Diskusi · Homeschooler Story · Homeschooling Highlight

Catatan Penting dalam Melaksanakan Homeschooling Bagi Keluarga Muslim

catpen

Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling:

Bismillaahirrohmaanirrohiim

🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺

Resume diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)

Tema : Homeschooling

Hari/tanggal: Rabu,10 Februari2016
Jam : 20.00 – 22.00
Narasumber:  Maya Dwilestari
Moderator: Dwi Setia S1
Notulen : Vivi Faiza S1

Resume

Naik-turun menjalankan HS/HE merupakan bagian dari proses HS/HE itu sendiri. Buatlah sebuah panduan penting, agar keluarga HS/HE tetap ingat dan bersemangat menjalankan proses HS/HE mereka. Berikut catatan saya, yang saya ambil dari berbagai sumber karena terbatasnya ilmu saya. Semoga bermanfaat.

1.      Meluruskan niat. Menjalankan HS/HE bukanlah hal yang luar biasa. Proses ini adalah sebuah keniscayaan dalam hidup, saat kita memutuskan akan menikah. Mempersiapkan diri menjadi madrasah terbaik, bagi para perempuan, dan memilih lahan pendidikan terbaik bagi para laki-laki.

Saat teman/saudara kita meragukan kemampuan kita sebagai orang tua menjalankan HS/HE, ingatlah niat hanya mengharap ridha Allah Jalla wa ‘ala. Sebaliknya, saat decak kagum datang menghampiri anak/diri kita, ingat pula, ini semua karena karunia Allah, dan berdoalah agar Alah senantiasa menutupi aib kita.

Ingatlah di akhirat nanti kita akan ditanya tentang harta kita dihabiskan untuk apa, waktu kita, dan rasa letih kita. “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia lakukan dengannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan, dan tentang anggota tubuhnya untuk apa ia pergunakan.”( HR. Tirmidzi, 4/612 no. 2417 dan Ad Darimi, 1/452 no. 554 Maktabah Syamilah.)

2. Memilah Ilmu yang Wajib dan yang Fardhu Kifayah
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).
Seorang penyair berkata,


مَا أَكْثَـرُ الْعِلْـمَ وَمَــا أَوْسَعَــهُ
مَنْ ذَا الَّـذِيْ يَقْــدِرُ أَنْ يَجْمَعَـهُ
إِنْ كُنْـتَ لاَ بـُدَّ لَـهُ طَـالِــبًا
مُحَاوِلاً، فَالْتَمِــسْ أَنْفَعَــــــــهُ
Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya
Siapakah yang dapat mengumpulkannya
Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,
Maka carilah yang bermanfaat darinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” (Muttafaq ‘alaihi).

Ilmu yang wajib antar lain: Akidah dan Tauhid, Ilmu Adab, Hadits, Fiqih, Bahasa Arab, Siroh, dan ilmu agama lainnya. Sedangkan ilmu fardhu kifayah antara lain: ilmu kedokteran, kesehatan, pendidikan, dan lainnya yang bisa memenuhi kebutuhan umat.

3.      Memilih guru yang solih dan buku yang benar

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan. (Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69.)

Pertama : Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

Kedua : Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

“Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)”.
(Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81).

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?”

Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah).
Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Ada banyak contoh dari Ibunda para ulama tentang memilih guru. Misalnya saja Ibunda Imam Malik, yang memerintahkan anaknya pergi kepada para imam ahli hadits, mengadiri majelis mereka, mengambil adabnya. Sang Ibunda Selalu menyiapkan pakaian terbaik anaknya serta merapikan immamahnya seblum Sang Buah Hati pergi ke majelis ilmu.

Dalam menjalankan HS/HE tak bias dipungkiri, Ibu dan Ayah adalah pendidik utama. Maka, berusahalah memenuhi Kriteria sebagai pendidik sesuai adab yang diajarkan Rasulullooh Shollalloohu ‘alaihi wasallam.

Adab di atas berlaku dalam menuntut ilmu agama. Adapun untuk ilmu dunia/ilmu yang fardhu kifayah, bisa kita ambil dari buku-buku terpilih, situs-situs terpercaya, serta mendatangi ahlinya.

4.      Pelajari adab menuntut ilmu
Imam Malik rahimahullahu mengisahkan,
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)
Abdullah bin
Rahimahullah Ta’ala berkata : “Hampir saja adab menjadi dua pertiga ilmu. (Sifatush Shafwah 4/145)
Salah seorang Salaf berkata : “Kita lebih butuh adab yang sedikit dibandingkan ilmu yang banyak”. (Madarijus Salikin 2/376)
Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsaury rahimahullah Ta’ala berkata : “Para Ulama tidak mengizinkan anaknya keluar untuk menuntut ilmu sampai mereka beradab dan beribadah selama duapuluh tahun.
Muhammad bin Sirin Rahimahullah Ta’ala berkata : “Mereka para salafus saleh belajar al-Hadyu (adab) seperti mereka belajar ilmu”. (Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Jami dari Malik bin Anas)
Abu Zakariya Yahya bin Muhammad Al-Anbary rahimahullah ta’ala berkata : “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu, dan adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh”. (Tadzkiratus Sami wa Mutakallim)
Isa bin hamadah rahimahullah ta’ala berkata : “Saya mendengar Al-Layyits bin Sa’ad berkata; “Sungguh para ahli hadits sangat dimuliakan, ketika aku melihat sesuatu pada diri mereka maka aku berkata; “Kebutuhan kalian pada adab yang sedikit lebih butuh dibandingkan ilmu yang banyak”.
Ibrahim bin Habiib Asy-Syahid Rahimahullah berkata : “Wahai anakku datangilah para ahli fiqih dan ulama, dan belajarlah dari mereka, ambilah adabnya, akhlaknya, karena hal itu lebih aku suakai dibandingkan hadits yang banyak”. (Al-Jami’ Liakhlakir Rawi 1/80)

Yusuf bin Al Husain berkata,
بِالأَدَبِ تَفْهَمُ الْعِلْمَ
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu

tulisan ini bisa diunduh di sini.
https://drive.google.com/open?id=0BwHYSFs_TlvZYzlNckhzV2pMTFE

Narsum:

Saya rasa selayang pandangnya cuma mau menekankan:

Jangan sampai kita melupakan ilmu yg wajib. Jangan sampai kita kehilangan identitas muslim. Hs itu dimulai dr negeri barat. Kita adopsi idenya sbg sebuah batang berharga kita yg hilang. Tetapi tidak semua hal ttg hs yg diajarkan di negeri barat hrs kita ikuti.

Pertanyaan:
1⃣ Teh Uwie – sabumi 1
1. Apa yang harus dipersiapkan ketika akan menjalankan HS? Apakah harus menyediakan ruang belajar khusus di rumah? Bagaimana jika ruangannya terbatas?

▶ Narsum :
Persiapan teknis (stl meneguhkan niat dan menyatukan visi) adl berbicara bersama anak2.

Jika anak2nya msh kecil, ibu siapkan ruang agak leluasa, bahan2 keterampilan, serta waktu yg bs diganggu kapan saja.

Jika anak2nya >7th persiapkan bahan belajar terstruktur.

Utk semua usia, materi agama hrs disiapkan sedini mungkin. Praktiknya tentu menyesuaikan umur anak.✅

2. Bagaimana menyamakan visi dan misi dengan pasangan agar bisa menjalankan HS secara harmonis?

▶ Narsum :
Pada kenyataannya yg banyak berperan adl ibu. Jd bicara baik2 dg suami apa yg akan dilakukan nanti. Kita hrs siap bahwa praktek hs memang akan lbh banyak dikawal ibu. Ayah mengawasi, menyiapkan alat pendukung, memberi teladan, dsb. ✅

2⃣ Teh Maya – sabumi 2
Mba maya, insyaAllah..smp detik ini sebenarny sy masih berkutat di tahap meluruskan dan meneguhkan niat utk hs. Terutama krn sy dan suami y masih ldm. Mnrt mba maya, optimalkah hs y akan kami jalankan nanti jika suami hadir d rmh hanya saat week end?Ato, adakah tips dan trik ny utk menyiasati kondisi ini?

▶ Narsum :
Teh Mala, saya juga ldm.
Tergantung kekuatan mental Teh Mala.
Idealnya sebuah keluarga berkumpul, hs maupun tidak.
Memang cukup berat hs dlm keadaan ldm. Makanya saya katakan tergantung kekuatan mental ibu.
Tips dan trik apa ya…kl saya sesering mungkin suami saya telpon bertanya kabar anak2, apa rencana mereka dll.

Sebenarnya ada atw tdk ada ayah mereka, hs kami tetap jalan sesuai jadwal.

Kl ayah anak2 pulang rasanya plong bgt. Saya manfaatkan utk menghibur diri sejenak.✅

3⃣❓teh sri – sabumi 2
Menarik sekali ttg pembahasan adab ini. Apa saja adab yg harus ditanamkan dan bagaimana hs pada usia dini?
Kadang suka ga pede dgn hs, takut ketinggalan banyak dibandingkan teman2 sebaya anak saya yg sekolah tk.
Hatur nuhun

▶ Narsum :
Adab dlm pembahasan kali ini khususnya adab menuntut ilmu (agama). Tetapi bs juga kita terapkan dlm belajar ilmu dunia.
Adabnya banyak. Antara lain: niat yg benar, memilih guru, menghormati guru dan kitab, tdk menyela guru dll bisa dibaca di buku adab penuntut ilmu.
Sedangkan adab keseharian utk kita dan anak2 adl mulai dr bangun tidur, masuk wc, berbicara, bertamu, meminjam barang dll. Bisa dilihat di buku2 adab.✅

Bagaimana hs pad usia dini?

▶ Narsum :
Tekniknya mengikuti kegiatan si anak.
Usia dini yg dimaksid adl usia 6th ke bawah. Metodenua unschooling kecuali materi agama yg meliputi akidah,adab,alquran.✅

4⃣ Riska,sabumi 2
1.  Mbak maya, ilmu fardhu kifayah saya cetek banget apalagi ilmu wajib. Saya khawatir ilmu yg saya sampaikan ke anak itu salah, karena saya mencari dr buku yg salah atau dr guru yg kurang tepat. Jadi, kalau boleh mau minta rekomendasi buku utk bekal ilmu2 yg wajib tadi. Jazakillah 🙂

▶ Narsum:
Utk buku bisa dilihat di blog saya
Ummujita.blogspot.com
Judulnya kl ga salah : homeschooling keluarga muslim. Atau pilih menu unduh gratis.
Itu ada daftar buku dan foto bukunya.
http://ummujita.blogspot.co.id/2015/08/homeschooling-keluarga-muslim.html?m=1✅

2. Pertanyaan kedua. Khusus utk adab. Paling efektif adab ini kan mencontoh dari orangtua. Sementara adab saya sebagai ibu dr anak2 masih ya begitulah… masih jauuhh dr kata sabar. Hal ini yg menyebabkan saya ragu utk hs. Bagaimana caranya memantapkan hati utk berHS?

▶ Narsum:
Apakah saat kita memutuskan menyekolahkan anak2 lalu kita terbebas dari kewajiban belajar adab?
Maaf…smg tdk salah paham ya teh.maksud saya materi agama itu wajib utk semua muslim baik hs maupun tidak…begitupun pengamalannya.✅

5⃣ Rika – sabumi 3

Mohon maaf sebelumnya, saya masih baru dalam HS, dan masih tahap meraba2 dan mempelajari HS.

1. Jika kita masih serumah dengan ortu/mertua, bagaimana ya cara memberikan pengertian HS yang enak kepada mereka, sedangkan rata2 mereka inginnya anak kami bersekolah seperti orang pada umumnya, dan itu seperti mutlak harus dilakukan (padahal saya dgn suami ok2 saja dgn HS).

▶ Narsum :
Teh rika yg baik, smg allah mabtapkan hatinteh rika dan suami ya.

Kalau org tua hanya perlu pembuktian. Tp jangan juga jd bergeser niatnya krn ingin dilihat ortu.

Dengarkan mereka baik2 saat menasehati. Idealnya memang jika punya tempat tinggal terpisah.

Ajak anak2 membantu bersih2, hormat kpd org yg lbh tua, dsb.

Kalau saya dulu prinsipnya dengarkan danbtetap hormat, tp hs jalan terus. Alhamdulillah ayah saya malah jd suka promo hs ke teman2nya.

2. Bagaimana ya kita bisa mencari pembimbing dalam hal konsultasi untuk HS itu sendiri (maaf masih awam dan meraba2, saya kenal HS dari tth saya dan grup sabumi ini, selebihnya saya baca2 dari internet)

Dg ikut grup seperti hsmn ini bagus. Atau jadilah pencetus komunitas hs di wilayah kita. Adakan kegiatan kumpul2 rutin. Kunjungan, masak2, dsb.

Hatur nuhun sateuacana✅

6⃣ Uni dessy – sabumi 1
Sy perhatikan anak² usia dini yg tdk sekolah dan yg sekolah (usia antara 3-5 thn), ada perbedaan pada saat mereka berkumpul di suatu acara. Anak² yg tdk sekolah cenderung lebih sulit utk tertib dibanding anak² yg sekolah.
Apa saya yg salah menilai atau memang ada kecenderungan seperti itu? Jika iya, dalam hal ini, mana yg perlu dibenahi? Konsep tdk sekolah yg terlalu bebas pd anak, atau konsep sekolah yg terlalu ketat menanamkan kedisiplinan?

▶ Narsum :
Scr teori saya tidak tahu kenapa. Allohu a’lam. Mungkin perlu ada penelitian.

Kalau anak saya sendiri kl ke rumah org biasanya mereka ikutan ngobrol. Sampai tuan rumahnya heran kok tdk malu2 ikutan ngobrol dg org dewasa. Saya tdk menilainya sbg akhlak yg buruk, jd saya biarkan saja.

Usia anak2 mengenal disiplin dan keteraturan menurut para ahli mulai skitar 7 th. Alloohu a’lam.✅

7⃣ Melati – sabumi 2
Bagaimana meyakinkan keluarga besar yang tidak menyetujui keinginan kami untuk ber-HS? Atau biarkan saja “anjing menggonggong kafilah berlalu”?

▶ Narsum :
Menjelaskan dg cara yg baik, seperlunya dan.meminta restu/doa.

Kl diantara suami-isteti telah bersepakat, silakan jalani hs itu dg baik.
Org tua hanya ingin lihat kita bersungguh2 mendidik cucu2 mereka.✅

8⃣ Sri yunita – sabumi 2
🙋 saya masih suka bingung dgn pembuatan lesson plan, usia anak saya 4 thn. Sbenarnya gmn sih idealnya pembuatan lesson plan, lalu bagaimana evaluasinya? Bagusnya dilakukan berkala?
Oh iya teh maya..saya sering bgt buka2 blog teteh, Alhamdulillah ketemu disini. Barokallah teh.ilmunya bermanfaat sekali

▶ Narsum :
Soal lesson plan sesuai kebutuhan saja.
Tdk semua keluarga perlu membuat lesson plan. Kl memang perlu ya silakan belajar dr buku mind map atau sejenisnya.
Kl saya sampai anak usia 7th ngga pakai kurikulum. Kecuali utk ilmu yg fardhu, saya ikuti buku.. wa fiikum baarokallooh teh sri.✅

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s