Diskusi · Parenting

Perilaku Egosentris pada Balita

image

Diskusi Internal Sabumi 3
Kamis, 26 November 2015

Studi kasus:

Ada anak tetangga, rasa memilikinya tinggi sekali. Anak lain harus meminjamkan barangnya ke dia, sementara barangnya sendiri tidak boleh dipinjam anak lain. Kalau sudah memaksakan kehendak, pasti nangis kalau tidak dituruti.

Kondisinya, anak ini diasuh oleh kakek neneknya, orangtuanya di luar kota, usia 5tahun+

***

Komentar

Ratih Sondari (psikolog, member Sabumi 3)

Sampai usia 7 tahun, cara berpikir anak masih egocentris. Egocentris itu maksudnya anak melihat, merasa, dan berpikir hanya dari sudut pandang dirinya, belum bisa menempatkan dirinya di posisi/sudut pandang orang lain. Anak tidak mau meminjamkan mainannya kepada orang lain, tp mengharuskan orang lain meminjamkan mainan kepadanya, karena mereka blm bisa menempatkan dirinya di posisi orang lain yg meminjam mainan kepadanya. Ia hanya berpikir dr sudut pandang dirinya saja. Egocentris tidak sama dengan egois. Egocentris berhubungan dengan perkembangan kognitif anak.

Contoh perilaku egocentris yg lain, misalnya anak ingin memperlihatkan gambar pada kita, tetapi gambarnya mengarah ke penglihatan anak, bukan di arahkan ke penglihatan kita. “Ma, lihat gambar ini bagus!”, sambil menatap gambar tsb tanpa mengubah arah kertasnya ke kita. Anak berpikir bahwa jika ia melihat gambar tsb, maka orang lain pun melihatnya.

Dengan bertambahnya usia, perkembangan otak anak semakin matang, disertai dengan stimulasi dan sosialisasi dengan lingkungan, maka egocentris ini akan berkurang dan anak mulai bisa  berpikir dengan sudut pandang orang lain (perspective taking). Jika anak tidak diajarkan untuk melihat dr sudut pandang orang lain, maka egocentris bisa menetap sampai anak dewasa.

Yg bisa orangtua lakukan adalah dengan membiasakan anak untuk mau berbagi. Saat meminta anak berbagi, anak diajak berdiskusi yg tujuannya agar dia juga memahami apa yg dipikirkan/dirasakan orang lain.

Misal:
Ibu: De, lihat tuh temennya nangis pengen minjem mainan ade. Ade mau minjemin mainannya ke dia?
Anak: Ga mau!
Ibu: Kemaren waktu ade pengen pinjem mobil2an alif, ade juga nangis krn ga dikasih pinjam sama alif. Apa yg ade rasain waktu nangis?
Anak: Aku pengen megang mobil2annya alif. Mobilnya bagus. Aku pengen.
Ibu: Terus apa yg ade rasain waktu alif ga mau minjemin?
Anak: Kesel! Marah! Rasanya aku pengen ngamuk!
Ibu: Enak atau ngga kalo temen ga mau minjemin mainannya?
Anak: Ga enak.
Ibu: Nah, skr yg ade lakukan ke azzam, sama seperti yg kmrn alif lakukan ke ade. Yg dirasakan azzam skr mungkin sama seperti yg ade rasakan. Ade masih mau temenan sama azzam? Mau makin disayang Allah? Seorang muslim itu tidak akan menyakiti saudaranya.
Anak: Tapi aku juga pengen mainin robot ini..
Ibu: Robotnya kan bisa ade mainin kapan aja.. tp skr azzam lg nangis tuh. Kalo ade pinjemin mungkin dia berhenti nangisnya. Kalo dia berhenti nangis, apalagi sampai tersenyum, ade dpt pahala sedekah tuh.. mau?
Anak: Ya udah deh..

Itu contoh saja bagaimana kita mengajak diskusi anak agar dia bisa melihat/merasakan posisi orang lain dengan melihat apa yg pernah ia rasakan. Bisa juga dijelaskan kepada anak bahwa pemilik barang punya hak untuk meminjamkan atau tidak, ia boleh meminjamkan atau tidak, tetapi akan lebih baik jika ia mau berbagi. Penjelasan tentang hak meminjamkan/tidak ini agar ia juga tidak memaksa ketika meminjam barang orang lain.

***

Pertanyaan:

Bagaimana pertahanan diri untuk anak usia 6 tahun, jika ada temannya yang suka memukul?

Jawab:

Menurut teori, bagian otak yang berfungsi dalam proses pengontrolan diri mulai matang pada usia 7 tahun. Jadi sebelum 7 tahun kebanyakan anak belum bisa menahan agresinya ketika mereka merasa terancam atau frustasi. Jadi untuk anak usia 6 tahun yang dipukul, instingnya masih besar untuk membalas memukul. Kalau settingnya di sekolah, lalu ada yang memukul sebaiknya diselesaikan dengan bantuan guru. Anak yang dipukul sebaiknya memang tidak membalas memukul karena ga akan ada habisnya nanti pukul-pukulan. Benar jika yang dilakukan orangtua dengan meminta anaknya untuk tidak membalas memukul dan menyampaikan kepada teman yang memukul untuk tidak memukul, dan bilang pada ortu/guru kalau anak tersebut masih suka memukul.
Nanti biar orang dewasa saja yg menangani anak yg suka memukul ini. Kalo sesama anak kecil tidak akan bisa.

Anak usia preschool sebaiknya tidak main tanpa pengawasan orang dewasa, tapi jika seandainya kondisi ini terjadi, kita harus sudah mempersiapkan anak untuk mengenali & menghindari sumber-sumbetbahaya (termasuk mengenali dan menghindari teman yg suka memukul). Kita mengajarkan anak untuk berteman tanpa membedakan SARA, tp tetap harus mengajarkan anak untuk pilih2 teman yg tidak menyakitinya dan menjadi “penjual parfum”.

Untuk anak yg suka memukul pun sebaiknya diberi pemahaman konsekuensi “suka memukul” adalah tidak punya teman. Jadi jika sementara anak yg memukul merasa kehilangan teman, orang dewasa yg mengajak diskusi anak tsb juga bisa memberi pemahaman ttg konsekuensi perilaku memukulnya.

***

Pertanyaan:

Kalau untuk usia lebih kecil misal 4th.. bila dia msh ga mau ksh pinjem bagaimana ya? Apa kita terus aja saat itu (saat msh ada teman yg mau pinjem) memberi nasehat dan pengertian?

Jawab:

Tidak usah dipaksa kalau anaknya tidak mau meminjamkan, dikasih pengertian aja itu hak dia untuk ga minjemin dan di lain waktu pun dia ga boleh maksa minjem barang orang lain. Saat di kemudian hari dia nangis karena ga dipinjemin mainan, diingatkan lagi aja kejadian saat dia ga mau meminjamkan.

***

Pertanyaan:

Kalo berpikir dari sudut pandang dirinya sampai melakukan kekerasan fisik..msh bisa disebut egosentris tidak?
Contoh: pinjam mainan yang sedang dipakai teman. Ketika si teman ga mau minjemin..dipukul/ didorong/ digetok pake benda keras lah si teman..

Jawab:

Pada kasus seperti ini ada peran egocentris juga. Dia mukul anak lain tanpa memikirkan apakah anak yg dipukul merasa sakit atau tidak, artinya dia ga memosisikan dirinya di posisi anak yg dipukul. Yg ia pikirkan hanya bagaimana caranya mendapatkan mainan yg dia mau. Pada kejadian seperti ini, selain egocentris juga dipengaruhi insting agresi & kontrol-diri yg masih rendah.

***

Pertanyaan:

Adakah tips untuk mempersiapkan ananda untuk mengenali sumber-sumber bahaya?
Contoh kejadiannya di PAUD. Jika guru paud sudah berusaha maksimal tapi perilaku anak yang suka memukul tidak mereda dan ortu anak tsb cenderung memaklumi prilaku anaknya, gimana ya?

Jawab:

Mempersiapkan ananda mengenali sumber2 bahaya bisa dimulai dr rumah dl. Misal, kenali benda2 di rumah yg berbahaya dan tidak boleh digunakan tanpa pengawasan orang dewasa, seperti kompor, pisau, alat elektronik ttt, colokan listrik, dsb. Ketika keluar rumah dikenalkan untuk hati2 pada kendaraan yg lalu lalang & orang asing yg tiba2 menawarkan makanan. Hanya boleh menerima makanan/minuman dr orang asing jika ada mama/ayah di dkt anak & mengizinkan anak untuk menerimanya (misal, kalo di mall ada yg ngasih sampel biskuit gratis trs diizinin mama sih boleh2 aja. Tp kalo di taman tiba2 ada orang ga dikenal nawarin permen, jangan mau). Dengan teman, ceritakan pada ortu jika ada teman yg suka memukul, mengancam sambil meminta uang, merampas, memegang anggota tubuh yg ditutup pakaian, dsb.

Untuk mengatasi perilaku anak yg suka memukul perlu diobservasi dl secara spesifik. Misalnya, pada situasi apa anak suka memukul, apa pemicu anak memukul (menginginkan sesuatu/barangnya direbut teman/dilarang/lelah/didorong, dsb), siapa yg dipukul (apakah korbannya selalu anak yg sama/siapa pun/hanya yg lebih muda atau tua/hanya yg badannya lebih kecil atau besar, hanya laki2/hanya perempuan, dsb), apa yg terjadi ketika anak memukul, apa konsekuensi yg anak rasakan stlh memukul, bagaimana aturan dr ortu, apakah anak mendapat paparan/menonton perilaku agresi. Setelah ditelaah penyebab anak memukul, baru bisa dibuat program untuk mengurangi perilaku memukulnya.

***

Kesimpulan:

1. Usia sampai dgn 7 tahun anak penting dilatih empatinya. Yaitu merasakan yg org lain rasakan. Karena cara berpikirnya masih egosentris.
2. Usia preschool, saat bermain anak wajib ditemani.
3. Kenalkan pada anak hal-hal yang sekiranya akan membahayakan dirinya jika sendirian, baik itu di dalam atau di luar rumah.
4. Ketika mendapat kekerasan dari teman, beritahukan anak untuk tidak membalas, minta anak untuk memberitahu orang yang lebih dewasa seperti guru atau orangtua.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s