Diskusi · Liqo Online

Liqo Online: Optimalisasi Peran Ibu

1446339653925

Resume diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)

Tema: Optimalisasi Peran Ibu
Hari/Tanggal: Kamis, 08 Oktober 2015
Jam : 20.00 – 22.00 WIB
Narasumber: Ganjar Kamaludin
Beliau sudah menikah dan dikaruniai 3 orang anak. Profesi beliau saat ini adalah berniaga. Motto hidup:
Berjuanglah wahai jiwa dengan sukarela atau harus aku paksa.
Moderator: Amy Pradja
Notulen: Nurhelmi

IBU TANGGUH, ARSITEK GENERASI UNGGUL

Wanita adalah tiang negara. Ungkapan ini demikian akrab dalam ingatan kita, sehingga saking akrabnya, kita terkadang lupa untuk mengingat kedalaman makna yang dikandungnya.

Sebagaimana layaknya sebuah tiang, wanita diibaratkan sebagai penyangga bagi tegaknya sebuah masyarakat/negara. Ini berarti keberadaan kaum wanita baik dan buruknya, sangat menentukan eksis tidaknya sebuah masyarakat atau negara, mengingat bahwa wanita, terutama dalam kedudukannya sebagai ibu berperan sangat penting dalam membentuk dan membangun sosok suatu generasi. Wajar jika dalam pandangan Islam, sosok Ibu diposisikan sebagai figur sentral pendidikan dengan menjadikannya sebagai madrasah pertama (madrâsat al-ûlâ) bagi anak.
🌼Generasi Ideal Cerminan Ibu Ideal

Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam masa dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam. Sehingga dengan ghirah yang demikian, umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi “khoiru ummah” yang memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mereka, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga belasan abad lamanya.

Keberadaan generasi yang demikian sekaligus menunjukkan keberhasilan para ibu terdahulu dalam mendidik anak-anak mereka, hingga mereka benar-benar menjadi generasi rabbani yang unggul, yang mengerti tentang arti dan hakekat hidup, makna kebahagiaan hakiki dan semangat pengabdian pada Islam. Hal ini niscaya, mengingat dalam sosok para ibu terdahulu juga tertanam keyakinan yang kuat, bahwa anak adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Yakni di hari dimana semua amal perbuatan manusia, baik dan buruk, akan ditampakkan dan dihisab untuk kemudian diberi balasan yang setimpal. Para ibu ini juga mengerti, bahwa tidak ada satupun yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki pada anak-anak mereka selain iman dan ketaqwaan. Sehingga tak ada harta yang mereka wariskan kepada anak-anak mereka, selain keimanan yang kuat, kecintaan akan ilmu dan amal saleh serta semangat berkorban demi kemuliaan umat dan Islam semata. Sampai-sampai tak jarang kita dapati kenyataan, bagaimana para ibu di masa itu rela melepas anak-anak kesayangan mereka untuk menjemput maut atau meraih kemuliaan yang mungkin diperoleh di medan-medan jihad fi sabilillah.
🌼Bagaimana dengan Sekarang?

Jika kita refleksikan ke masa sekarang, keprihatinanlah yang justru muncul. Bagaimana tidak? Saat ini kita tidak bisa lagi menemukan gambaran generasi rabbani dalam wadah masyarakat yang Islami. Yang ada justru masyarakat “tanpa bentuk” dengan anak-anak yang mayoritas terdidik oleh para ibu yang hedonis dan materialistis. Yakni para ibu, yang sekalipun tak sedikit dari mereka sempat mengenyam pendidikan tinggi, tapi tak cukup cerdas untuk mengerti makna hidup dan tujuan sesungguhnya dari keberadaan mereka di dunia ini. Mereka juga tak mampu memahami apa yang dipahami para ibu terdahulu, bahwa anak adalah amanah yang harus mereka didik sesuai dengan kehendak pemberi amanah, yakni Allah SWT sebagai al-Khaliq al-Mudabbir. Yang justru mereka pahami hanyalah, bahwa anak adalah semata aset ekonomi yang harus mereka didik demi dan untuk tujuan-tujuan materi, hingga tak sedikit dari mereka yang dengan ringan hati menyerahkan peran dan tanggung jawab keibuannya kepada orang lain, pembantu rumah tangga, lembaga-lembaga pendidikan, bahkan televisi!

Dari sini nampak, betapa para ibu kita, sebagaimana gambaran masyarakat kaum muslim pada umumnya, lebih suka mengadopsi pemikiran-pemikiran yang bersumber dari paham kapitalis sekuler daripada menjadikan Islam sebagai standar berpikir dan berperilaku. Dan hal ini diperparah oleh fakta, bahwa sistem hidup yang mengungkung kaum muslimin saat ini adalah sistem hidup kapitalistik yang sama sekali tidak Islami, yang menyandarkan pengaturan hidupnya pada akal manusia yang serba lemah dan terbatas.

Dengan kondisi yang demikian, wajar jika kepribadian generasi muda Islam saat ini pun cenderung menjadi sangat rancu dan jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka bahkan tersibghah gaya hidup serba permisif/bebas yang lahir akibat proses sekularisasi pemikiran dan sekularisasi gaya hidup yang berjalan secara perlahan melalui berbagai cara dan bentuk. Wajar pula jika mereka tumbuh menjadi generasi yang berkepribadian ganda, ambivalen dan lebih suka menjadi pengekor dan pembebek daripada berusaha bangkit berjuang untuk kembali memimpin umat-umat lain di dunia.

Sebagian dari mereka bahkan lebih akrab dengan alkohol, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas. Mereka menganggap bahwa gaya hidup seperti itu merupakan ekspresi kehidupan modern yang harus mereka tiru dan mereka junjung tinggi. Padahal dengan cara ini mereka justru sedang menunjukkan karakter inferior mereka di hadapan kaum kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa saat ini, mereka sedang terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh musuh-musuh Islam yang tidak pernah menghendaki agar Islam tegak kembali di tengah-tengah kancah politik dunia.

Dengan kata lain, kondisi ini sekaligus menunjukkan, bahwa untuk dan hingga saat ini, kaum kafir telah cukup banyak menuai hasil dari skenario jahat (makar) mereka dalam upaya menjauhkan kaum muslimin (terutama anak-anak dan generasi muda) dari aqidah Islam dan aturan-aturannya yang sempurna. Salah satunya adalah dengan menggiring para muslimah ke kancah kehidupan materialistis dan individualis seperti yang gencar diserukan oleh para feminis melalui ide-ide emansipasi dan ide kesetaraan dan keadilan gender (KKG). Dan hasilnya, banyak di antara muslimah yang terkecoh, sehingga mereka lebih suka menanggalkan kebanggaan menjadi seorang ibu, daripada harus kehilangan kesempatan untuk meraih karir yang setinggi-tingginya. Peran ibu, kini dianggap tak lagi menjanjikan dan menjadi simbol kemuliaan seorang wanita, melainkan justru menjadi simbol keterbelakangan, keterkungkungan dan keterjajahan para wanita oleh pria. Akibatnya, anak-anak yang mereka lahirkan pun tumbuh tanpa asuhan dan didikan, sehingga sebagian besar dari mereka tak lebih dari anak-anak tanpa masa depan, yang tidak bermanfaat, meski bagi dirinya sendiri sekalipun! Lantas, bagaimana mungkin kita gantungkan harapan masa depan umat pada pundak-pundak yang rapuh seperti ini?

🌼Pentingnya Mengoptimalkan Peran Ibu

Menghadapi kondisi buruk yang terjadi, kita diperintah untuk tidak berpasrah diri. Laa yughoyyiru maa bi qoumin hattaa yughoyyiru maa bi anfusihim. Apalagi masa depan umat ini mau tidak mau menjadi salah satu tanggung jawab kita, termasuk upaya untuk mengembalikan kemuliaan umat dengan membangun kembali sosok generasi mumpuni sebagaimana generasi-generasi terdahulu. Caranya tidak lain dengan membimbing dan membina para ibu umat saat ini agar juga memiliki kualitas sebagaimana para ibu terdahulu. Tentu saja hanya dengan merujuk pada standar Islam.

Islam, sebagai din yang lengkap dan sempurna telah menempatkan sosok ibu dalam posisi yang sangat tinggi dan tidak kalah penting dari peran kaum pria. Bahkan fungsi ibu, bukan hanya bersifat BIOLOGIS, melainkan juga bersifat STRATEGIS dan POLITIS. Oleh karenanya, Islam juga menuntut agar para wanita benar-benar menjalankan fungsi keibuan ini dengan sebaik-baiknya dan optimal. Sehingga, sekalipun Islam mengatur tugas dan peran kaum wanita sebagai anggota masyarakat, namun tugas dan peran tersebut tidak boleh mengalahkan peran dan fungsi utamanya sebagai ummun wa rabbat al-bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Banyak nash yang bisa kita renungkan mengenai hal ini, antara lain:

Tatkala Asma’ ra bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mengutamakan laki-laki dari wanita, maka kami mengimanimu dan mengikutimu. Dan kami para wanita serba terbatas dan kurang (dalam amaliyah). Tugas kami hanyalah menjaga rumah dan melayani laki-laki. Kami mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan berjamaah, menyaksikan mayat, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami menjaga mereka dan memelihara anak mereka. Apakah kami dapat menyamai mereka dalam pahala, wahai Rasulullah?”. Lalu Rasul SAW bersabda: “Pernahkah kalian mendengar dari wanita pertanyaan yang lebih baik dari pertanyaan ini? Kalau semua itu kalian lakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang didapatkan suami-suami kalian”.

Kemudian diterima dari Aisyah ra, dia berkata: “Seorang perempuan menemuiku. Ia membawa dua anak perempuan. Aku memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu wanita itu memberikan dua butir kurma kepada anaknya, dan bermaksud untuk memakan sisanya. Akan tetapi kedua anaknya berusaha merebutnya, sehingga kurma tadi jatuh dari tangannya. Akhirnya perempuan itu tidak makan satu butirpun. Aku terpesona dengan perilaku perempuan itu, dan menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW.
Beliau bersabda: “Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka.” (HR. Bukhari-Muslim dan Turmudzi)

Merujuk pada beberapa nash dan sekian banyak teladan yang ditunjukkan dalam peri hidup para shahabiyat ra., setidaknya dapat diungkap beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh setiap ibu sehingga bisa mengoptimalkan peran dan fungsinya dalam mempersiapkan generasi unggul, antara lain:

1). Memiliki ketaqwaan yang tinggi yang dimanifestasikan dalam pola pikir dan pola sikap yang senantiasa bersandar pada Islam. Dengan demikian, figur ibu tampil sebagai qudwah bagi anak-anak mereka, yakni dengan mewariskan ketaqwaan yang mereka miliki ini melalui proses pengasuhan dan pendidikan sesuai tuntunan syariat.

2). Memiliki sifat penyayang, karena kasih sayang ibu merupakan jaminan awal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dan aman. Ibu penyayang akan memelihara anaknya dengan curahan kasih sayang sejak dalam kandungan hingga anak mampu mandiri, memiliki karakter penyayang, penuh empati dan bertanggung jawab, dimana karakter-karakter seperti ini mutlak dimiliki calon-calon pemimpin masa depan.

3). Memiliki tutur bahasa yang baik(halus, fasih, dan baligh), dimana ketika kita ingin menanamkan kecintaan anak kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tentu tidak bisa dilakukan dengan bahasa yang kasar atau kabur, melainkan harus dengan bahasa yang halus, lembut, dan jelas (baligh). Selain itu, dalam menyampaikan ajaran Islam yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang notabene berbahasa Arab, maka seorang ibu selayaknya menguasai bahasa Al-Qur’an ini.

4). Memiliki kepekaan (ihsas) yang tinggi terhadap lingkungan. Hal ini mengingat, lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap tumbuh kembang anak. Sehingga setiap ibu harus bisa memastikan anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang baik dengan cara terlibat aktif dalam upaya mengubah suasana lingkungan yang buruk menuju kehidupan yang Islami.

5). Memiliki wawasan (keilmuan) yang luas, terutama yang berkaitan dengan target pendidikan anak, perkembangan kondisi anak, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan atas anak (yang sekaligus menjadi hak anak), dan sebagainya, termasuk ilmu-ilmu dan pengetahuan yang akan menjadi bekal anak mengarungi kancah kehidupan (cerdas politik). Hal-hal inilah yang akan membantu terpenuhinya hak anak secara kualitatif dan kuantitatif, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang ke arah yang ideal, terutama dalam kepribadiannya sebagai calon pemimpin masa depan.

6). Memiliki rasa pengorbanan yang tinggi, mengingat peran ibu lebih dominan ‘memberi’ daripada ‘menerima’. Dengan demikian, jika tumbuhnya rasa pengorbanan ini semata-mata karena ingin menggapai ‘ridha Allah’, maka hak-hak anak tetap akan terpenuhi secara pasti bagaimanapun kondisi ibunya. Manakala (misalnya) seorang ibu menghadapi dua pilihan antara yang wajib (tugas utamanya) dan yang mubah (pekerjaan lainnya), maka tentu si ibu akan memilih yang wajib karena adanya dorongan ketaqwaannya kepada Allah SWT dan demi masa depan anak yang diharapkan. Lebih dari itu, generasi masa depan yang ingin diwujudkan adalah generasi yang jiwa pengorbanannya tinggi untuk memperjuangkan ketinggian dan kemuliaan umat dan Islam. Oleh karena itu, sudah pasti mereka membutuhkan para pembina yang membina mereka ke arah sana. Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat sebagai pembina mereka sejak dini.

Selama ibu masih tidak memahami pendidikan anak akibat para ibu terdidik dengan pendidikan sekuler, selama itu pula generasi unggul tidak akan lahir. Bangsa kita akan terus terpuruk tidak mampu bangkit. Tugas pemerintah adalah menerapkan aturan/sistem hidup yang menjamin terlaksananya peran keibuan secara sempurna, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan keamanan, termasuk sistem pendidikan yang mampu mendidik calon-calon ibu tangguh berkualitas di masa depan.

Di sinilah pentingnya kita merenung, apakah masih tersisa ghirah dan tanggung jawab kita akan masa depan Islam dan kaum muslimin? Jika ya, maka sepatutnyalah kita pertanyakan tentang peran kita dalam mengubah keadaan ini. Apakah kita akan berbuat sesuatu, atau memilih diam dan bertindak sebagai penonton, hanya karena kita berhitung, bahwa pengorbanan yang dituntut terlalu banyak? Jika demikian halnya, barangkali cukup jika hawa nafsu dan kebebalan akal kita ini ditundukkan dengan satu peringatan saja, bahwa siapapun kita, suatu saat akan dikembalikan kepada Allah Azza wa Jalla, bersama seluruh catatan amal yang kita lakukan selama kita hidup di bumi milik-Nya.

Pada akhirnya, semoga para muslimah kembali menyadari akan besarnya tanggung jawab mereka terhadap masa depan Islam dan kaum muslimin, sehingga mereka akan terpacu untuk berlomba meraih kembali kemuliaan sebagaimana para ibu di masa Islam terdahulu, yakni dengan membina diri mereka dan masyarakat dengan pemikiran-pemikiran Islam dan membentuk pola sikap mereka dengan aturan-aturan Islam. Dengan demikian, mereka akan siap menjadi pendidik dan pencetak generasi mumpuni yang akan membawa umat ini kepada kebangkitan Islam yg hakiki seperti yang dicita-citakan. Insya Allah.
============================

Tanya Jawab:
(1). Ustadz, ane mulai jarang ibadah di awal waktu, karena bocah lagi bener-bener cari perhatian. Suka sedih aja, tapi ga juga nyalahin bocah tadz,
Gimana cara biar ibadah masih bisa di awal waktu? Ane ngerasain makin sempit aja waktu. Kadang suka ‘iri’ liat suami lebih lama dan khusyuk ibadahnye.Saya mau jadi ibu peradaban…

Jawab:
Betul Teh..
Salah satu bentuk “pengorbanan” ibu adalah mempersiapkan suaminya untuk bisa beribadah tepat waktu ke masjid di waktu shalat utama seperti subuh, maghrib, dan isya.
Dapet pahala ga?
Insyaa Allah ada bagiannya.
Terus bagaimana dengan ibadah pribadi? Ya setiap saat kita ada prioritas masing-masing, memang mungkin anak yang sedang mengASI, tidak bisa kita hentikan paksa tapi untuk yang lebih besar mungkin bisa dikondisikan sebelumnya dan ajak untuk mempersiapkan ibadah bersama.
Tidak ada yang tidak mungkin dengan mujahadah dan doa.
Selain itu, Allah juga akan sediakan waktu lain dan tempat lain yang mustajab. Coba mungkin mindset juga diubah, jangan susah susah susah.
Tapi, coba cari di waktu yang mana saya bisa khusyuk berdua dengan Allah?
Sepertiga malam sebelum suami dan anak-anak bangun mungkin.
Istri yang rajin shalat malam itu akan menjadi sumber kekuatan bagi seisi rumah.
Dan urusan domestik pinter-pinter kita. kalau misalnya cita-cita kuat, insyaa Allah ada energinya.
Selain itu, komunikasi dengan suami juga anak bisa dilakukan untuk meringankan atau paling tidak membantu tugas-tugas rumah.
Di awal perlu ditanamkan bahwa prioritas di rumah kita apa, jika ibadah, maka semua harus mau bersinergi agar yang lain kebagian waktu utama. Nilai utama dan mungkin yang harus jadi catatan, repotnya kita mengurus anak dan rumah ini jangan dijadikan beban. Tapi jadikan tanaman yang suatu saat akan kita petik berupa sebuah perjuangan.
Yang namanya berjuang ga ada yang mudah ya Bu..
Kalo menyenangkan dan mudah dilakukan tidak ada yg namanya unggulan.
Yang diminta sama Allah itu effort-nya. Sejauh mana upaya kita menjadi sebaik-baik hamba. Dan pakpikpek ini tidak selamanya. Ada kalanya kondusif. Ada kalanya sangat melelahkan tapi jika disertai niat karena ingin mengupayakan yang terbaik insyaa Allah ada jalan.
Masing-masing harus punya juga buku biografi shahabiyah dan bagaimana mereka mendidik putra putrinya.
Bagaimana ibu Imam Syafi’i berkorban dan Asma’ binti Abu Bakar mendidik Abdullah bin Zubbair.
Sesungguhnya telah ada pada mereka sebaik-baik contoh.
————————————————————-
(2). Assalamu’alaikum ustadz…
Saya baca materi pendahuluannya, disana ditulis peran ibu sebagai peran politis. Boleh dijelaskan apa itu?

Jawab:
Wa’alaykummussalam warohmatullahi wabarokaatuh Teh.
Maksudnya kita bukan cuma memberi makan lalu memberi pakaian pada anak. Tapi kenalkan anak dengan medan perjuangan. Didik jiwa mereka untuk mencintai jihad sebagaimana yang lain mencintai kehidupan.
Ceritakan bagaimana Islam pernah menjadi ustadziatul a’lam menjadi poros peradaban.
Umar memayungi 2/3 dunia dengan cahaya Islam. Siapa tokoh yg mendakwahkan islam ke penjuru dunia?
Pemuda.
Sejak kapan mereka harus dikenalkan dengan kepemimpinan? Sejak dalam doa kita.
Kita kan yang minta pasangan dan keturunan yang menjadi imam orang yang bertaqwa?
Realisasikan!

Tanggapan:
Ustadz.. dilihat dr judulnya rasanya ingin sekali peran kita benar-benar optimal terutama dalam mendidik anak, tapi kadang lelah fisik urusan domestik membuat kita kurang optimal menjalankan peran. Apa yang seharusnya dilakukan supaya tetap bisa berjalan seimbang tanpa ada rasa bersalah pada anak, kalau hari ini saya kurang meluangkan waktu untuk belajar bersama anak.
Terutama untuk para ibu yg LDR (Long Distance Relationship) dengan suami tanpa bantuan ART (Asisten Rumah Tangga).

Jawab:
Perempuan itu lebih kuat dari laki-laki sebenarnya. Saya gede gini kalo gendong anak ga kuat lama-lama tapi kalau ibu, bisa semalaman bahkan sepanjang hari bahkan 9 bulan dengan kepayahan.
Lelah itu bisa jadi kita kurang perhatian sebenarnya.
Sesekali butuh cuma ditanya? Capek seharian sama anak-anak, Yang?
Terus langsung deh nangis sesenggukan..tapi setelah itu ceria lagi asyik lagi ngemong anak-anak .
Atau yang krusial, ruhiyah kita kosong sehingga lebih mudah merasa lemah.
Wallahu a’lam.
Ibu LDR energinya harus 2x lipatnya. Memotivasi diri sendiri dan kuat menyelesaikan masalah.
Tapi ibu-ibu di Palestina itu bahkan banyak yang suaminya ga pernah kembali bu..
LDR selamanya tapi karena cita-citanya jelas. Energinya jadi berlipat-lipat.
Semangaaat yaa ibu-ibu, terutama yang LDR. lihatlah perjuangan para ibu di palestina 😥
Iya cita-cita mereka ingin bersama sama kembali di surga.
Tidak mengapa berpisah di dunia. Karena dunia ini hanya tempat singgah semata.
————————————————————-
(3). Assalamualaikum udztad..
Saya cerita dulu ya..
Ada orang, sebut saja bunga, merasa ibu paling ngga oke. Baper.. Dari anak pertama lahir ngga beres-beres bapernya. Si sulung dari masih merah udah diambil alih mertua. Dikasih ke bunga kalau cuma mau ngASI. Ada yang nggak beres, bunga yang kena sindir. Dan sedihnya, suami pun tidak membela. Si istri mau saja untuk membesarkan hati dan tidak menyalahkan suami, tapi sebagai ibu baru pada saat itu, berharap besar bahwa suaminya mampu memposisikan dirinya.

Yang jeleknya, akhirnya si ibu bawa pengaruh negatif dari perasaan yang terluka itu ke anak. Kalau liat poin-poin di atas, pas bagian bertutur kata lemah lembut.. Asa kumaha kitu nyak.. Bukan tidak pernah dicoba, jangankan Bunga, saya juga begitu. Ibu-ibu lain usahanya pasti besar juga. Begitu anak mulai keluar jalur dikasih sp 1, masih oke–sp 2 makin jadi–begitu sp 3 turun marahlah emaknya. Rasa bersalaaah banget setelahnya. Tapi juga kesal, ditambah, begitu bunga marah suami malah menyalahkan. Yang tambah sedih, mertua bilang, “anak ayah ya… sama bundamu dimarahin terus ya.”

Ya Allah..

Ustadz pasti mau bilang, samakan frekuensi dulu dengan suami. Sudah dicoba, karena si ibu berharap beliau laki-laki. Anak pun laki-laki. Anak laki-laki akan meneladani ayahnya. Tapi suka menguap eung..

Apa tetap ibu/istri yang pada akhirnya jadi tiang buat keadaan seperti ini tadz?

Jadi, Idealnya ibu positif bapak positif- kuat menguatkan

Tapi kalau ibu negatif ayah positif – ibu yang salah
Ibu positif ayah negatif – ibu yang dituntut kuat
Ibu negatif ayah negatif – ibu yang disalahkan

Benarkah paradigma yang begini tadz?
Jazakumullah khayr udztad.

Jawab:
Ini tinggal berdekatan dengan mertua ibu?
Suami ibu itu seperti raja yang tidak punya daerah kekuasaan.
Kalau sudah berani menikah harus punya otorisasi. Selain itu juga harus berani menjalani peran utuh sebagai kepala keluarga.
Suami Bunga ini nampaknya belum move on jadi anak mama. Sehingga dia tidak memahami tempat dan perannya yang baru sebagai suami sekaligus ayah.
Upayakan untuk duduk bersama dan bicara berdua. Udah aja anak titip sama mertua sekalian. Bila dibiarkan berlarut-larut akan menjadi bola salju.
Dari saya doa yang terbaik untuk ibu dan keluarga.
Insyaa Allah tidak ada yg mustahil bagi Allah.
Asal ibu yakin dan tidak bosan insyaaAllah suami akan berubah.
Mungkin disini mertua butuh eksistensi dan merasa diakui dengan bisa mengatur rumah tangga anaknya.
Istri harus bagaimana?
Perbaiki pola komunikasi.

Kelembutan tidak mendatangkan hal lain kecuali kebaikan.

Mungkin sekarang ibu harus sabar, harus sering ngurut dada tapi hasilnya nanti akan di luar dugaan.
Insyaa Allah kesabaran dan kelembutan ibu menjadi nilai di sisi Allah yang semoga menjadi wasilah turunnya kebaikan bagi rumah tangga ibu.
————————————————————–
(4). Assalamualaikum ustad…
Gimana kalau ibu kerja untuk membantu suami juga, memenuhi kebutuhan dan suami tidak melarang dengan tidak mengabaikan semua kewajiban seorang ibu?
Kerja Senin-Jumat dari jam 8-17.
Sebelum berangkat kerja, melakukan tugas-tugas bersih-bersih, cuci, masak, mandiin anak, suapin makan anak, siapkan sarapan suami, antar anak ke sekolah…anak sekolahnya full day… jadi anak pulang sekolah, ibunya juga pulang kerja.. trus berperan lagi sebagai seorang ibu dan istri… menyiapkan makan malemnya.. bermain dan belajar sama anak dan melayani suami… Sabtu dan Minggu full waktu untuk keluarga…minta penjelasannya pak ustadz … makasih.

Jawab:
Istri bekerja karena lillah ingin bantu ekonomi keluarga?
Pahala insyaa Allah luar biasa tapi siapkan support systemnya.
Pastikan anak dalam pengawasan dan aman.
Setiap mau pergi titipkan pada Allah.
Sebut namanya kemudian minta dilindungi dari kejahatan makhluk yang Allah ciptakan juga. Ada doanya di dzikir pagi petang ya.
Ibu harus kuat secara fisik dan mental ini.
Harus dopping dengan madu dll dan sering piknik. 😁
Biar tekanan pekerjaan tidak terbawa ke rumah dan urusan rumah tidak merusak mood kerja.
————————————————————–
(5). Assalamualaikum ustadz, saya dan suami punya latar belakang berbeda, usia juga jauh. Saya pernah dididik shalih oleh orang tua dan ada di lingkungan yang kondusif hehe, suami mah engga..dulu dikenalkan agama oleh guru ngaji yang dipanggil ke rumah dan besar di lingkungan yang yaaa gitu deh.

Saya kok berat ya bilang pengen agar suami belajar agama lagi. Pernah mendorong untuk ikut kajian dan belajar tahsin tajwid tapi selalu ada alasan, saya lihat ada sisi “gengsi” juga, tapi saya kurang nyaman banget kalau beliau lagi ngimamin saya shalat & denger dia tilawah. Saya tau tajwidnya, banyak yang nggak tepat & sesekali saya benarkan, malah bilang “iya, tadi juga saya lafadznya gitu kok” sambil salah-salah lagi. Hikhik kumaha atuh? Liqo ke ustadz aja boleh?
soalnya suami sering dapat pengalaman tidak enak dengan orang-orang yang berhalaqah, jadi dia pesimis 😐

Jawab:
Kalau kata istri saya, sebelum menikah, pasangan kita sudah jadi dirinya sendiri selama puluhan tahun.
Jangan terlalu berharap kita yang baru dalam hidupnya bisa langsung merubahnya seperti keinginan kita meski itu baik ya..
Dan laki-laki memang tidak mau kelihatan tidak sempurna.
Harus pintar mencari cara.
Kalo mau suami berubah upayakan dengan cara yg ahsan. Bagaimana pun beliau adalah qawwam dalam keluarga.
Ibu adalah navigatornya. Arahkan bila keliru tapi jangan mencederai harga dirinya.
Perlu diingat bahwa keteladanan bukan hanya di ibadah mahdhah. Meski ini penting. Bukan maksud saya melalaikan ya, tapi banyak juga akhwat yang menyesal telah menikah dengan yang konon katanya ikhwan tapi jarang shalat malam, tilawah belepotan. Padahal birrul walidainnya bagus.
Sementara istrinya ibadah mahdhah bagus tapi lidahnya tajam sering melukai orang tuanya dan suami bersabar karenanya.
Sinergi kuncinya bu..
Jangan menuntut macam macam tapi mulailah bergerak. Yang paling berhak atas akhlaq karimah kita adalah suami dan anak-anak.
Jadi istimewa anak ibu kala ibu bisa berjuang mendidik mereka menjadi baik dalam lingkungan yang tidak kondusif.
Perempuan itu rata-rata idealismenya tinggi jadi sering tertekan ketika tidak sesuai harapan.
================================
PENUTUP

Jadilah ibu yang satu tangannya menimang dalam buaian yang lain menggoncang dunia dengan mempersembahkan generasi dambaan islam.

Jadikan putra putrinya sebagai anak singa yang gagah berani bukan anak ayam yang montok tapi setelah besar tunduk pada penguasa yang zalim.

Saya mohon maaf atas penyampaian yang seadanya karena mendadak ya ini. Qodarullah harus berada di sini.
Kebenaran datangnya dari Allah. Kesalahan murni dari saya yang dhaif ini.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
Blog: sabumibdg.wordpress.com

Part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s