Homeschooler Story · Homeschooling Highlight

Homeschooling With Working Mom, Mungkinkah?

Bismillaahirrohmaanirrohiim
🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺
Resume diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)
Tema : “Homeschooling With Working Mom, Mungkinkah?”
Hari/tanggal: Rabu/ 17 Februari 2016
Jam : 10.00 a.m. – selesai
Narasumber: DK. Wulandari (Mbak Dini)
Moderator: Liza Putri
Notulen : Eva

🌷 selayang pandang 🌷

Assalamualaikum Wr Wb..
Bismillahirabbil ‘alamin
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberi nikmat iman, kesehatan, keluarga, dan memudahkan urusan kita untuk bisa berbagi di pagi ini.

Saya seorang ibu bekerja dengan 2 anak yang saat ini menjalani Home Schooling. Sehari-hari saya adalah PNS Dosen di sebuah PTN di Malang, dan di waktu luang saya menulis dan mengilustrasikan buku cerita anak. Suami saya bekerja di luar kota, tapi setiap hari pulang karena komitmen ngga mau berjauhan dengan keluarga.

Saya sering sekali mendapat curhatan teman-teman
· Pengen sih pengen HS, tapi aku kan ibu bekerja
· Gimana HS bisa jalan kalau ortunya pada kerja?
· Ngatur waktunya gimana?
· Kurikulumnya gimana?
· Bagaimana HS efektif pada orangtua yang keduanya bekerja?

Yah, memang dilematis ya kalau orang tua keduanya bekerja tapi ingin menjalankan HS pastilah maju mundur cantik. Awal yang harus kita lakukan adalah mengenali pilihan hidup yang kita jalani dalam keluarga inti. Suami dan istri berbagi visi dan duduk bersama membicarakan apa sih yang kita inginkan dari masa anak-anak kita? Berikut ini adalah daftar perenungan yang mungkin bisa bermanfaat dalam merumuskan visi misi keluarga. Saya mendapatkan ini saat sharing dengan Mom Deasi Pedersen.

BAHAN PERENUNGAN SUAMI dan ISTRI

Mengapa kita perlu melakukan pendidikan rumah (diskusikan bersama antara suami/istri)

1. Apa saja keuntungan/kelebihan pendidikan rumah untuk keluarga?
• Spiritual
• Karakter
• Akademik
• Sosial
• Hubungan Keluarga

2. Apa saja kekurangan Home Education dan bagaimana kita bisa mengatasinya?
• Spiritual
• Karakter
• Akademik
• Sosial
• Keluarga

3. Generasi seperti apa yang kita inginkan?
• Mental
• Fisik
• Spiritual
• Sosial (dengan sesama)

4. Apakah tujuan utama kita mendidik anak-anak saat mereka baligh/mukkalaf?

5. Bagaimana kita dapat melakukan pendidikan berbasis rumah sebagai bentuk ibadah, penyembahan kepada Allah? dan juga memenuhi tujuan penciptaan kita sebagai manusia
Penting bagi pasangan untuk menyamakan visi misi keluarga, agar HS yang dijalankan sesuai koridor dan antara ayah dan ibu saling menguatkan.

Sebelum Memulai HS

Sebelum memulai HS, sebaiknya sekeluarga diskusi panjang lebar terlebih dahulu untuk menyamakan visi-misi keluarga. Paling tidak ada beberapa hal yang menjadi bahan diskusi:

· Ingin terlibat dalam pendidikan anak-anak , yang semoga itu bernilai ibadah bagi orang tua mereka. Kami menyadari saat anak-anak masih di TK gurunya lah yang lebih banyak berperan mulai dari mengajarkan sholat, doa, dll.
· Kurikulum yang ada di sekolah formal masih belum pas dengan apa yang menjadi cita-cita keluarga. Ya anak-anak sempat bersekolah formal selama 1 tahun dan 1 tahun itu cukup membuka mata kami mengenai kondisi dan sistem sekolah formal di negeri ini.
· Kami mendambakan anak-anak bisa mempelajari hal-hal mendasar yang merupakan fardhu ain bagi setiap muslim dengan baik, juga tumbuh dengan karakter muslim.
· Tidak kami pungkiri anak-anak memiliki pendekatan belajar yang berbeda, minat,motivasi dan gaya masing-masing. Sekolah tentu tidak bisa menaruh perhatian yang cukup detail untuk setiap anak secara optimal.
· Kami juga ingin agar anak-anak tergugah untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan. Anak-anak yang seumur hidup mencintai proses belajar, yang belajar bukan demi imbalan pujian, gengsi, atau keuntungan materiil lainnya, melainkan terutama karena kegembiraan dalam belajar itu sendiri, akan tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan luas penuh ide-ide besar dengan karakter luhur yang berangkat dari tertanamnya kebiasaan-kebiasaan baik…

Alasan tiap keluarga bisa sangat spesifik dan berbeda, bahkan bisa jadi tidak ada satu keluarga HS pun yang punya alasan yang sama dan itu sangat wajar.

Kami ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada nilai, angka, transkrip dan sejenisnya, seolah-olah semua itu adalah ukuran paten kecerdasan atau jaminan kesuksesan.

Apa gunanya lembar ijazah bertabur nilai-nilai menakjubkan jika setelah lulus pun anak tidak tahu bidang apa yang ia minati? Lebih penting memastikan bahwa anak menjadi pembelajar mandiri, seseorang yang memiliki persahabatan yang menyenangkan dan akrab dengan pengetahuan. Itulah jenis relasi yang akan memberinya kecintaan serta kegembiraan untuk terus belajar sepanjang hayat.
-CINTA YANG BERPIKIR (Elen Kristi), hal. 67-
(Disclaimer: setiap keluarga adalah unik, apa yang pas dan cocok untuk 1 keluarga belum tentu cocok untuk keluarga lain. )

-KESEHARIAN HS-

Untuk keseharian, kami tidak ada jadwal tertentu. Yang kami lakukan adalah membagi sesi pagi dan sore.  Sampai saat ini kami masih mencari  yang pas untuk anak-anak. Anak-anak tetap melalui proses deschooling termasuk orang tuanya.

Secara garis besar, kegiatan bisa dibagi menjadi sesi pagi dan sesi sore. Setiap sesi ada rutin pagi dan rutin sore. Beberapa rutinitas penting diperlukan oleh anak-anak untuk membentuk pola dan menjadi acuan kegiatan keseharian mereka. Selain rutin itu mereka bisa memilih dan belajar untuk membuat rencana kegiatan mereka sendiri. Bo

Rutin pagi dan sore bisa terdiri dari rutinitas yang bisa membentuk pola keseharian anak seperti bangun pagi, sholat, mandi, olahraga, hafalan/tilawah, membantu ibu dalam urusan rumah. Rutin ini tentu sangat perlu disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.

Setelah rutin pagi itu anak-anak akan belajar 1-2 materi secara bebas, tergantung pilihan mereka namun di tulis apa yang dipelajari di tabel sebagai evaluasi harian. Kemudian sore harinya ada rutin sore. Pada malam hari, sepulang ortu dari kantor bisa ngobrol-ngobrol tentang kegiatan anak pada pagi dan sorenya atau bisa juga diselingi kegiatan lain yang penting ortu hadir untuk anak-anak di waktu-watu yang memungkinkan.

Bagi keluarga seperti kami yang jadwal kerja ortu tidak sama setiap harinya, terkadang kami bergantian mendampingi anak-anak sesuai jadwal kami. Terkadang saya/suami punya waktu di pagi hari, terkadang siang, lain waktu saat sore/malam. Ternyata ini juga menguntungkan karena HS memiliki fleksibilitas yang bisa disesuaikan dengan kondisi tiap keluarga.

Nah, dengan menentukan core rutin pagi sore seperti itu kemudian orang tua memetakan di mana yang  harus involve langsung, di mana  bisa delegasikan, bagian mana yang anak bisa mandiri (tergantung usia anaknya). Karena HS bukan memindahkan sekolah ke rumah dan waktunya flexible sebenarnya bisa saja jam belajar dengan orang tua digeser sesuai jadwal ortu dan bisa saja dilakukan dimana saja (misalkan di mobil, di perjalanan dll). Itulah yang kami lakukan saat ini.

Apakah semua berjalan selalu mulus tanpa konflik dan drama? tentu saja tidak 😀 Sampai saat ini pun masih terus berusaha untuk membangun kemandirian dan motivasi internal anak agar dengan/tanpa orang tua, mereka akan tetap tumbuh menjadi pembelajar.

Jiwa semua anak -apapun ras, strata, dan gendernya- selalu sedang menunggu untuk digugah.
Dan sekali tergugah, mereka akan selamanya terbangun untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan. Anak-anak yang seumur hidup mencintai proses belajar, yang belajar bukan demi imbalan pujian, gengsi, atau keuntungan materiil lainnya, melainkan terutama karena kegembiraan dalam belajar itu sendiri, akan tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan luas penuh ide-ide besar dengan karakter luhur yang berangkat dari tertanamnya kebiasaan-kebiasaan baik…Tidakkah itu yang dicita-citakan oleh sistem pendidikan?
-CINTA YANG BERPIKIR, hal. 5-

Dari awal kami sepakat HS bukan mindahin sekolah ke rumah. Jadi kami tidak berusaha menduplikasi sistem sekolah di rumah. Yang perlu dilakukan adalah fokuskan pada beberapa hal pokok yang disepakati dalam keluarga (materi-materi dasar apa saja yang perlu dikuasai anak-anak). Baru kemudian menentukan core-core skill apa saja yang kami ingin anak-anak kami kuasai.  Sisanya baru ditambah yang lain-lain yang sifatnya optional.

Nah secara teknis apa yang bisa dilakukan jika orang tua bekerja sembari menjalankan HS :
– Ajak anak ke kantor (dengan seijin atasan dan rekan kerja).
– Berbagi peran antara kedua orang tua, termasuk mengatur shift antara suami/istri.
– Pendelegasian dengan art yang amanah (ini agak sulit kecuali anak sudah tamyiz)
– Meminta bantuan ke komunitas/teman sesama hs-ers, ada baiknya jika komunitas memiliki klub untuk anak-anak HS.
– Mendekatkan jarak rumah ke tempat kerja.
– Menjadi freelance.
– Mengatur ulang prioritas dalam keluarga.
– Meminta bantuan nenek/kakek jika memungkinkan (hanya jika nenek/kake sevisi dalam hal ini).
– Memberikan anak opsi apa yang akan dikerjakan hari ini (semacam cek list), ini juga akan membuat mereka bisa mengukur target dan pencapaian mereka sendiri.
– Bisa juga berbasis mengerjakan sebuah proyek dalam jangka waktu tertentu (untuk anak yang sudah bisa mandiri).
Ibu/Bapak menyiapkan apa yang akan diberikan ke anak malam sebelumnya.
– Mengurangi jam tidur ibu (saya yang ngga mampu).
Berkegiatan bersama anak (ini biasanya saya lakukan saat mengerjakan naskah/ ilustrasi buku cerita, mereka bikin komik atau baca buku).
Sekali lagi apa yang pas dan cocok untuk satu keluarga belum tentu bisa berlaku untuk keluarga lain. So, temukan apa yang paling nyaman untuk kelurga kita.

Link yang bisa dikunjungi:
http://capungmungil.blogspot.co.id/2014/08/kisah-kota-kita-by-dk-wardhani-watiek.html?m=1

Kami sering ditanya.. Gak sekolah? Homeschooling dimana? Ngapain aja terus sehari-hari? temukan jawabannya di sini…

video dokumetasi kegiatan-kegiatan Radit Keni dan teman-teman Klub Pemberi ^^b

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10153213774076216&id=547146215

https://www.facebook.com/Stories-and-Illustrations-by-Kenia-Dyanti-1093326460691542/
Tanya jawab dan diskusi:

🍄 pertanyaan 🍄
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Afina, Sabumi 2
Assalamu’alaikum wr.wb,
Saya working mom sebagai arsitek lanskap, kebetulan saya adik angkatan mba Dini. saya afina (AR05). Mba Dini, sejak usia berapa ya anak bisa diatur untuk jadwal pagi dan sore itu? bagaimana juga kalau kita masih tinggal dengan ortu? saya terkadang masih ada kerjaan dibawa ke rumah juga (ya mba Dini bisa membayangkan kerjaan saya ya). Bahkan saya mau toilet training anak saya (23m) belum mulai juga karena masih merasa waktu saya habis, dan di rumah sudah tinggal capeknya, jadi tinggal untuk main dan istirahat sampai anak tidur. Gimana tipsnya kalau untuk anak masih balita dan saya masih merasa waktunya kok terasa kurang (ibu-ibu banget). Terimakasih.
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Teh Putri
1. Gimana kurikulum working mom dan gimana cara mengatur waktu mengingat hanya pagi dan malam setelah pulang kerja saja baru bisa bertemu.
2. Apa yang dilakukan anak2 pada siang hari? Apakah ada yg jaga atau mendampingi?
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Winda Dwi, Sabumi 2
Assalamualaikum mba dini, gimana pengalaman mba dini utk mengatur waktu homeschooling anak2 selama ibunya bekerja, dan apakah wajar kalau kita masih minta bantuan ART? Tips trik dan ide-ide materi belajarnya.
Lalu gimana dengan kondisi anak2, apakah mereka bisa mengerti bahwa ibunya saja pergi kerja (ninggalin anak) tapi anak malah disuruh di rumah, ga ke sekolah.
Makasih…
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Ika, Sabumi 1
mba dini, saya ga kebayang pembagian waktunya untuk HS. Saya Dan suami kerja 8 to 5 tiap Hari. Anak pertama Rima 5 tahun sekolah dekat kantor ayahnya jadi berangkat dan pulang bareng ayah. Anak kedua 2 tahun daycare dekat kantor ibu. Di DC jam 8 sampai jam 5 juga.
Pulang ke rumah semua sudah dalam kondisi exhausted. hehhe..cara HSnya gimana?
Desperate pengen HS di tengah kepungan ‘bencana moral’ 😭
jd pertanyaan tepatnya adalah : bagamana cara HSnya dan manage waktunya, dll.. trimakasih
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Cici, Sabumi 2
Assalamualaikum Mbak Dini.
🏡 Apakah pelaksanaan HS untuk anak yang ayah dan ibunya bekerja hanya dilakukan saat ada dirumah? Bagaimana ketika ayah dan ibunya sedang bekerja, apakah didelegasikan kepada pengasuh atau bagaimana?
🏡 Bagaimana membagi waktu di rumah antara pelaksanaan HS dan pekerjaan rumah. Terkadang saya merasa sisa waktu di rumah habis untuk melakukan urusan domestik saat ART tidak ada.
Terima kasih ☺
🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻
Anonim
1. Sebagai working mom, bagaimana memaksimalkan HS untuk buah hati? Manajemen waktu dll bagaimana mengaturnya ya?
2. Adakah prioritas utama dalam HS untuk working mom?
❤❤❤
Cempaka, Sabumi 1
Tanya:
Apa alasan utama yang menguatkan keluarga mba Dini utk ber-HS, dengan kedua orangtua yg bekerja, apa yg membuat keluarga Mba Dini mantap ber-HS?
Apa yg mba dini dan keluarga jalani sekarang mematahkan apa yg saya pikirkan selama ini, bahwa utk ber-HS setidaknya salah 1 ortu harus full di rumah.
❤❤❤❤❤❤
teh irma sabumi1 :
Kalau pas ortu bekerja, kegiatan anak apa?
🍄 jawaban dan diskusi 🍄

Ini adalah jawaban atas pertanyaan teman2 soal “apa yg menguatkan mba dini HS”?

Pertama-tama mungkin saya perlu mengulas sedikit sebelum membahas masalah teknis dan printilan HS for working mom yaaa.. Nah, yang paling utama sebagai muslimah, kita harus menyadari betul mengenai hukum bekerja di luar rumah bagi ibu dan istri. Kenapa saya mengulas ini? I have been there… dimana saya sebagai lulusan ITB dan sudah magister pula pernah merasa saya harusnya ya bekerja dong.

Jadi saran saya kepada teman-teman yang ingin HS tapi berat karena bekerja, cek ricek dulu yaaa ke diri masing-masing. Inilah bekal saya (pribadi) yang ternyata merupakan modal terbesar saya menjalani HS sekaligus bekerja di luar rumah. Karena ga paham hukum (dalam islam) tentang bekerja saya pernah mengalami penolakan batin saat kudu ngerem kegiatan dan pencapaian diri. Namun setelah tolabul ‘ilmi terutama ilmu parenting, pengelolaan rumah tangga, posisi istri di rumah tangga, peran ibu dll ini bener-bener membuat mata dan hati terbuka untuk menerima peran dan posisi tersebut.

Kemudian hal lain adalah kami ingin anak-anak mencintai ilmu, dan bisa mengamalkannya, bukan hanya di atas kertas dan bukan demi nilai ataupun ranking. Kami ingin anak-anak terus bisa mengembangkan diri, karena belajar itu menyenangkan. Belajar bisa dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja.Anak-anak sudah pernah mencicipi pendidikan formal, dan kami pun sudah merasakan dan mengevaluasi hasilnya. Saatnya kami mencicipi pendidikan informal, dan bersenang-senang dalam menjalaninya. Meski kami baru akan mencobanya dalam satu tahun kedepan dan mengevaluasinya kembali. Let the journey begin.

Yang jelas, pendidikan utama adalah tanggung jawab orang tua. Dan kami memutuskan untuk ikut bertanggung jawab terhadap hal ini sebelum menemukan partner yang seiring sejalan dengan kami (sekolah). Kami ingin terlibat langsung dalam mendampingi anak-anak, juga semoga menjadi ladang ibadah bagi kami.

Selain itu ada realita yang akan kita selalu hadapi selama kita bergantung pada sistem formal. Saya membulatkan tekad, saya bisa membuat anak-anak saya paham dan cinta ilmu, terutama ilmu syari. Saya tidak ingin mereka hanya berlatih soal untuk lulus ujian, sehingga kembali lagi apa cita-cita keluarga. Inilah yang kemudian saya dan suami sadari dan kami breakdown menjadi kurikulum keluarga kami. Saya yakin tak ada keluarga yang sama persis, jadi memang benar kurikulum tiap keluarga itu berbeda-beda, tapi secara garis besarnya kita harus sepakat antara suami dan istri seperti yang   sudah ditulis di atas.

Home education itu wajib ya bagi setiap keluarga, tidak boleh tidak. Mau kerjasama dengan pihak lain silahkan (sekolah), berarti sekolah adalah partner kita. Bekerja atau stay home HE harus tetap jalan. Istilah HS difokuskan biasanya untuk usia wajib belajar.

Dari awal kami sepakat HS bukan mindahin sekolah ke rumah. Jadi kami tidak berusaha menduplikasi sistem sekolah di rumah. Yang perlu dilakukan adalah fokuskan pada beberapa hal pokok yang disepakati dalam keluarga (materi-materi dasar apa saja yang perlu dikuasai anak-anak). Baru kemudian menentukan core-core skill apa saja yang kami ingin anak-anak kami kuasai.  Sisanya baru ditambah yang lain-lain yang sifatnya optional.  Jadwal fleksibel, bisa diganti-ganti tergantung sikon keluarga.

Sangat fleksibel, dan HS tidak selalu worksheet atau ngerjain lembaran-lembaran soal. Jadi apa aja bisa jadi bahan belajar. Ada kalanya anak-anak kudu saya bawa ke kampus, ada kalanya anak-anak saya titipkan temen sesama HS (inilah pentinganya komunitas/klub sesama HS), ada kalanya anak-anak sama bapaknya, ada kalanya anak-anak saya beri project, ada kalanya mereka mandiri dengan inisiatif sendiri.

🔹Tanggapan:
Kebanyakan orang tua jiper duluan di soal kurikulum ini ya mba. Kalau sekolah formal kebanyakan menjamin bakal pinter, tapi pintarnya pintar hafalan. Bukan pintar faham. Apalagi kalau ditanya soal manfaat hikmah, bakalan gak keserap sama sekali.. Sementara niat HS adalah menghujamkan hikmah sedalam mungkin.
🔸Jawaban:
ya, sepakat banget. Kebanyakan orang tua membayangkan harus ada kurikulum pegangan. Kalau sekolah formal kebanyakan menjamin bakal pinter, tapi pintarnya pintar di permukaan, besok-besok lupa lagi. Hayoo pada inget ngga semua pelajaran sekolah? Bukan pintar faham. Apalagi kalau ditanya soal manfaat hikmah, bakalan gakeserap sama sekali.. Sementara niat HS adalah menghujamkan hikmah sedalam mungkin, hingga tampak dan berbekas pada perilaku.

Untuk apa mencari ilmu dan belajar? tentunya bukan untuk lulus ujian kan? tapi untuk diamalkan dan dikhidmatkan pada ummat. Setiap yang berilmu akan binasa, kecuali yang mengamalkannya dan siapa yang beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.

Saat kita memutuskan HS tentu kita sudah punya bekal/ modal. Jika kita mau buat SWOT ya bisa juga. Kekuatan kelemaha  kita apa as parents, tantangan dari luar dan peluang-peluang yang ada. Di sini kita bisa buat supporting system sebetulnya untuk HS kita. Berangkat dari jika tak ada orang tua, masihkah anak bisa belajar? Bagaimana caranya?

Cara belajar HS banyak macamnya:
1. Unschooling
2. Unit study
3. Metode gado-gado
4. Terstruktur
5. Project based
Dll.

Nggak usah pusing sama istilah.. ini sekedar penamaan saya aja.
Nah, dari cara belajar itu, kita bisa gunakan mana yang sesuai untuk kita. Misalkan, ini HS core value adalah aqidah islam + life skill, bukan hanya sekedar menuruti maunya anak/minat bakat (ini nanti bisa panjang juga nih ya), dengan kondisi saya, mana yang bisa saya pakai? Saya pilih project based. Dilihat dari apa milihnya?  Dari usia anak/kemandiriannya, juga dari jadwal ibu bekerja.

Project based keunggulannya anak-anak mengerjakan sebuah proyek secara mandiri, misalkan mengamati cuaca selama 1 minggu, itu juga pilihan mereka sendiri. di pengamatan cuaca ini udah include membaca, berhitung suhu, latihan pengamatan, latihan menganalisis sederhana (misalkan jenis awan pagi hari itu sirrus/kumulus, dia harus lihat di buku), dia menandai kapan aja hujan turun dst. Dari segi aqidah kita masukkan doa turun hujan, sunnah2 saat hujan, ayat-ayat tentang hujan dll (sebagai contoh). Nah, udah dapat banyak tho? Nanti, tinggal cek ricek saat pulang kantor. menanyakan kesulitannya, mengapresiasi proyeknya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang meng-encourage anak dst.

Anak-anak memang perlu tahu kalau orang tuanya bekerja, untuk itulah saya mengajak mereka ke tempat kerja, sekali-sekali tentunya dengan ijin atasan. Anak saya memang alhamdulillah HS nya usia 7th jadi sudah bisa dilepas dengan metode project based tadi. Sekali-sekali worksheet. Sekali-sekali belajar dengan duolinggo.com, education.com, http://omarmariam.irsyad.sg/ untuk variasi.

Nah secara teknis apa yang bisa dilakukan jika orang tua bekerja sembari menjalankan HS :
Ajak anak ke kantor (dengan seijin atasan dan rekan kerja).
Berbagi peran antara kedua orang tua, termasuk mengatur shift antara suami/istri.
Pendelegasian dengan art yang amanah (ini agak sulit kecuali anak sudah tamyiz)
Meminta bantuan ke komunitas/teman sesama hs-ers, ada baiknya jika komunitas memiliki klub untuk anak-anak HS.
Mendekatkan jarak rumah ke tempat kerja.
Menjadi freelance.
Mengatur ulang prioritas dalam keluarga.
Meminta bantuan nenek/kakek jika memungkinkan (hanya jika nenek/kake sevisi dalam hal ini).
Memberikan anak opsi apa yang akan dikerjakan hari ini (semacam cek list), ini juga akan membuat mereka bisa mengukur target dan pencapaian mereka sendiri.
Bisa juga berbasis mengerjakan sebuah proyek dalam jangka waktu tertentu (untuk anak yang sudah bisa mandiri).
Ibu/Bapak menyiapkan apa yang akan diberikan ke anak malam sebelumnya.
Mengurangi jam tidur ibu (saya yang ngga mampu).
Berkegiatan bersama anak (ini biasanya saya lakukan saat mengerjakan naskah/ ilustrasi buku cerita, mereka bikin komik atau baca buku).
Saya pernah mengalami HS tanpa ART, suami luar kota jadi anda bukan satu-satunya 😀 Di Malang kami punya klub khusus teman-teman sesama HS, kami bisa menitipkan sekali-kali saat pramuka, science day atau panahan, atau gantian yang jagain. Ini akan sangat membantu.

🔹Tanggapan:
Salah satu FAQ tentang HS kayaknya… gimana kita meyakinkan orang2 terdekat kita (dalam hal ini nenek kakek anak2) kalau dengan ber HS masa depan cucu2nya akan baik2 saja..

Cara meyakinkan suami/ortu
Suami awalnya saya ajakin nemenin anak-anak ngerjain PR tuh pas dulu masih kelas 1, nah dari situ lah terbukanya. Kok aneh sih ini LKS? kok anak kelas 1 ditanya begini? anak baru nulis kok udah suruh analisis sih dll. Nah loh, akhirnya berpikir-pikir. Saya share artikel-artikel mengenai pendidikan dan parenting. Beliau lihat betapa ceria anak-anak kalau lagi ga mikirin sekolah, betapa sikap anak-anak berbeda sepulang sekolah dll. Lama-lama menyadari dan sekarang suami sudah totalitas meskipun pulang malam, tetap menyempatkan untuk mendampingi HS anak-anak.

Dulu saya pernah berkeinginan untuk meyakinkan orang tua tapi ternyata sulit karena paradigma berbeda, jadi saya hanya berprinsip beliau-beliau akan bisa melihat dan merasakan bedanya. Jadi ya sudah, yang penting kita perbaiki hubungan terus dengan orang tua, hormat, nanti lama-lama juga bisa lihat kalau anak-anak HS tidak seperti dugaan mereka.

🔹tanggapan:
Teh Dini bikin tabel pencapaian per usia gaaak.. misal usia 10th 15 th 20th dst

🔸jawaban:
Nggak saklek begitu juga… Saya hanya mencatat dan mengumpulkan portofolio anak-anak per waktu tertentu/tahap tertentu agar kami juga tidak mengulang-ngulang hal yang sama. Juga untuk record dan bahan evaluasi keluarga.

🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Oh ya sekalian tadi ada pertanyaan apakah HS itu harus ngikutin minat anak aja? kalau keluarga kami engga. karena tujuan HS kami kembali lagi yaitu penanaman aqidah, akhlaq, adab, lifeskill (plus  hal-hal basic yang kita perlukan untuk kehidupan yaitu berhitung, bahasa, dan mungkin ada hal lainnya).

🔹tanggapan:
Apa ga ada kesulitan waktu peralihan dr sekolah ke HS, kesulitan dlm mengkondisikan anak2 maksudnya..klo yg saya liat, anak saya lbh mudah klo ibu gurunya d sekolah yg minta melakukan sesuatu dibanding saya yg minta.
🔸 jawaban
Peralihan sekolah ke HS, pasti sulit… mengubah ritme, mengubah paradigma seisi rumah, menyiapkan mereka mandiri dan berdisiplin, membangun kebiasaan baik, menumbuhkan karakter baik, itu betul-betul kerja keras. Dan alhamdulillah Allah kan menjanjikan syurga tho? jika kita mau ambil bagian. Tidak ada pemberian paling berharga dari orang tua kepada anak-anak mereka kecuali aqidah yang kuat, akhlak mulia dan karakter muslim yang kuat. Nah, kalau gagal ya kita tunjuk idung sendiri, makanya banyak yang merasa lebih baik di oper aja deh ke sekolah, pasti beres 😀 😀

🔹Pertanyaan
Mbak Dini menyiapkan semacam lesson plan atau rencana aktivitas nya itu kapan?
Mengingat Mbak Dini juga sibuk sekali dengan pekerjaan nya..
Dan apakah cara mengajar anak2 ini harus seperti guru di sekolah atau santai aja kaya di pantai 😁
Misalnya belajar ya sambil ngemil..sometimes sambil nge-mall gitu?
🔸jawaban:
Wooo, saya ini emak-emak  yang suka keidean mendadak agak seniman hihihi. Jadi kadang ada hari tanpa lesson plan. Serius? Iyaaah. Kalau bosen kami fieldtrip atau jalan2 ketemu dengan teman2 yang inspiratif, ketemu petani organik, ketemu siapa ajah. Karena langit bumi sahabat kami, tempat mencari ilmu, bukan hanya nilai atau selembar ijazah. *eeeeaaa
Betewe kalau kita udah bisa mendorong anak2 jadi pembelajar tuh benernya enak lhoo, anak bakalan nyari sendiri ngga perlu ibunya oprak2 atau heboh ngingetin ini itu (jaman masih sekolah saya suka gitu). Sekarang anak2 muncul2 sendiri idenya dan keingintahuannya.

🔹 tanggapan:
Mba Dini.. Tentang mendorong anak jd pembelajar sejati, kira-kira apa yg bisa dilakukan ortu untuk memupuknya ?

🔸jawaban:
Aslinya tuh semua anak pembelajar sejati. Suer deh. Banyak nanya, kagak bisa diem itu buktinya. Iya kaaan? Saya sedikit2 belajar ttg cara kerja otak. Sedikit2 belajar ttg unschooling. Kalau mau ada juga radikal unschooling. Itu ortu nunggu aja sampe anaknya muncul awarnessnya, analoginya kaya anak akan makan kalau lapar. Ostosmastis hehehe
Tapi, ada tapi nya nih. ALLAH kan memberi kita tugas tho? Yg kita ditanya satu-satu nanti, karena ada tugas ortu yg diamanahkan Allah. Ini sejauh yg saya pahami. Agak pancing2 dikit. Truuus si ibu teh kudu antusias yaaa. Kalau si ibu melempem kumaha atuh anak bisa diharapkan semangat? Jadikan belajar sebagai kultur di rumah. Artinya semua orang di rumah suka belajar hal hal baru.

🔹tanggapan
Kalau yang unschooling berarti anak ‘dibiarkan’ aja gt ya mbak sampai pengen belajar sendiri ?
Noted.  Pe er ortunya berarti gak mematikan semangat pembelajarnya ya mbak ?

🔸jawaban:
Iya, sampai anak siap secara nature. Tapi saya ngga sepenuhnya unschooling juga. Kalau banyak dicekokin jadinya mati sifat pembelajarnya

🔹Pertanyaan
Kalau Keni dan Adit kan sudah usia 7th.
Semisal  anaknya masih dibawah usia tsb, sementara orangtuanya bekerja,  kegiatan yg memungkinkan dkerjakan saat pagi sampai sore apa ya? dan itu apa bisa di delegasikan kpd ART?

🔸jawaban:
Maaf utk yg usia di bawah 7th, maaf saya belum ada ide kegiatannya. Ya menurut saya tadi ada bbrp opsi yg bisa diambil, sudah saya post di atas. Salah satu opsi ya ibunya ngurangi kegiatan luar. Nanti bisa aktif lagi kalau anak2 udah lebih mandiri. Inget kata-kata bu elly risman. Ini ladangnya lhooo, bener2 nanti akan merindukan masa2 anak2 usia dini. Saya sudah merasakan dan ada hal2 yg saya sesali karena dulu kurang ngerem. Maksud saya, ibunya agak ngerem kegiatannya. Nanti kalau anak2 sudah besar sudah mandiri mereka ada masanya malah ga mau selalu deket2 ibu nya terus. Bu elly risman pernah bilang begitu. Makanya diawal saya bilang yuk pelajari peran ibu si keluarga, fikih bekerja dll.

Beberapa ide
Bikin belajar jadi mudah dan fleksible. Jangan dipersulit.

·       Misalkan berhitung, anak-anak main jual jualan, pakai duit2an dg pecahan sesuai duit asli, atau pakai berbagai koin.
·       Trus hafalan hadist biasanya kita di mobil, bapaknya bilang eh bapak ada hadist baru nih. Mau dengerin ngga?
·       Atau bacain shiroh sambil nganterin ibu ke kampus. Atau apa aja.
·       Belajar silsilah keluarga dg mendatangi sodara
·       Hafalan dengan ayat ganjil genap (gantian antar saudara)
·       Anak2 lagi belajar TQT ( Tahfidz Quran Tematik), si sulung ayat ganjil, si tengah genap misalkan gitu.
·       Baca buku, resume dalam bentuk komik
·       Presentasi di depan keluarga
·       Anak pelihara hewan trus dia mengamati dan bikin laporan
·       Belajar panahan bisa masuk matematika karena harus hitung total angka tambahan. Belajar jarak kecepatan juga.

🔹pertanyaan
Energy… Ada naik turun nya kah? Pada saat turun.. Gmn cara menyemangati diri kembali? Dan kalo boleh, mau tau detail peran suami.

🔸jawaban
Galau, capek dan mempertanyakan kenapa kita HS itu pasti ada masanya. Tapi sepengalaman saya, alhamdulillah saya justru menikmati saat HS ini. HS membuat bonding makin erat, makin saling memiliki, saling mendoakan, saling mengharapkan yang terbaik untuk semua anggota keluarga. InsyaAllah kompak.

Kalau motivasi turun, ngobrol sama suami, ketemu dg temen2 sesama HS, kumpul komunitas. Kenalan dg keluarga HS yang lain. Anak2 juga saya ajak ngobrol via FB call ke anak HS lain di beda kota.Supaya punya kenalan baru dan tahu ternyata aku ga sendirian lho? Kira-kira begitu.
Terakhir, luruskan niat semata karena Allah. Ikhlas dan mohon pertolongan-Nya. Kita tak bisa apa-apa tanpa kemudahan dan pertolongan Allah. Jadikan ini sebagai amal ibadah kita yang semoga diterima Allah. Menjadikan anak-anak kita sebagai hamba-Nya yang sholeh sholehah. Semoga ini bermanfaat bagi teman2 semua ya.

Mohon maaf kalau saya ada kesalahan kata.
Tetap semangat ibu-ibu. Jadikan hari akhir, hari penghisaban sebagai motivasi terbesar kita!
Saatnya invest dengan berlelah-lelah.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com
Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Sincerely, DK. Wardhani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s