Diskusi · Parenting

Metode Mendisiplinkan Anak dan Trik Berbicara dengan Anak

Resume Kulwap SABUMI HSMN Bandung

Materi : Beberapa Metode Mendisiplinkan Anak dan Trik Berbicara dengan Anak

Moderator : The Nilam
Notulen : Elvin

🌸🐝🌸🐝🌸🐝🌸🐝

Curriculum Vitae Pemateri

✏ Nama: Innu Virgiani
✏ Tanggal lahir: Jakarta, 25 Agustus 1986
✏ Alamat: Newark, DE, USA
✏ Pendidikan: S2 Fak Psikologi UI
✏ Status: Menikah
✏ Aktivitas: Ibu rumah tangga
✏ No. HP: +13028876791

*****

Materi Pembuka:

1. KONSEKUENSI NATURAL

Konsekuensi natural merupakan hasil dari tindakan mereka secara alami.
Konsekuensi natural akan memberikan pengalaman sebab-akibat dari tindakan mereka sendiri dan belajar untukbertanggung jawab.
Orang tua yang menggunakan konsekuensi natural memungkinkan anak-anaknya untuk menemukan keuntungan dari perintah dan peraturan.

Tanpa ancaman dan debat dengan orang tua, anak-anak yang mengalami konsekuensi natural akan terbangun rasa disiplin pada diri sendiri dan kekuatan internal, dan belajar mematuhi perintah bukan karena takut akan hukuman, akan tetapi karena mereka mengetahui bahwa dengan mematuhi perintah akan membuat hidup lebih baik.

Contoh penggunaan konsekuensi natural adalah membiarkan anak menghadap gurunya dan menjelaskan bahwa dia tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya karena dia lebih memilih bermain dibandingkan mengerjakan PR. Jika orang tua ‘menolongnya’ dengan membuatkan surat izin, maka anak akan belajar bahwa tidak mengapa tidak mengerjakan tugasnya, karena akan ada ‘dewa penolong’ yang akan menyelamatkannya dari hukuman yang tidak diinginkan.

KAPAN KONSEKUENSI NATURAL TIDAK BERLAKU?

Orang tua sebaiknya tidak menggunakan konsekuensi natural bila konsekuensi yang akan timbul berbahaya untuk anak anak atau tidak menyebabkan rasa tidak nyaman bagi anak-anak.

2. KONSEKUENSI LOGIS

Ketika konsekuensi natural tidak berfungsi, orang tua harus membuat konsekuensi logis.
Konsekuensi logis berupa hukuman dan praktis, dapat dilaksanakan dan berkaitan dengan perilaku anak.
Orang tua harus memberikan penjelasan mengenai konsekuensi ini kepada anak-anaknya pada saat tenang dengan jelas dan tegas. Sangat penting bagi orang tua untuk memberitahukan terlebih dahulu alasan mengapa mereka harus berperilaku baik dan hasil keluaran yang diinginkan.

Berikut adalah contoh konsekuensi logis:
Anak yang pulang larut melewati jam malam akan dimajukan jam malamnya untuk beberapa malam kedepan, atau akan kehilangan haknya menggunakan mobil. Anak yang bermain secara ceroboh dan memecahkan kaca jendela tetangga harus menggunakan uang tabungannya sendiri untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.

Seperti konsekuensi natural, konsekuensi logis harus sesuai dengan perilaku mereka dan tanpa ancaman atau hukuman fisik untuk anak-anak. Orang tua sebaiknya membiarkan anaknya bertindak sesuai dengan keinginannya, bila ia melanggar aturan maka bersiap menghadapi konsekuensinya. Hasilnya adalah anak akan berperilaku baik karena mereka mengetahui bahwa semuanya akan menjadi baik bila mengikuti aturan yang ada. Sebaliknya, hukuman akan membuat anak berperilaku baik hanya jika mereka takut ketahuan orangtuanya, dan akan membuat mereka bersikap ‘nakal’ saat tidak ada orang tua.
Yang perlu diperhatikan: waktu mengkomunikasikan, dan konsisten menerapkan konsekuensi tersebut

3. Reward dan Punishment melalui reinforcement negatif

Cara yang terbaik dalam menerapkan reward dan punishment adalah penerapan reinforcement negatif, yaitu:
Memberikan reward ketika anak melakukan hal yang diharapkan dengan MENGURANGI hal yang TIDAK DISUKAInya.
Memberikan punishment ketika anak melakukan hal yang tidak diharapkan dengan MENGURANGI hal yang DISUKAInya.

4. Time Out

Time out adalah suatu cara untuk mengendalikan marah dan menghentikan perilaku buruk anak, dengan memberikannya kesempatan untuk menenangkan diri dan berpikir kembali atas perbuatan yang dilakukannya.

Time out bukanlah sebuah hukuman.
Time out adalah sebuah teknik yang dilakukan orangtua untuk membantu anak berelaksasi. Anak diberikan jeda untuk sendiri, berusaha merenung, serta tanpa diganggu dan tanpa mengganggu orang lain.
Time out menjadi hukuman ketika orangtua mempraktekkannya dengan tidak tepat.

Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan time out dinilai sebagai hukuman oleh anak:
– Time out dilakukan oleh orangtua dengan marah.
– Orangtua mengatakan bahwa time out merupakan hukuman atas perilaku anak yang tidak sesuai arahannya.
– Tempat time out yang menakutkan dan berkesan tempat penghukuman, seperti kamar mandi dan ruang tertutup.
– Tempat time out yang memungkinkan orang-orang dapat melihat anak seperti dihukum.

Langkah dalam Menerapkan Time Out:

Penerapan time out harus didahului beberapa tahapan lain, yaitu:
1. Pembentukan ikatan (bonding) antara orangtua dan anak
2. Pemberian pemahaman bahwa time out ditujukan untuk menenangkan diri karena anak marah-marah ataupun berperilaku buruk.
3. Pembuatan kesepakatan bersama tentang pelaksanaan time out. Hal ini akan memberikan hasil yang berbeda dibandingkan bila peraturan ditetapkan oleh satu pihak saja (orangtua).
4. Sosialisasi bila teknik tersebut akan mulai diterapkan dalam keluarga.
Bagian utama dari disiplin adalah belajar bagaimana berbicara dengan anak-anak.

Cara berbicara orang tua kepada anak akan sangat dipelajari dan ditiru oleh anak.

Berikut adalah beberapa tips agar anak-anak kita mendengarkan kita:

1. Perhatikan Anak Sebelum Memberi Instruksi dan Panggil Menggunakan Namanya
Sebelum mengarahkan anak Anda, posisikan tubuh selevel dengan mata anak Anda dan beri ia kontak mata-ke-mata untuk mendapatkan perhatiannya. Ajari anak untuk fokus: “Adel, lihat Bunda..”Jaga kontak mata dengan pandangan biasa agar anak tidak akan merasa terkontrol dan kurang dianggap.

2. Bicara Sesingkat dan Sesimple Mungkin, Minta Anak Mengulangi Kata-kata Orang tua
Gunakan satu kalimat saja: Mulai pembicaraan dengan inti dari perkataan Anda. Semakin lama Anda mengoceh, semakin besar kemungkinan anak Anda untuk tidak mendengarkan.

3. Tawarkan Sesuatu yang Tidak Bisa Ditolak Oleh Anak
Beri alasan yang menguntungkan dari sudut pandang anak dan yang sulit ia tolak. Hal ini akan membuatnya menurut pada Anda.

4. Beri Instruksi Positif

5. Bertindak Dulu Baru Berbicara
Anda menunjukkan bahwa Anda serius tentang permintaan Anda; kalau tidak anak akan menafsirkan ini sebagai pilihan saja.

6. Beri Anak Pilihan “Mau ganti baju atau sikat gigi dulu?””Baju merah atau biru?”

7. Bicara Sesuai Perkembangan Anak
Semakin muda anak Anda, instruksi Anda harus sesingkat dan sesederhana mungkin. Pertimbangkan tingkat pemahaman anak Anda.

8. Bicara dengan Kata-kata yang Baik dan Suara halus
Ancaman dan perkataan yang menghakimi cenderung membuat anak bersikap defensif.

9. Pastikan Anak Tenang
Sebelum memberikan perintah, pastikan anak tidak sedang emosional. Kalau tidak, Anda hanya membuang-buang waktu saja. Anak tidak akan mendengarkan Anda jika ia sedang emosional.

10. Ulangi Perkataan Anda
Balita perlu diberitahu berkali-kali karena mereka masih sering mengalami kesulitan menginternalisasi arahan orang tua. Mereka baru belajar memahami perintah.

11. Biarkan Anak Berpendapat

12. Gugah emosi anak dalam berkata-kata, Berikan hadiah kepada anak berupa benda yang disukainya sewaktu-waktu, ungkapkan rasa cinta secara verbal, berikan pujian setiap kali anak melakukan hal yang diharapkan, dan ingat untuk mencintai anak SEUTUHNYA, SETIAP WAKTU…! Tidak hanya ketika anak berperilaku yang diharapkan, tapi juga ketika anak melakukan hal yang sebaliknya =))

***

Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan ke 1

Teh Santiana

Benarkah kalau time out itu bisa merusak otak?sy ragu mempraktekkannya krn info tsb.mohon penjelasannya..

Jawab:

Kalau digunakan dengan metode yang tepat, insyaa Allah aman, Bunda
Seperti yang saya jelaskan dalam materi, bahwa TIME OUT BUKAN HUKUMAN
Namun orang tua jika tidak paham bagaimana caranya, akan membuat anak merasa dihukum
Untuk caranya, silakan dilihat di materi lagi ya Bunda..

Pertanyaan ke 2

The Fifi

Bilamana anak disebut telah mengalami sebuah trauma, atas ‘hukuman’ yg tidak sengaja pernah diberikan ortu kpdnya?

Jawab:

Trauma disebabkan karena ‘ketidakmampuan’ anak menanggung hukuman yang diberikan kepadanya.. Karena memang hukuman yang diberikan melebihi kapasitas yang sanggup diterima oleh anak..
Untuk ini, Jika memang benar trauma.. Anak-anak bisa membutuhkan waktu berminggu atau berbulan-bulan. Minta maaf pada anak dengan tulus. Jangan singgung lagi tentang peristiwa tersebut
Trus bangun kelekatan dengan anak kembali agar anak ‘percaya’ lagi pada seseorang yg telah membuat anak trauma dan sabar bila anak mengalami kesulitan adaptasi
Jika memang trauma anak dirasakan cukup parah: menganggu aktivitas dan fungsi keseharian, bawa ke ahli untuk ditangani

Pertanyaan ke 3

Teh Riani

Bagaimana ya membedakan antara ancaman dengan konsekuensi logis.. karena seringnya ketika memberikan tersebut, anak seperti merasa terancam (by gesture dimata saya). Misal ketika anak saya makan, mau makan sendiri atau disuapi? Ok, disuapi, tp prakteknya dy suka sambil bermain2 dan malah dgn sengaja menjauh.. Saya sering bilang..oke. klo blm mau makan, bunda ke dapur, kakak makan sendiri ya. bunda mau makan.. Nah.. anak saya takut ditinggal sendirian (2tahun) jd sepertinya buat dy itu bukan konsekuensi logis, kayak seakan2 krn dy ngga mau ditinggal sendiri..

Bagaimana itu ya mba, apakah cara saya menerapkannya salah atau ada masukan? Terimakasih

Jawab:

Konsekuensi logis: merupakan hukuman yang diterima anak TERKAIT dengan perilakunya
Jika tidak terkait, berarti bukan konsekuensi logisSeperti pada materi:
Pulang malam === mobil disita Nah,
Terkait contoh bunda,
Sebenarnya, konsekuensi logisnya
Tidak mau makan/makan bermain2 === makan sendiri
Sudah cukup tepat
Hanya saja memang gesture dan penambahan bunda meninggalkannya yang belum sesuai dengan kemampuan anak yg harus diperhatikanKarena bagi anak 2 tahun, mereka masih membutuhkan rasa aman dari keberadaan orang tuanyaJadi tinggal di ubah sedikit lagi
Dengan mengatakan misalnya, adek makan sendiri, bunda makan disana (di tempat y terlihat anak)
Sehingga beda antara konsekuensi logis dengan ancaman

Tambahan: sangat penting untuk memperhatikan trik2 berbicara dengan anak ya.. Agar anak paham bahwa ortu sedang mendisiplinkannya bukan sekedar mengancam, menghukum, menekan
Semoga Allah mudahkan =))
Jika ternyata memang masih tidak bisa, cari cara lain, masih ada metode2 yang lain,
Dan di antara metode2 itu, tetap saja yang paling dibutuhkan anak dari anak adalah kenyamanan, pemahaman, kelekatan psikologis, komunikasi yang ‘nyambung’, pengajaran akhlak dan adab yang baik dari contoh yang dilakukan langsung oleh orang tuanya =))

Pertanyaan ke 4

Teh Retno

Apakah untuk usia 3 tahun reward dan punishment ini bisa diterapkan ya mba Innu? Saya pernah dengar bahwa untuk anak usia 3 tahun belum bisa dan sebaiknya selalu ditunjukkan kasih sayang saja setiap anak melakukan hal yang baik. Untuk anak 3 tahun seperti apa pola reward dan punishment yang diterapkan?

Jawab:

Seperti yang sudah saya jelaskan di materi,
3 tahun sudah bisa insyaa Allah
Penerapan reward dan punishment yang paling efektif adalah dengan negatif reinforcement (bukan positif reinforcement)Negatif: mengurangi
Reward nya== mengurangi hal tak disukai anak
Hukumannya=== mengurangi hal yg disukai anakPositif= menambah/memberikan
Reward=== memberikan/menambah hal baru yg disukai anak
Hukuman===memberi/menambahkan hal baru yg tidak disukai anak

Kasih sayang saja di usia balita?
Memang harus
Namun, mendisiplinkan anak bukan berarti tidak menyayangi
Mendisiplikan bukan berarti menghukum
Pengenalan emosi, adab dan akhlak justru harus mulai ditanamkan sejak dini
Karena di masa 3-5 tahun pertama lah otak anak bertumbuh dengan sangat pesat
Bantu jalinan2 syaraf anak untuk trus berkembangan dan tersusun dengan banyaaaaakk informasi baik yang dibutuhkannya untuk menjalani hidupnya ke depannya..Karena jika dari kecil tidak terbiasa dengan adab dan akhlak.. Akan cukup sulit untuk mengubah jalinan syaraf yang sudah tersusun di masa2 sebelumnya, butuh waktu lagi.
Semoga dapat dipahami ya Bunda..
Oleh karena itu, yang saya tekankan disini, bukanlah metode disiplin apa yg akan kita gunakan.

Namun BAGAIMANA mengkomunikasikan dengan baik metode2 tersebut.. Bahkan jika tanpa metode apapun sekalipun.
Karena tujuan kita=== anak paham dengan baik dan dapat melakukannya

Pertanyaan ke 5

Teh lintang

1. Mau tanya ttg tips no.3, menawarkan sesuatu yg tidak bisa ditolak Anak itu seperti apa contohnya? Apakah seperti kita sebutkan manfaat2 yg didapat Anak bila mereka melakukan apa yg kita minta?Tapi seringkali apa yg menurut kita baik, belum tentu menarik bagi mereka

2. Usia berapa Anak sudah bisa diberikan reward punishment melalui reinforcement negatif? Apakah harus ada kesepakatan sebelumnya ttg apa hal yg akan dikurangi, atau bisa spontan saja sesuai yg menjadi kesukaan/ketidaksukaan Anak saat itu?
Jawab:

1. Contoh: karena anak suka bermain di taman, kita tawarkan nanti kita main ke taman (pada waktu yang sesuai)
Atau kalau anak main gendong2an, dibacakan buku dlsb.. Tawarkan hal demikian sebagai konsekuensi logis dari perilaku yang dilakukan anakDan tentunya ttp komunikasikan dengan baik, gugah emosi anak
Bahwa ini bukan sekedar ‘upah’
Tapi bentuk perhatian Bunda
Sayangnya Bunda
Harapan Bunda pada anak agar anak melakukan ‘kebaikan’Penggugahan emosi ini sangat penting dilakukan ya..
Karena prinsip kerja otak
Semakin sering diulang penyampaian informasi  akan semakin baik direkam dalam otak anak
Semakin berkesan secara emosi semakin baik pula disimpan dalam otak anakInilah mengapa dalam mendidik anak, orang tua harus mampu menggugah emosi positif mereka.Sehingga pengajaran tg diberikan tidak hanya berupa kognitif, namun juga melibatkan aspek afektif/emosi sehingga lebih efisien
Penjelasan ttg manfaat juga dapat dilakukan, namun bukan itu maksud dari trik 3.

2. Sepertinya pertanyaan no 2 sudah terjawab di pertanyaan sebelumnya, ya Mba Lintang
Mungkin yang perlu ditambahkan: YA, perlu kesepakatan antara anak dan orang tua agar anak merasa orang tua tidak semena2 menetapkan peraturan.

Assalaamu’alaykumBagaimana jika hukuman berupa penambahan jam menghafal misalkan atau mengeluarkan infak sekian dengan uang saku sendiri, atau yg serupa berupa ibadah2 kpd Alloh?
Anonim

Mba InnuWa’alaikumussalam Bunda,
Jika memang anak mampu melakukannya, insyaa Allah tidak mengapa
Hanya saja dalam ibadah, keikhlasan merupakan syarat mutlak untuk diterimanya amal.
Sehingga itu yang penting ditanamkan pada anak..
untuk menghafal, emosi yang positif akan sangat membantu dalam menghafal
Emosi yang negatif justru mempersulit
Untuk bersedekah, jangan sampai hukuman tersebut membuat esensi sedekah menjadi ‘hilang’ atau ‘berkurang’
Sehingga Bunda perlu sangaat berhati2 dalam mengkomunikasikan ini
Jangan sampai Ibadah yang dicintai Allah ini justru menjadi hal yang berkesan negatif pada anak dan berdampak buruk ke depannya: anak jadi males2 an.. Kalo ingat menghafal=== ingatnya lagi dihukum
Lagi2, kuncinya adalah penyampaiannya ya Bunda
Karena dalam pengajaran ibadah, yang juga penting adalah menanamkan kecintaan, bukan hanya sebagai ‘alat’ menghukum.
Wallohu a’lam

Pertanyaan ke 6 (anonym)

Teringat bbrapa sahabat yang lalai dari beribadah kpd Alloh,mrka menghukumi diri sendiri justru dengan menambah ibadah, haha berat ya kyknya klo buat anak

Jawab:

Wa’alaikumussalam Bunda,
Jika memang anak mampu melakukannya, insyaa Allah tidak mengapa
Hanya saja dalam ibadah, keikhlasan merupakan syarat mutlak untuk diterimanya amal
Sehingga itu yang penting ditanamkan pada anak..
untuk menghafal, emosi yang positif akan sangat membantu dalam menghafal
Emosi yang negatif justru mempersulit
Untuk bersedekah, jangan sampai hukuman tersebut membuat esensi sedekah menjadi ‘hilang’ atau ‘berkurang’
Sehingga Bunda perlu sangaat berhati2 dalam mengkomunikasikan ini
Jangan sampai Ibadah yang dicintai Allah ini justru menjadi hal yang berkesan negatif pada anak dan berdampak buruk ke depannya: anak jadi males2 an.. Kalo ingat menghafal=== ingatnya lagi dihukum
Lagi2, kuncinya adalah penyampaiannya ya Bunda
Karena dalam pengajaran ibadah, yang juga penting adalah menanamkan kecintaan, bukan hanya sebagai ‘alat’ menghukum.
Wallohu a’lam

Pertanyaan ke 7

Teh Siska S1

umur berapa time out mulai bisa diterapkan?

Jawab:

Sejak 1 tahun/paham kata sudah bisa diterapkan 😘
Hmm, sedikit penjelasannya begini
Ketika anak paham kata tidak
Berarti anak sudah mulai (baru mulai) dapat membedakan sesuatu dan sedikit sedikit memahami tentang sebab akibat (masih sedikit2)
Dan otaknya akan terusss berkembang dengan informasi/ilmu2 yang trus diajarkan oleh orang tuanya
Sesuai dengan perkembangannnya
Itulah mengapa setiap kali berbicara, menyampaikan info/ilmu, melakukan suatu metode HARUS sesuai dengan tahapan perkembangan anak..Ngga selalu nurut juga, namanya anak2.. Ada fase negativistik (apapun yang kita ‘inginkan’ justru dilakukan kebalikannya tapi kita tau kalau anak paham boleh atau tidak.

Pertanyaan ke 8

Teh Nilam

Mba. Bagaimana kalau anak2 sudah terlanjur didisiplinkan dengan metode yang salah. Bawaan orangtua komunikasi ke anak emosi gtu..? Apa bisa kembali ke pola komunikasi pendisiplinan seperti diatas? Bagaimana caranya?

Jawab:

Insyaa Allah bisa diperbaiki Bunda..
Yang penting orang tua trus semangat memperbaiki diri dan beradaptasi dengan komunikasi yg baik dan tentunya ini butuh proses juga bagi orang tua
Tidak bisa instan
Sebagaimana orang tua tidak bisa instan mengharapkan anak untuk berubah juga
Trus semangat berusaha..

Yang perlu dilakukan:
1. Jalin kelekatan emosi dengan anak dg minta maaf pada anak, menunjukkan kesyukuran bahwa orang tua bersyukur memiliki anak, mengungkapkan rasa sayang, meluangkan waktu dan meningkatkan intensitasnya
2. Tentukan target satu per satu yang spesifik, perubahan apa yg ingin dicapai
Karena jika kebanyakkan malah mungkin akan stres
3. Komunikasian harapan2 dan apa2 saja yang akan dilakukan
4. Trus berdoa minta kemudahan dan pertolongan AllahHasilnya tentunya tidak sempurna terlihat dalam 1-2 minggu..

Tapi insyaa Allah
Dengan emosi positif, husnudzhon pada Allah insyaa Allah hari2 akan terasa lebih bahagiaAlhamdulillaah diskusi kita pada malam hari ini sudah selesai,

Penutup

Semoga Allah mudahkan kita untuk mencerna dan memilah milih apa yang sesuai dengan pendidikan yang ingin kita tanamkan pada anak2 kita..

Semoga Allah permudah kita semua untuk menerima semua kekurangan dan kelebihan kita, termasuk pola asuh, masa lalu, kehidupan yang kita lalui..

Juga memaafkan diri kita dan orang2 yang terlibat dalam kehidupan kita

Serta memaknai hidup kita untuk beribadah kepada Allah, sesuai dengan tujuan penciptaan kita.. Sehingga apapun yang kita lakukan adalah ibadah pada Allah..

Sehingga

Kita juga dapat dengan mudah menerima kelebihan dan kekurangan anak, memaafkan perilaku mereka yang tidak diharapkan dan memaknai apa yang kita lakukan pada anak dalam rangka ibadah pada Allah,

Termasuk dalam menerapkan kedisiplinan pada anak2 kita =)

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s