Liqo Online

Menanamkan Aqidah pada Anak

🌼🍂🌼🍂🌼🍂🌼🍂🌼🍂🌼

Bismillaahirrohmaanirrohiim

🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺

Resume Diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)

Tema: Menanamkan Akidah pada Anak

Hari/tanggal: Rabu, 18 November 2015
Jam: 19.00 – 21.00 WIB
Narasumber: Ustadzah Nurul Fadhillah (Lillah)
Moderator: Azmi F.A.
Notulen: Yosiani Miskiah

🌸🐝🌸🐝🌸🐝🌸🐝

Curriculum Vitae narasumber
———————————-

✏ Nama: Nurul Fadhilah (Lillah)
✏ Tanggal lahir: 5 Oktober 1974
✏ Alamat: Tembalang, Kota Semarang
✏ Pendidikan: S1 FKM UI Depok
S2 Pendidikan Islam UIKA Bogor (blm selesai)
✏ Status: Menikah
✏ Aktivitas: Ibu RT, Penggiat dakwah dan pendidikan
✏ No. HP: 08891402014

Materi pembuka
—————————

💝Menanamkan Akidah pada Anak💝

Akidah adalah pondasi yang kokoh bagi bangunan peradaban Islam. Tanpa akidah yang terpancang, kekuatan peradaban yang dibangun akan goyah. Dan tugas menanamkan akidah adalah tugas setiap keluarga muslim kepada anak-anak mereka.

Yakinlah, lembaga sekolah tidak bisa menjamin dapat menggantikan tugas penting orang ua itu. Tapi, mungkin sekolah bisa memberi pengayaan pengetahuan tentang data-data yang menguatkan akidah dan pokok-pokok ajaran agama kepada anak-anak kita.

Menanamkan akidah ke dalam hati anak-anak kita memang bukan pekerjaan instan. Butuh waktu dan kesabaran. Sebab, akidah adalah masalah yang abstrak. Tapi yakinkan kepada anak kita bahwa sekarang mungkin mereka tidak mengerti, seiring dengan waktu dan berkembangnya pikiran mereka, kelak mereka akan paham.
Rasulullah sendiri butuh tiga belas tahun untuk membuat pertahanan akidah para sahabat kuat saat diuji berbagai siksaan dan caci maki.

Kekuatan apa yang mendorong mereka rela meninggalkan tanah kelahiran, ke tempat yang mereka belum tahu sebelumnya, kekuatan apa yang mendorong kaum Anshar menerima dengan lapang dada sahabat muhajirin mereka, padahal kondisi mereka pun papa.
Dan ujian akidah terbesar adalah saat mulai diterapkannya syariat di Madinah, bagaimana para lelaki berbondong-bondong menumpahkan khàmr mereka saat turun ayat larangan meminumnya, atau para sahabat wanita bergegas menarik kain yang mereka punya saat turun perintah berhijab. Masya Allah…itulah bunda yang disebut kekuatan iman.

Maka pemahaman akidah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita sejak dini, tentu saja tentang Allah swt., tentang kitab-kitab samawi, tentang malaikat, tentang nabi dan rasul, dan tentang hari akhir. Tapi pastinya kita perlu bahasa sederhana untuk menyampaikan hal-hal yang  aksiomatik mengenai itu semua.
Dan, itulah yang Allah tekankan dengan menggambarkan betapa getolnya Nabi Ya’kub dalam masalah akidah. Sampai ketika anak-anaknya pun dewasa, pertanyaan beliau adalah masalah akidah.

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menjelaskan bahwa kewajiban orangtua adalah memberi wasiat kepada anak-anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Hal ini memberikan petunjuk penting bahwa kewajiban utama orangtua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya akidah dalam sanubarinya, sehingga tidak ada yang disembah melainkan Allah Ta’ala semata.

Lantas, bagaimana cara kita menanamkan pendidikan akidah pada anak di zaman seperti sekarang ini?
🔌Pertama, dekatkan mereka dengan kisah-kisah atau cerita yang mengesakan Allah Ta’ala.

Terkait hal ini para orangtua sebenarnya tidak perlu bingung atau kehabisan bahan dalam mengulas masalah cerita atau kisah. Karena, Al-Qur’an sendiri memiliki banyak kisah inspiratif yang semuanya menanamkan nilai ketauhidan.

Akan tetapi, hal ini bergantung pada sejauh mana kita sebagai orangtua memahami kisah atau cerita yang ada di dalam Al-Qur’an. Jika kita sebagai orangtua ternyata tidak memahami, maka meningkatkan intensitas atau frekuensi membaca Al-Qur’an sembari memahami maknanya menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Kalaupun dengan cara membaca ternyata masih belum bisa, kita bisa menyiasatinya dengan membeli buku-buku kisah dalam Al-Qur’an.
Sejak dini, anak-anak kita sudah harus memiliki kekuatan akidah sesuai dengan daya nalar dan psikologis mereka.

✏Kedua, ajak anak mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah selanjutnya dari tugas kita sebagai orangtua adalah mengajak mereka untuk mengaktualisasikan akidah dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila anak kita belum baligh, maka aktualisasi akidah ini bisa dilakukan dengan mengajak anak beribadah bersama-sama. Sesekali kita kenalkan dengan masjid, majelis taklim, dan sebisa mungkin ajak mereka untuk senantiasa mendengar bacaan Al-Qur’an dari lisan kedua orangtuanya.

Apakah tidak boleh dengan murottal melalui alat elektronik? Jika tujuan kita adalah mengajak, maka keteladanan jauh lebih efektif.

Adapun kala anak kita sudah baligh maka orangtua harus tegas dalam masalah akidah ini. Dengan catatan, penanaman akidah sudah kita lakukan jauh sebelumnya, sehingga saat baligh, anak sudah memahami konsekuensi.

Apabila anak kita perempuan, maka mewajibkan mereka berjilbab menjadi satu keniscayaan. Dan, itu adalah bagian dari aktualisasi akidah.

Dengan demikian, sejatinya tugas orangtua dalam masalah akidah ini benar-benar tidak mudah. Sebab selain mengajak, orangtua juga harus senantiasa melakukan kontrol akidah anak-anaknya. Terlebih pengaruh budaya saat ini, seringkali menggelincirkan kaum remaja pada praktik kehidupan yang mendangkalkan akidah.

✒Ketiga, mendorong anak-anak untuk serius dalam menuntut ilmu dengan berguru pada orang yang kita anggap bisa membantu membentuk frame berpikir islami pada anak.

Orangtua harus memiliki kesungguhan luar biasa dalam hal ini.

Dengan cara apa? Di antaranya adalah dengan mencarikan guru yang bisa menyelamatkan dan menguatkan akidah mereka.
Tanpa menafikan fungsi orangtua sebagai pendidik utama, anak-anak juga perlu mendapatkan pencerahan dari sisi lain.

Dorong anak-anak kita untuk bersilaturrahim ke tokoh-tokoh muslim, berkunjung ke pengasuh pesantren agar belajar, diskusi atau sharing masalah akidah. Dorong mereka untuk mendatangi majelis-majelis ilmu yang diisi oleh guru, ustadz, ulama, atau pun figur publik muslim yang terbukti sangat baik dalam menguatkan akidah anak.

Mengapa kita sebagai orangtua merasa ringan mengikutkan anak kursus ini, kursus itu, sementara untuk akidah yang super penting, bahkan untuk masalah surga dan neraka kita sendiri, kita sebagai orangtua justru tidak mempedulikannya.

Insya Allah bunda, tanamkan keyakinan pada diri kita, bahwa kita bisa menguatkan iman buah hati kita. Karena keyakinan mereka beragama jauh lebih sulit kita ajarkan ketimbang melatih keterampilan beragama mereka.
Kuatkan iman, maka seluruh aspek ibadah dan akhlak akan ikut dengan sendirinya.

Wallahu a’lam bishshowab.

Sesi Tanya-Jawab
——————————-

Pertanyaan 1: Wafa sabumi 1
Kasusnya gini: anak yang sulung ngeliat kami solat berdoa lalu nangis. Nah, yang tertanam itu doa itu bikin nangis 😅,, sedih..jadi kalo dikenalkan solat..Allah..frame yang keinget itu nangis..mungkin dalam bayangan dia disakitin jadi sedih.
Gimana memperbaiki kesan itu? Diajak berdoa agak susah jadinya.
Walau alhamdulillah berdoa bisa, salat bisa.. Cuma kesan itu belum hilang nampaknya.

Jawab:
Baik bunda Wafa… usia anak sekarang berapa kalau saya boleh tahu? Dan melihat itu kapan?

Tanggapan:
3 tahun insyaa Allah bulan depan.. Melihatnya beberapa bulan yang lalu.

Jawab:
Masih kecil ya …
Tapi sudah bisa diajak dialog insya Allah.
Coba sesekali dalam kondisi nyaman, saat hati anak riang dan siap mendapat masukan (biasanya sebelum tidur atau saat bangun tidur).
Tanyakan pada anak peristiwa tersebut, “Kakak mau tahu kenapa ibu menangis?”
Kemudian bisa buat analogi seperti ini, “Kakak kalau mau sesuatu kadang suka nangis kan sama ibu?
Nah, ibu waktu itu sedang minta sesuatu sama Allah. Ibu pengen Allah kasih, makanya ibu jadi nangis.”

Dari obrolan itu bahkan kita bisa masuk menceritakan Rahman Rahimnya Allah, bunda.

Dan jelaskan bahwa Allah tidak pernah buat hambaNya kecewa. Apalagi sampai nyakitin kita.

Pertanyaan 2: Nina Sabumi 1
Assalamu’alaikum, teh mau tanya tadi dikatakan di atas ‘tidak bertanya, melainkan melaksanakan perintah’, maksudnya seperti apa? Kalau dihubungkan dengan anak-anak, anak-anak itu kan kritis selalu bertanya, nah itu bagaimana pemahamannya terhadap anak-anak?

Jawab:
Sebagaimana yang kita ketahui dalam sirah Nabi, para sahabat 13 tahun di Makkah belum melaksanakan keseluruhan ibadah.
Ayat-ayat yang turun saat itu pun masih bersifat normatif, belum berupa perintah.
Nah, saat di Madinahlah syariat Islam turun. Perintah berhijab, larangan minum khamr, larangan riba, dan sebagainya.

Maka kita dapati para sahabat saat mendapat perintah Rasul, bergegas menunaikan tanpa mempertanyakan. Tiba-tiba jalan-jalan di Madinah basah dan tergenang oleh khamr yang mereka buang.
Kemudian para shahabiyah menarik setiap kain yang mereka miliki untuk menutupi auratnya, dan lain-lain.
Itu yang dimaksud no reserve.

Dan ini pun yang harusnya kita bangun pada anak-anak. Menanamkan konsep beragama yang baik, tidak cukup hanya melatih keterampilan beragamanya saja.
Kita ajak mereka berkerudung, kita ajak sholat, mengaji, dan lain-lain tapi kita lupa menanamkan keyakinan dalam diri mereka kenapa harus melakukannya.

Akhirnya yang kita dapati, sampai besar mereka masih selalu harus diingatkan ibadahnya, tidak lahir dari dalam hati dan keyakinan mereka akan esensi ibadah itu sendiri.

Dan ini PR kita semua yang insya Allah bisa kita kerjakan. 🙂

Pertanyaan 3: Shofa Sabumi 1
Bagaimana media yang tepat untuk menanamkan akidah pada anak < 2 tahun?

Jawab:
Yang paling mudah lewat buku, Bunda Shofa. Saya tidak menyarankan via gadget.
Apalagi sekarang aneka buku dari buku bantal, pop up book, buku e-pen, dan lain-lain sudah banyak kita dapati.

Lewat cerita dari lisan kita pun bagus, apalagi sambil bercerita kita bermain peran, ubah-ubah mimik, ubah-ubah suara dan intonasi, anak-anak pasti tertarik.

Tanggapan:
Bagaimana dengan nyanyian atau video edukasi?

Jawab:
Boleh saja, namun anak balita sebaiknya tidak bersentuhan dulu dengan gadget. Yang dikhawatirkan adalah efek kecanduannya.

Tanggapan:
Kalau mau sesuai sunnah dan Al-Qur’an kan ngga boleh lelaguan dan materi-materi bernyawa dalam wujud gambar-gambar dan alat peraga. (Tapi kalau alat peraga kaya boneka aisyah dulu masih pegang boneka perempuan sama Rasul dibolehkan).
Ada lagi ulama yang menyatakan alat musik yang diperbolehkan hanya rebana dan itu pun di walimahan. Bukan dalam rangka pendidikan anak.
Ada juga yang membolehkan nada selama itu tidak melenakan dari Al-Qur’an..
Sementara untuk anak-anak, sejauh apa peranan nada ini? Khawatirnya anak malah lebih ingat nadanya, menghafal karena nada, tapi tidak sampai esensinya.

Jawab:
Afwan… Untuk masalah khilafiyah seperti itu menurut saya kembali pada keyakinan kita masing-masing.
Ada banyak pendapat para ulama mengenai hal tersebut.
Termasuk hadits tentang boneka-boneka Aisyah ra, tidak secara eksplisit digambarkan bonekanya seperti apa. Maka kemudian ada ulama yang mengizinkan boneka menjadi alat peraga.

Yg ingin saya tegaskan, dalam hal yang bersifat khilafiyah tidak bisa saya mengatakan harus A atau B.
Silahkan para bunda membahas khusus masalah ini.

Pertanyaan 4: Anonim
Konsep-konsep keTuhanan sejauh mana yang harus diajarkan untuk tarbiyatul aulad, ustadzah? Apakah rukun iman dan rukun Islam harus tamat sebelum usia baligh?

Jawab:
Ya…sebelum baligh.
Karena saat anak memasuki usia baligh, maka secara syariat mereka sudah mukallif.

Bayangkan mereka sudah mulai dicatatkan pahala dan dosa, tapi konsep iman ibadah dan akhlak belum sempurna kita ajarkan?

Proses penanaman ini tentu harus bertahap sesuai kemampuan berpikirnya.
Disampaikan dengan bahasa dan metode yang juga sesuai.

Penutup
—————–
Bunda-bunda yang saya sayangi karena Allah, mari sama-sama bersyukur atas anugerah terindah dalam hidup kita, yakni anak-anak kita.
Kita terima dalam keadaan fithrah, maka tugas kita menjaganya tetap fithrah.
Bangun dan kuatkan akidah mereka, karena akidah yang baik akan menjadi penentu sikap mereka di kemudian hari.
Ada banyak cara dan saya yakin bunda-bunda jauh lebih berpengalaman.

Jazaakunnallah atas perhatian dan kerja samanya.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s