersama ibu bapaknya.

Dan ternyata kemarahan itu yang membajak emosinya sebagai ibu, tak punya figur dan sakit hati pada ibu/bapak masih menumpuk.

Bunda sekalian, sebagai ibu kita begitu mengutamakan kebahagiaan anak-anak kita, tapi mengapa ketika berada dalam keadaan tertekan, emosi kita masih tak terkendali, semua hal menyakitkan yang pernah kita alami dan tidak ingin kita lakukan, tak bisa kita tahan?

Mungkin saatnya kita berdamai dengan masa lalu kita, agar kita bisa move on.

Tanya-Jawab

1. Bunda A

Assalamu’alaikum.
Teh, saya juga termasuk orang yang punya masalah dengan masa lalu. Orangtua saya dua-duanya pekerja hebat. Walaupun saya sudah memaafkan dan memaklumi keadaan saya waktu kecil, tanpa saya sadari itu masih terbawa dalam pola asuh saya. Saya sering merasa “gagal” menjadi seorang ibu. Padahal saya tidak menentukan standar yang tinggi untuk keluarga kecil kami. Bagaimana cara mengatasinya? Bagaimana cara saya untuk bisa berdamai dengan masa lalu saya?
Jazakillah…

Jawab:
Bunda A yang baik, perasaan gagal pada diri kita adalah perasaan yg wajar pada tahap tertentu. Itu yang membuat kita “mawas diri” hingga kita jadi lebih berhati-hati dengan tindakan kita. Langkah-langkah yang bisa bunda lakukan, yaitu:
1. Coba evaluasi kondisi/situasi apa yang membuat bunda merasa gagal (pembajakan emosi), apakah lelah secara fisik karena pekerjaan, anak-anak sedang mencari perhatian, atau sedang ada masalah komunikasi dengan pasangan?
2. Berdiskusi/curcol dengan pasangan tentang apa yang kita rasakan (meskipun umumnya suami harus belajar peka terhadap perasaan istri :D)
3. Jika sudah pada tahap membahayakan diri sendiri/orang lain, terutama anak, sebaiknya bertemu dengan ahli yang bisa membantu me-release emosi.

2. Irma – Sabumi 3

Saya dibesarkan di keluarga home service. Semua disiapkan oleh ibu, termasuk ketika harus menghadapi masalah dan mengambil keputusan, saya serahkan ke ibu.
Secara psikologis, saya mengalami masalah berkali-kali. Saya sempat juga berkonsultasi dengan psikolog lebih kurang 6 bulan. Saya sering melarikan diri ke dunia khayal daripada hidup di dalam kenyataan.
Bagaimana cara saya berdamai dengan masa lalu? Sampai saat ini saya cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, menghindari masalah, dan cenderung cari aman.

Jawab:
Teh Irma yang hebat, subhanallah salut untuk Teh Irma yang sudah bisa “memberi judul” pada perasaan dan mampu mendeteksi efeknya. Anggaplah sekarang hati Teh Irma seperti tas yang paling baguus yang Teh Irma punya, tapi di tas itu ada sampah busuk, baju kotor, debu, tinta, dan segala macam noda. Apa yang harus Teh Irma lakukan?
1. Cleansing atau mencuci, nah proses mencuci ini butuh energi lebih (memberi sabun, mengucek, membilas, cuci lagi)
2. Selanjutnya adalah proses breaking the limit, mulai lagi percaya pada diri sendiri, melihat dan mendaftar hal positif pda diri sendiri, atau teteh bisa menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) pada diri sendiri. Ini saya lakukan dalam mendeskripsikan life mapping.
3. Petakan kembali visi-misi diri kita, tujuan hidup kita (masih bagian dari materi life mapping).

3. Bunda C

Saya ibu 2 anak usia 4,2 tahun dan 2 tahun, dua-duanya laki-laki. Saya sering baca artikel-artikel parenting, saya tau teori-teori dalam mendidik anak. Tapi sulit sekali saya praktekkan di kehidupan nyata. Saya sering ga bisa nahan emosi kalau anak-anak lagi bikin ulah yang “menggemaskan”. Saya sering membentak dan mengancam, tapi saya sangat menahan diri untuk tidak kontak fisik.
Saat mereka tidur, saya suka sedih, lalu saya cium dan peluk mereka. Saya berjanji ga bentak lagi. Tapi kenyataannya saya tetap bentak kalau marah.
Saya di rumah tanpa ART, kalau siang hanya bertiga dengan anak-anak. Mungkin karena saya lelah, bagaimana ya caranya untuk benar-benar insyaf ga bentak-bentak lagi, bukan hanya niat saja?
Oh iya, orangtua saya juga dulu mendidik dengan bentakan. Saya dan saudara-saudara sering menerima bentakan. Tapi dulu saya niat ga akan bentak anak-anak. Tapi malah jadi sama aja, hehehe…
Satu hal yang ga mau saya tiru, ibu saya pilih kasih dan suka membedakan sikap ke anak yang lebih disayang. Ini yang saya tanamkan di diri saya, ga akan membeda-bedakan anak-anak saya. Karena mereka darah daging saya yang keluar dari rahim saya. Saya suka ga habis pikir kenapa ada orangtua yang pilih kasih padahal sama-sama anak kandungnya. 

Jawab:
Bunda C yang dirahmati Allah, sepertinya belum release emosinya. Bunda bisa mencoba merefleksi perjalanan diri bunda, belajar mencari “kunci” di gudang hati bunda, mencari lagi momen-momen masa kecil/pengasuhan dan mengeluarkan emosi negatifnya. Akan sangat baik jika dibantu oleh orang lain yang lebih ahli, meluapkan emosi negatif di tempat yang tepat, karena pemicu yang bunda sebutkan tadi sangat berkaitan dengan perjalanan masa kecil yang dijalani.

Tanggapan:
Bun mencari kunci di gudang hati saya, maksudnya gimana ya? Saya ingat saat usia 12 tahun, saya sudah berpikir ingin segera dewasa dan menjauh dari keluarga. Saudara-saudara dan papa saya sangat sayang sama saya. Ini yang buat saya masih betah di rumah.
Ibu saya pernah marah karena saya ga cuci piring (sebelumnya saya emang tidak dibiasakan melakukan pekerjaan rumah). Kemarahan dan hukuman (tidak ditegur beberapa hari) sama dengan hukuman abang saya yang ketahuan merokok saat SMP. Di situ saya merasa sangat tidak mendapat keadilan.
Saya di rumah jadi pribadi yang diam, berbeda sekali dengan pribadi yang teman-teman saya kenal (mereka berpendapat, saya selalu ceria seperti tidak pernah punya masalah)
Hubungan dengan ibu membaik setelah saya pindah sekolah ke luar kota. Setahun lalu, saya baru tau dari ibu saya saat bercerita kepada temannya (saya ada di sana) kalau dulu ibu saya pernah mencoba untuk menggugurkan saya, karena merasa sudah banyak anak. Saya anak ke-6 dari 6 bersaudara. Alhamdulillah, saya kuat dan bisa lahir dengan sehat, selamat, ga ada cacat.
Apakah ini yang menyebabkan ibu saya membedakan saya? Saya harus gimana? Saya tipe yang sulit melupakanh sesuatu yang benar-benar kena di hati. Mohon arahannya, Bunda Sri. Nuhun.

Jawab:
Nah, mungkin ini salah satu kunci yang nanti akan membantu Bunda mengeluarkan kotoran-kotoran hati, perasaan terbuang, dan tidak dihiraukan itu perlu difasilitasi, tentunya dengan cara yang baik dan pada orang yg tepat. Proses cleansing, Bunda. Ayo, belajar berani untuk meng-cleansing diri. Perasaan terasing ini yang membuat Bunda terus-terusan berasumsi negatif dan marah pada ibu, orang lain, dan dunia. Jadinya, Bunda memandang dunia itu dengan pandangan negatif. Untuk mencari tahu apakah ibu membedakan Bunda, perlu dilakukan family counseling, meskipun mungkin akan berbenturan dengan sistem nilai di keluarga (bahwa orangtua tidak pernah salah). Maka kuncinya bukan dilupakan karena kalau dilupakan akan kasuat-suat (ingat lagi ingat lagi). Begitu, Bunda.. 

4. Bunda D

Assalamu’alaikum.
Langsung aja ya.. Saya dari keluarga broken home. Saya sering khawatir dan bahkan menghadapi ketakutan yang berlebihan terhadap masa depan pernikahan saya. Hal-hal kecil yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu sering menimbulkan perasaan takut dan khawatir tersebut. Di sisi lain, kalo lagi ‘normal’, saya yakin suami saya bisa terus menjaga keutuhan keluarga kami. Bagaimana caranya supaya saya bisa selalu ‘normal’ bahkan ketika bertemu dengan hal-hal kecil yang mengingatkan saya pada masa lalu?
Nuhun, Teh..

Jawab:
Bunda D yang salehah, pembajakan masa lalu bunda tentang keluarga broken home sepertinya masih dominan dan perlu di-release, jika sekarang Bunda ingin move on. Saya analogikan proses move on Bunda akan seperti ini, Bunda punya gelas berisi ampas kopi, sekarang Bunda mau menuangkan jus jeruk di gelas yang sama? Bagaimana cara Bunda menuangkan jus jeruk itu? Apakah menuangkannya di atas ampas kopi? Tentu tidak, jadi yang harus Bunda lakukan adalah membuang ampas, mencuci gelas dengan sabun pembersih, membilas, dan mengeringkannya, baru bunda bisa menuangkan jus jeruk. Nah, begitu juga dalam proses release dan lagi-lagi membutuhkan bantuan orang yang kompeten, Bunda.

5. Bunda E

Assalamu’alaikum.
Bunda, bagaimana cara berdamai dengan masa lalu?? Saya terkadang benci pada orangtua. Saya stres kalau ketemu orangtua, padahal ketemu tiap hari dan saya sering mengurung diri di kamar. Waktu SMA, saya sering pingsan karena stres, nangis ga jelas.
Orangtua saya otoriter, suka marah-marah, bahkan papa saya dulu jauh banget dari agama. Sampai sekarang, adik-adik saya malah ga sholat.
Saya hanya terbuka pada suami dan saya sama suami LDR.

Jawab:
Bunda E yg hebat, ayo Bunda, jangan biarkan kebencian menguasai diri Bunda. Keluarkan, Bunda! Cari orang yang bisa me-realease perasaan itu, karena perasaan itu membuat kita semakin membenci orangtua dan akhirnya membenci diri kita. Itu semua membuat Bunda gagal move on. Jangan sampai kita menjadi ibu yang juga dibenci oleh anak-anak kita karena tidak berani menyembuhkan diri. Butuh kekuatan mental untuk mendobrak keengganan kita menyembuhkan diri agar masa depan kita dan anak-anak kita selalu mesra. Jangan sampai kita memberikan keteladanan yang salah dalam emosi anak-anak kita.

6. Bunda F

Perlu ga kita menceritakan masa lalu kita dengan orangtua kepada pasangan? Termasuk juga sikap-sikap atau cara-cara mendidik orangtua yang dirasa kurang baik dan mempengaruhi pribadi kita saat ini. Apa peran pasangan dalam mendamaikan kita dengan masa lalu? Selama ini saya tertutup soal ini, karena khawatir suami berkurang respeknya sama orangtua saya.

Jawab:

Bunda F yang baik, komunikasi tentang latar belakang kita masing-masing, baik bunda maupun pasangan sangatlah diperlukan. Mengapa? Bukan untuk disrespect pada orangtua, tapi untuk mengambil hikmah dari kejadian masa lalu, belajar memetakan visi-misi keluarga yang diinginkan, komunikasi yang ingin dibangun, koneksi emosi yang ingin dijalin, bahkan hal ini perlu diungkapkan dalam proposal pernikahan. Peran pasangan adalah sebagai sahabat yang mengingatkan, suami yang menenangkan, istri yang menyejukkan, juga teman yang bersama-sama menghadapi pembajakan emosi. Ini karena perbedaan mendasar dari karakteristik laki-laki, terkadang mereka lebih memilih masa lalu pengasuhannya, tapi pola pengasuhan yang diterapkan sangat meng-copy apa yang didapat dahulu, sedangkan wanita, mudah mengingat-ingat pembajakan masa lalu dan sangat negatif menghadapinya.

7. Bunda G

Sebagian masa kecil saya dilalui dengan pola asuh nenek, karena saya tinggal bersama nenek. Saya sering merasa iri dengan teman-teman sebaya saya yang tinggal bersama orangtuanya. Saya merasa ada sesuatu yang selalu mereka dapat dan tidak saya dapat, padahal nenek juga sangat menyayangi saya.
Setelah dewasa, saya bertekad untuk selalu tinggal bersama-sama anak saya, agar yang saya alami dulu tidak dialami anak saya.
Jadinya sekarang saya selalu merasa terancam kalau ada pihak keluarga yang bilang mau bawa anak saya atau kalau kakek-neneknya bilang mau merawat anak saya dan ingin anak saya tinggal bersama mereka.
Saya merasa terancam, merasa akan ada sesuatu dari diri saya yang diambil. Karena saya tidak mau anak saya ke mana-mana. Saya maunya anak saya bersama saya… Kecuali kalau dia sudah dewasa nanti, sudah memilih jalan hidupnya.
Normalkah yang saya rasakan? Bagaimana meminimalkannya?
Makasih, Teh. 

Jawab:
Bunda G, tekad Bunda untuk menjaga anak itu baik, tapi tidak dengan ketakutan karena ancaman. Sepertinya saya harus bertanya ulang, kenapa ada keluarga yang bisa mengancam akan mengambil anak Bunda? Ketakutan ini juga akan sangat mempengaruhi koneksi Bunda dengan anak, Bunda akan menganggap anak Bunda seperti mainan yang paling disayang, bukan memperlakukan sebagai anak, betulkah demikian? Dan ini akan memiliki efek domino pada anak.

Tanggapan:
Pihak keluarga tidak secara langsung mengancam. Perkataan-perkataan itu sering keluar saat sedang ngobrol-ngobrol biasa, cuma sayanya aja yang jadi merasa terancam, jadi kepikiran… Duh, gimana kalau adek tinggal di sana, gak sama saya. Udah takut duluan gitu Teh, padahal belum tentu terjadi.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kenapa saya ingin anak saya sama saya aja. Salah satunya cara pandang pola asuh saya dengan pihak keluarga lain selalu ada perbedaan. Saya tidak senang dengan pola asuh yang kolot.
Maksudnya memperlakukan anak seperti mainan kesayangan apa?
Efek domino terhadap anak itu seperti apa?

Jawab:
Baik, menjawab pertanyaan lanjutan saya ingin bercerita satu kejadian di Hayat School. Minggu lalu ada seorang anak gifted dengan IQ 150 tapi bermasalah dengan emosi. Ia menyimpan seekor anak kucing di lokernya lengkap dengan susu dan ikan. Hingga pulang sekolah, kucing ini tidak dikeluarkan dari loker. Biasanya di jam terakhir saya dan fasilitator melakukan operasi semut ke kelas-kelas dan mendapati kucing ini di loker anak tersebut. Saya paham maksudnya, karena sayang anak kucing ini dikurung biar ga ke mana-mana, tapi tidak ada prikekucingan kan ya, Bunda, karena kucing ini makhluk hidup yang bebas lepas. Anak ini menyayangi kucing, dalam hal ini sebagai mainan, dengan penuh kasih sayang tapi jelas-jelas itu salah. Begitu juga kita, seringkali kita menyayangi anak-anak kita seperti mainan, menjaganya berlebihan, khawatir berlebihan, takut berlebihan, dan apapun yg berlebihan atau kurang itu tidak baik.
Efek dominonya, ketika kita berlebihan maka ada potensi anak yang tidak berkembang. Efek baliknya adalah justru anak menjadi tidak seperti orang yang kita harapkan, jika kita berlebihan atau kekurangan dalam memberikan kasih sayang.

8. Bunda H

Keluarga saya tampak baik-baik saja walaupun masyarakat tahu bahwa keluarga saya mempunyai masalah. Karena masalah tersebut, saya kemudian menyadari pola yang dulu saya alami sewaktu kecil malah saya ulang ke anak saya. Namun, inti permasalahan keluarga inti saya belum juga berakhir. Bagaimana merelakan masa lalu yang masalahnya masih ada hingga saat ini? Cara release emosinya bagaimana? Adakah terapinya?

Jawab:
Merelakan masa lalu itu tetap harus menelusuri satu demi satu, inci demi inci masa lalu kita, mengeluarkan emosi terdalam kita pada orang-orang yang ada dalam kehidupan kita. Tentunya harus dengan ahli biar tidak kebablasan. Ada berbagai metode yang bisa dilakukan bunda, seperti hipnosis, SEFT (spiritual emosional freedom teknik) dari Pak Faiz, lalu yang kemarin dilakukan Bu Yuli, yaitu DEPTH. Nah, itu semua adalah teknik-teknik percepatan untuk men-shortcut release emosi. Kalau saya sendiri mungkin lebih memilih gaya jalan-jalan di alam, menikmati perjalanan ke masa lalunya sedikit-sedikit, hehe.. 

9. Bunda I

Assalamu’alaikum Bu Sri.
Berbeda dengan ibu dan teteh yang lain, saya masih kesulitan menemukan jejak pengasuhan orangtua yang berdampak pada pengasuhan saya kepada anak saya sekarang. Kondisinya, saya seorang ibu dengan putri batita, masih tinggal serumah dengan mertua. Yang paling saya rasakan ‘mengganggu’ adalah pertama, saya agak mudah kesal bila anak tidak melakukan sesuatu sesuai dengan apa yaag kita minta (misal: sedang GTM dan menolak makan. Alhamdulillah tidak sampai membentak atau main tangan tapi nada bicara saya pasti berubah).
Yang kedua adalah rasa ketergantungan saya terhadap ibu saya yang sangat besar. Sekarang masih sering merasa berat harus tinggal jauh dari ibu.
Kira-kira penyebab paling umum untuk kondisi tersebut apa ya, Bu?
Bagaimana cara saya menemukan hal-hal ‘pembajakan’ lainnya dalam keseharian saya?
Hatur nuhun sateuacanna 

Jawab:
Coba teteh buat timeline kehidupan teteh per lima tahun, dari usia 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan seterusnya, lalu deskripsikan perjalanan pendidikan, pemikiran, impian, dan emosi teteh. Lalu, telusuri memori-memori bersama ibu apa? Bisa jadi kelekatan teteh bersama beliau tinggi, atau hubungannya benci-benci rindu gitu. Terus, telusuri juga memori emosi atau mental bersama ayah atau saudara. Nanti teteh akan sampai pada terminal-terminal emosi di timeline tersebut. Nanti bisa jadi di awal emosinya negatif yaa, justru dari negatif ini akan kita tarik ke positif.

10. Bunda J

Bun, apakah semua pola pengasuhan orangtua kita pada kita akan selalu kita ulangi pada anak-anak kita,meskipun kita sudah meyakini dan menyadari serta berjanji pada diri sendiri bahwa hal tersebut tidak akan kita lakukan pada anak-anak kita?

Jawab:
Pola asuh yang kita dapat itu menjadi pemikiran bawah sadar. Ini akan keluar manakala kita terstimulasi hal-hal dari luar diri kita yang menurut kita membahayakan. Lebih jelasnya, Bunda bisa lihat film Inside Out. Film itu sedikit banyak menjelaskan tentang pembajakan emosi. Nah, masalahnya pengasuhan itu kalau kata salah seorang pakar psikologi adalah tentang copy paste, kita meng-copy seluruh pola asuh yang dilakukan orangtua dengan segala keterbatasannya, dan ketika kita punya anak, di situlah proses paste terjadi. Jadi, perlu terus menghidupkan janji atau komitmen. Ini membutuhkan dukungan lingkungan dan afirmasi positif pada diri kita untuk terus merilis emosi negatif dan memunculkan positif.

11. Bunda K

Bunda, saya pernah mendapatkan statement dari dosen saya waktu mata kuliah psikologi bahwa anak yang memiliki masa lalu kurang baik atau kekerasan baik secara fisik atau psikis di waktu kecil maka kemungkinan besar dia akan melakukannya di kemudian hari tanpa dia sadari. Artinya, pengalaman waktu kecil yang menghantui tersebut secara tidak disadari telah masuk ke alam bawah sadar dia. Ada yang memang dia jadi berubah karena punya tekad yang kuat, tidak ingin terjadi lagi di masa depannya. Artinya, dia berubah ke arah sebaliknya dari yang dia alami. Ada pula yang memang terjebak pada pengalaman masa lalunya dengan ditunjukkan lewat perilaku yang cenderung menarik diri dari lingkungan sampai pada perilaku keputusasaan. Dan saya menemukan kedua kasus tersebut dalam satu keluarga.
Pertanyaan saya, langkah apa yang harus dilakukan pada kasus yang terjebak masa lalu tersebut? Artinya, dari orang-orang sekitarnya pun sudah mengusahakan tetapi tidak ada niatan kooperatif dari pribadinya untuk berubah atau untuk merujuk pada ahlinya sekalipun. Yang ada terus defensif yang cenderung mengarah pada perilaku keputusasaan.

Jawab:
Untuk menjawab pertanyaan ini sepertinya surrenderring (kepasrahan dirinya) belum ada, masih ada rasa sakit yang ditahan. Kalau gelas mah sangat-sangat fragile jadi tersentuh sedikit langsung pecah. Sesekali fighting spirit-nya perlu dibangunkan (shock therapy). You are not the only one who had this problem.

Sebagai tambahan bunda-bunda, kita bukan sedang menjelekkan pola asuh orangtua kita, tapi sedang mencoba men-trace hal-hal negatif agar bisa kita keluarkan dari hati kita dan kita isi dengan rasa syukur, pemakluman, pemaafan, dan pengertian, serta tekad untuk memperbaiki diri kita. 

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)

Part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s