Diskusi · Liqo Online

Kedudukan Wahyu (Alquran wa Sunnah) dari Akal

12188948_10207774244616433_2327667369933225359_n

Resume diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)

Tema : “Kedudukan Wahyu (Alquran wa Sunnah) dari Akal”
Hari/tanggal: Senin / 14 September 2015
Jam : 20.00 – Selesai
Narasumber: Abu Abbas
Moderator: Teh Thasya
Notulen : Teh Echie

💐 PROFIL :

Perkenalkan nama saya Beta Andri (Abu Abbas), saya PNS, saat ini bertugas di Pusdiklat KNPK dan mengajar akuntansi di STAN. Saya ayah dari 3 org anak: 11, 8 dan 4 thn.

💐 PEMBUKAAN

Dalam kesempatan ini saya akan membawakan tema Kedudukan Wahyu dalam Islam Sebelum menyampaikan materi, saya ingin menyampaikan bahwa saya bukan ustadz atau ahli ilmu. Saya seorang muslim biasa, sama seperti bapak dan ibu (atau ibu2 semua ya?) di grup ini.
Keinginan untuk berbagilah yang mendorong saya untuk memberanikan diri menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui seputar wahyu Allah subhaanahu wata’alaa kepada bapak dan ibu sekalian. Sehingga sangat mungkin dalam penyampaian ini ada kesalahan, saya mohon bapak ibu dapat memaklumi serta mengoreksinya.

Adapun, materi yang akan saya sampaikan, disusun dalam susunan sbb:

A. Apa itu wahyu?

Di antara definisi yang cukup mewakili adalah perkataan imam az-Zarqani rahimahullah: “Pemberitahuan Allâh kepada hamba pilihan-Nya akan semua perkara yang ingin Dia tunjukkan kepada hamba tersebut yang berupa hidayah dan ilmu, dengan cara rahasia dan tersembunyi, tidak biasa (terjadi) pada manusia.” [Manâhilul ‘Irfân, 1/63, karya az-Zarqani]

Meskipun ada beberapa definisi yang disebutkan Ulama tentang makna wahyu, walaupun dengan kalimat yang berbeda-beda namun hakekatnya sama.

Mengapa manusia butuh kepada Wahyu?
Tanpa wahyu, manusia akan terjatuh dalam kesesatan. Tidak ada yang dapat selamat dari hakikat kehidupan dunia ini kecuali dengan wahyu.

Bahkan Allah menyebut kondisi Nabi Muhammad sebelum mendapat wahyu adalah dalam kebingungan:
وَوَجَدَكَ ضَآلًّۭا فَهَدَىٰ
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. QS Ad-Dhuha: 7.

Sering dibaca kan ya ayatnya? Wa wajadaka dhollan fahada.

Maka tidak berlebihan jika kita sering mendengar bahwa turunnya wahyu dan diutusnya Rasul-Rasul adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat manusia, karena Ia tidak ingin kita hidup tanpa panduan.

Bahkan bentuk keadilan Allah adalah dengan menurunkan wahyu, yang dengannya Allah tegakkan hujjah bagi manusia sehingga Ia memberikan batas yang jelas siapa yang akan dirahmati-Nya dan siapa yang akan disiksa-Nya.

Tidak adil kalau manusia tidak diberi wahyu, sehingga manusia tidak tahu apa2 yang menyebabkan Allah senang atau murka, lalu nanti ada yg disiksa dan ada yg dirahmati.✅

B. Wahyu Allah sampai kepada kita melalui dua jalan: Quran dan Sunnah

Allah ta’alaa berfirman:
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [an-Nisâ`/4:113].

Allah Ta’âla juga berfirman:
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui”. [al-Ahzâb/33:34].

Ayat di atas mungkin sudah sering dengar.. nah ayat berikut juga tidak kalah menarik…
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi) apa yang diturunkan Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”.
Jadi istri2 Nabi diperintahkan Allah utk mengamalkan apa yg diturunkan Allah berupa Kitab dan Sunnah.
Ibu2 sholihah tentu mencontoh ummahatul mukminin.

Oleh karena itu, Al-Qur`ân dan as-Sunnah merupakan dua perkara yang saling menyatu, tidak terpisah, dua yang saling mencocoki, tidak bertentangan. Sehingga keduanya menjadi wasiat Nabi dalam hadits berikut…

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya” ✅

C. Kedudukan Akal dalam Islam

Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Hal itu dapat dilihat pada beberapa point berikut ini.

1. Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syari’at-Nya.
وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ
“Dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 43)

2. Akal merupakan syarat menerima taklif (beban syari’at) dari Allah Ta’ala. Hukum-hukum syari’at tidak berlaku bagi orang yang tidak memiliki akal.

3. Allah Ta’ala mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, semisal perkataan Allah pada penduduk neraka yang tidak mau menggunakan akal.

4. Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam Al Qur’an, yaitu untuk tadabbur dan tafakkur, seperti la’allakum tatafakkarun (mudah-mudahan kamu berfikir) atau afalaa ta’qilun (apakah kamu tidak berpikir).

Namun demikian akal tidak didesain untuk mengungguli wahyu.

Diantara bukti adanya titik lemah pada akal manusia, adalah adanya banyak hakekat yang tidak bisa dijelaskan olehnya, seperti: hakekat ruh, mimpi, jin, mukjizat, karamah, dan masih banyak lagi.

Belum lagi, seringnya kita dapati adanya perubahan pada hasil penelitian akal; misalnya dahulu manusia berkesimpulan dunia ini datar, lalu muncul teori bulat, lalu muncul teori lonjong.

Oleh karenanya, Islam memberi ruang khusus bagi akal, ia hanya boleh menganalisa sesuatu yang masih dalam batasan jangkauannya, ia tidak boleh melewati batasan tersebut, kecuali dengan petunjuk nash-nash yang diwahyukan.✅

D. Metodologi Memahami Wahyu

Akal dengan segala keterbatasannya, butuh sebuah metodologi untuk memahami wahyu.

Cara memahami al-Kitab dan as-Sunnah ialah dengan nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah itu sendiri. Karena yang paling mengetahui maksud suatu perkataan, hanyalah pemilik perkataan tersebut (Allah subhanaahu wa ta’alaa).

Para ulama menyebutkan kaidah di dalam memahami dan menafsirkan Alquran sebagai berikut:
👉🏼 Menafsirkan Alquran dengan Alquran
👉🏼 Menafsirkan Alquran dengan as-Sunnah
👉🏼 Menafsirkan Alquran dengan perkataan-perkataan para sahabat
👉🏼 Menafsirkan Alquran dengan perkataan-perkataan para tabi’in
👉🏼 Menafsirkan Alquran dengan bahasa Alquran dan as-Sunnah, atau keumumam bahasa Arab

Al-Hafizh Ibnu Katsir menyatakan, jalan yang paling benar dalam menafsirkan Al Quran ialah (dikutip dengan maknanya, agar singkat):

1. Alquran ditafsirkan dengan Alquran. Karena apa yang disebutkan oleh Alquran secara global di satu tempat, terkadang telah dijelaskan pula dalam Alquran secara luas di tempat yang lain.

2. Jika kita tidak mendapatkan penjelasan ayat dari ayat lainnya, maka wajib merujuk kepada as-Sunnah, karena ia merupakan penjelas bagi Alquran.

3. Jika tidak mendapatkan tafsir di dalam Alquran dan as-Sunnah, dalam hal ini kita merujuk kepada perkataan para sahabat.
Kenapa kok merujuk ke sahabat?

(1) Mereka lebih mengetahui tentang hal itu, karena mereka menyaksikan turunnya wahyu dan yang menjadi penyebab turunnya.
(2) Karena Rasulullah bersama mereka ketika Alquran turun, sehingga para sahabat dapat menanyakan ayat-ayat yang susah difahami.
(3) karena para sahabat memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang benar, dan amal yang shalih. Ingat, di antara mereka, banyak yang mendapat doa Nabi secara langsung, misalnya Abdullah bin Abbas didoakan Nabi untuk memahami Alquran, Saad bin Abi Waqqash didoakan panah dan doanya akan selalu tepat sasaran, dll.

Kalimat berikut dikutip utuh dari Ibnu Katsir: “Adapun menafsirkan Alquran semata-mata hanya dengan pikiran (akal), maka (hukumnya) haram.” (Tafsir al-Qur`anul Azhim, Muqaddimah, 4-5).

4. Jika tidak mendapatkan tafsir dari para sahabat, maka dalam hal ini banyak para imam merujuk kepada perkataan-perkataan tabi’in. Karena mereka murid langsung para sahabat. Namun, perkataan-perkataan tabi’in bukanlah hujjah (apalagi dalam hal yang mereka berselisih), namun jika mereka sepakat terhadap sesuatu, maka tidak diragukan bahwa itu merupakan hujjah.

Adakah Wahyu yang bertentangan?
Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ لْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ للَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ خْتِلَٰفًۭا كَثِيرًۭا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Jika sumber Alquran dan Sunnah adalah kembali kepada Allah, tentu kita tidak akan menemukan kandungan yang bertentangan di dalamnya, baik antara ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, maupun hadits dengan hadits.

Meski ada ayat-ayat atau hadis-hadis yang dianggap bertentangan oleh sebagian orang, namun hal itu hanyalah persangkaan. Para ulama sudah mendudukan nash-nash tersebut pada tempatnya, sehingga tidak lagi bertentangan.

Misal:
Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia berkata, “Sesungguhnya, ibuku bernazar akan berhaji, tetapi dia belum berhaji sampai dia meninggal. Apakah aku (dapat) menghajikannya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu, jika ibumu menanggung utang, apakah engkau (dapat) membayar? Bayarlah (utang) kepada Allah, karena Allah lebih berhak terhadap pemenuhan (utang).” (H.R. Bukhari, no. 1852)

Apakah hadits di atas bertentangan dengan Quran:
“Dan sesungguhnya, seorang manusia hanya mendapatkan hasil yang telah diusahakannya.” (Q.S. An Najm:39)

Maka ulama telah menjelaskan dengan hadits berikut:
Dari Aisyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Anak seseorang itu termasuk jerih payah orang tersebut bahkan termasuk jerih payahnya yang paling bernilai, maka makanlah sebagian harta anak.” (HR. Abu Daud, no.3529 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)
Karena mendidik anak termasuk jerih payah orang tua, maka amal yang dilakukan anak akan diganjar seperti amal yang diusahakan orang tua.✅✅

💐 TANYA JAWAB

1⃣ Bagaimana kedudukan akal dlm pandangan islam yg digunakan utk riset sains misalnya riset terjadinya pembuahan dalam rahim manusia, yang dimulai dr perjalanan sperma? Bukankah ada batasan meneliti yg medianya adalah aurat? Bagaimana islam menjelaskan batasan2 penggunaan akal dlm sains tersebut sebagai bentuk syariat, adab ataukah ada pengecualian yg artinya diperbolehkan?

Kiki_SABUMI 1

Pertanyaan pertama jawabannya saya tidak tahu bu. Nanti ditanyakan ke ustadz yang asli ya.. 😊

2⃣ Ustadz, kebanyakan dikalangan masyarakat sy temukan posisi kedudukan tsb. Justru terbalik yah.. trutama di darrah pedalaman yg sgt kental pengultusan thd ulama. Taklid yg berlbihan. inipun sy rasakan di daerah sndiri. Ktika ad satu permasalhan. Sy coba luruakan berdasrkan ayat alquran serta hadist bahkan perkataan ulama sekaliber imam syafii. Ttpi penerimaan mrka ttp patokannya pd ulama kampung yg sdh mentradisi. Seolah2 ktk kita mau mnjelaskan.mrk sdh pasang badan dluan. Dan ini sy lihat hampir sama polanya di bbrpa daerah pedalamn lainnya.
Pertanyaan. : bagaimana memahamkan yg baik pada mrka yg masih sgt kuat mengikuti perkataan ulama walupun kita tahu itu sdh kluar dr alquran assunah bahkan ijtihad pr ulama tnpa mnyinggung mrka?
No Name_Bandung

Merubah orang lain itu bukan perkara mudah, mirip2 juga dengan merubah diri sendiri. Sependek pengeta
huan saya, umat Islam itu tugasnya menyampaikan. Bukan memaksakan. Maka, dengan menyampaikan apa yang lebih dekat pada kebenaran, mudah2an menjadi nasihat bagi kita dan saudara2 kita. Apalagi kalau kita benar2 mengetahui ilmunya.
Bisa jadi dengan penyampaian kita, saudara2 kita tsb belum mau menerima. Tetapi, anak cucunya, tetangganya, orang2 di sekitarnya, bisa jadi mendapat ilmu dan hidayah dengan perantara apa yang kita sampaikan tsb. Tentu mengutamakan akhlak yang baik, lebih utama dalam hal ini. Ada siyasahnya juga, misal kalau sampai ada gesekan, dst. ✅

3⃣ Mohon penjelasan ttg munculnya khilafiyah, dan sikap terbaik dlm menghadapi hal itu ustadz. Jazakallah khayran.

Hamba Allah_SABUMI 1

Khilafiyah ada dua.
Khilafiyah antara yg haq dgn yang bathil, maka wajib bagi kita berpegang pada yg haq.
Adapun khilafiyah dalamhal yang memang diperselisihkan para ulama ahlus sunnah, maka sikap kita adalah berlapang dada menerima perbedaan. Ada kitab Mafatihul Fiqh karya Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman yang me-list khilaf2 dalam Islam.
Seperti Qunut Shubuh termasuk khilaf. Dan inilah indahnya Islam, spt perkataan para ulama: Orang yang belum mengetahui perbedaan (pendapat ulama’), berarti hidungnya belum mencium baunya ilmu fiqih.
Dan ini betul2 menjadi dasar sikap kritis dalam Islam. Kritis dalam Islam indah betul. karena kritis dalam penghormatan dan kasih sayang. Ada murid berbeda pendapat dengan guru, tapi tetap hormat dan santun. Dan ini banyak banget dalam Islam..

4⃣ Bagaimana dengan metode dakwah ulama tradisional terdahulu yg mengajak sebanyak mungkin jamaah untuk mencintai qur’an melalui ‘yasinan’, mencintai rasul melalui ‘barzanjie’, dll ?
Saya mendapati bahwa meskipun mungkin hal tersebut termasuk bid’ah, tapi hal tersebut saya anggap termasuk bid’ah yg hasanah, karena dapat membuat masy awam lebih mencintai majelis qur’an.
Bagaimana menurut ustadz?

Hamba Allah_Bandung

Maaf kalau sedikit provokatif. Indikator yg lebih tepat dalam mengukur kecintaan kepada Nabi adalah dengan mengikuti petunjuknya, maka kita akan mendapati kaum yang paling cinta pada Nabi adalah para sahabat. Mereka telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan Islam dengan mengorbankan nyawa, harta, tenaga, pikiran, utk mempertahankan Islam. Sebegitu terujinya cinta mereka pada Islam, sampai2 Allah mengganjar kecintaan mereka dengan sebutan rodhiyallahu anhum, tidak ada gelar yg lebih tinggi bagi manusia selain gelar tsb. Maka alangkah baiknya kalau kita mengikuti cara2 yang sudah ‘terbukti diterima Allah’ tersebut dalam mencapai kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.✅

5⃣ Seorang ustadz pernah menyampaikan, bahwa bab fiqh itu furu’iyah, sehingga terbuka celah ikhtilaf/khilafiyah, dan itu sah2 saja karena rasul pun memang mencontohkan dgn sangat beragam (co:iftitah saja contoh dari rasul ada lebih dari 5, dgn riwayat shahih).
Berbeda dgn bab aqidah yg saklek.
Lantas bgmn cara terbaik utk kita memilih mana yg diikuti tadz?

No Name_Bumi Allah

Khilafiyah berbeda dengan variasi amal Nabi.
Khilafiyah itu bertentangan, sedangkan variasi itu belum tentu bertentangan.
Jawaban utk pertanyaan ini secara singkat cukup satu kata: ilmu.
Dengan menuntut ilmu kita akan tahu mana pendapat yang lebih rajih (lebih dekat kepada kebenaran).
Dalam materi di atas sudah ada sedikit menyinggung panduannya: metodologi memahami dalil. Salah satu cara termudahnya adalah kita melihat amalnya para sahabat Nabi, mereka pakai pendapat yang mana. Mengikuti pendapat para shahabat jauh lebih selamat.✅

💐PENUTUP

Rangkuman atas materi hari ini adalah:
1. Wahyu adalah pengabaran syariat dari Allah subhaanahu wa ta’alaa kepada manusia mengenai semua perkara yang ingin Dia tunjukkan kepada hamba tersebut yang berupa hidayah dan ilmu, sehingga manusia tidak jatuh dalam kemurkaan Allah.
2. Wahyu adalah pilihan terbaik Allah atas jalan hidup kita.
3. Quran dan Sunnah bersumber dari Allah.
4. Akal memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, dan digunakan untuk memahami wahyu.
5. Metodologi Memahami Wahyu telah diajarkan oleh Rasul, sahabat dan para ulama, yakni: quran, hadits, atsar sahabat, atsar tabiin, makna secara bahasa.
6. Tidak ada wahyu yang bertentangan, karena berasal dari sumber yang sama.
Sampai di sini dulu kebersamaan kita malam ini, mohon maaf atas segala kesalahan. Yang benar datang dari Allah, sedangkan yang salah dari diri saya dan syaithan.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅🔆hsmn🔆🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥facebook.com/hsmuslimnusantara
👥FB: HSMuslimNusantara pusat
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n
🌐 web: hsmuslimnusantara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s