Diskusi · Parenting

10 Karakter Pendidik Sukses

Ada 10 karakter pendidik sukses menurut Ummu Ihsan Al Maidani

Oleh: Liza Bunda Ammar

1. IKHLAS

Menjalani posisi sebagai orangtua sekaligus pendidik itu semata-mata karena ridho Allah. Bukan untuk berbangga-banggaan.
Kenyataannya, kita sering ketemu komentar, “Anak saya dong udah 31 juz!” (sangking semangatnya). “Anak saya dapet piala dong”. Anak saya… anak saya… Padahal upaya kita ini semata-mata karena bantuan Allah.
“Innamal ‘amalu binniyat”. Sekarang apa dulu landasan niatnya? DUNIA kah? Karena dunia itu selewatan saja. Sebentar. Anak memang ngga ada yang sempurna, tapi semua anak ISTIMEWA. Jadi jangan membuat patokan bahwa anak oke itu yang hafal segini, yang raportnya segitu, yang bisa ini bisa itu.
They are more than that.. Ikhlas, karena 3 yg tdk putus ketika kita meninggal ya bu, salah satunya anak yg sholeh dan senantiasa mendoakan. Maka didiklah anak dg landasan itu.

2. TAQWA

Anak itu adalah observer yg luar biasa. Maka berhati-hatilah dalam mengendalikan BATUBATA bunda dan ayah di rumah. Bahasa Tubuh Bahasa kaTa-kaTa. Karena meski anak terlihat tidak memperhatikan, emak lagi ghibah di telepon misalnya, “Ih jeeeeeeng…..tau ngga… aku tuh yaaa ngga habis pikir…si anuuuu….”, anak-anak lagi main mobil-mobilan, jangan kaget kalau nanti denger anak bisa berghibah dengan cara yang serupa dengan ibunya. Ibu yang jujur, anak akan belajar jujur. Ibu yang shaleh, anak akan belajar menjalin hubungan yang kuat dengan Allah. Ibu dan ayah yang bertaqwa kepada Allah maka anak juga akan belajar demikian. Ingat ya bunda, didikan dari rumah itu yg paling membekas.
Buat siapa sih saya bertaqwa? Bukan buat Allah kok bu. Tp buat diri sendiri. Kenapa? Krn janji Allah jelas: barang siapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Allah segala urusannya. Termasuk urusan mendidik anak. Kalau Allah kehendaki urusan kita itu sulit, bayangkan bu… WARBIYAZA…

3. ILMU

Barang siapa yg Allah kehendaki kebaikan untuknya, Allah akan beri pemahaman terhadap ilmu yg bermanfaat.
Jadi ibu itu mudah ya ceu, hamil punya anak.. Jedeeerrr..status berubah jd ibu. Tp jadi pendidik, wow butuh ilmu. Tentunya berbanding lurus dengan usaha, bersungguh2lah mendatangi majelis2 ilmu, khususnya ilmu agama. Ada yg rajin seminar sana sini, tp ketika diajak ke kajian “emmm..pikir2 dulu ya”. Hati2 bunda. Kembalikan ke poin 1 dan 2. Ada yg semua ilmu parenting dilahap dimakan ditelen tanpa kunyah, semangat pisan. Ngga salah kok.. Tapi luruskan fikroh. Bagaimana caranya? Banyak2 mencari tahu, mencari ilmu. Masih ingat kan definisi ilmu yg dl pernah saya beri? Ilmu itu adalah firman Allah dan perkataan Rasulullah. Diluar dari itu, hati2 menyebutnya sebagai ilmu.
Ini kaitannya dengan 3 tanda kiamat bunda.

Ada 3 tanda kiamat yg perlu dipegang.
Kenapa memegang fikroh menjadi sangat penting pada akhirnya.

1. Hilangnya orang-orang sholeh dan dunia dikuasai oleh orang bodoh. Yaitu bodoh dalam urusan agama.
2. Ketika sudah tdk ada lagi amanah. Yg diberi amanah menjadi khianat.
3. Ilmu dicari dari ashoghirun yaitu org2 yg bicara agama padahal dia tidak mengerti agama. Hanya mengandalkan logikanya saja.

Poin pertama,
Menjadi penting kita mengaji dengan arah. Kalau kita awam, maka lebih baik mengaji dari yg dasar. Dipahami benar baru naik level. Belajar agama itu perlu tahapan. “Barang siapa yg belajar ilmu sekaligus, ilmunya akan hilang sekaligus”

Kalau quote yg selalu sy pegang “Ilmu itu bergantung pada kesiapan akal. Diberitahu skrg belum tentu mengerti, diberi tahu nanti2 juga blm tentu mengerti”

Sama halnya ilmu pengasuhan, ilmu mendidik anak, sangking resepnya mereguk ilmu, sangking hausnya semua diminum, ditelan mentah2, dan akhirnya kebingungan. Keblinger. Ngga tau lagi itu benar atau ngga nya. Pokoknya terlihat terdengar apik. Ambil.

Poin kedua,
Anak itu amanah. Suami amanah. Orgtua amanah. Komunitas amanah. Teman amanah. Semua amanah yg punya aturan main.
Anda sekalian pemegang amanah.
Bila amanah terasa berat, wajar. Ngga ada amanah yg ringan tanpa pahala besar. Ngga ada amanah yg bisa berjalan tanpa pengorbanan disana sini. Jalankan sebaik-baiknya amanah. Ketika kiri dan kanan menerpa, ingat betul bahwa yg menjadi hijab kita dg kiamat adalah kemampuan kita untuk menjaga amanah.

Poin ketiga,
Ketika semua bisa jadi asatidz. Meski bukan berlatar belakang agama. Meski fikrohnya meragukan dan tidak terjaga. Sehingga fitnah bisa demikian luas. Bicara agama tp hanya sebatas logika, apalagi kalau bicara tanpa sama sekali belajar agama. Meski terlihat bagus, apik, aplikatif, tapi mari sekali lagi, mengintip dulu bagaimana fikroh dr pemberi ilmu tsb.

4. BERTANGGUNGJAWAB

Dalam pembentukan anak, baik jasmani maupun ruhani, duniawi maupun ukhrowi, ortu punya target, maka kejar target secara bertanggungjawab dengan mengawasi, mendampingi, mengkoreksi, intinya mentarbiyah. Kalau rasa tanggung jawab ini runtuh, maka anak akan terjerumus. Jadi mau apapun pilihan bunda nanti, sekolah atau hs atau pesantren, tanggungjawab paling besar tetap ada pd orgtuanya.

5. SABAR DAN TABAH

Ah, saya paling suka poin ini. Hahaha.
Kenapa? Karena ujian mendidik anak itu datang dari 3 arah. Apa saja?

**tantangan dari anak didiknya. Siapa? Anak2. Bayangkan, punya anak 6, dengan tipe dan karakter masing2. Ada yg liat emak melotot udah mahfum nih kalau emak marah. Ada yg musti diomongin halus ngerti, ada yg kudu keras dl suara baru ngerti. Nano-nano..

**Tantangan dari luar. Apa saja? Lingkungan, teman, pergaulan dll

**Tantangan dari dalam. Maaaaaaak….kita banget kan ini. Belum sempet mandi, lagi masak, tempe tutung, anak pipis di lantai, yg satunya nangis, yg di sebelah sana ngusilin adeknya, cucian numpuk, endesway endebray….
Maka bunda, tanpa KESABARAN menghadapi semua ini, kita akan jadi PECUNDANG. Kalah. Kalah bahkan sebelum berjuang bila belum apa2 kita udah mengeluh, merasa diri paling menderita.

6. LEMAH LEMBUT DAN TIDAK KASAR

Inilah akhlak Rasulullah saw. Sangat disukai Allah dan manusia. Tanpa kelembutan sesuatu bisa berubah menjadi buruk

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159

7. PENYAYANG

Masih berkaitan dengan poin 6. Semua orgtua pasti sayang sama anaknya. Yakan yadong? Ya iyalah…
Tapi, apakah anak juga merasakan disayang oleh anda? Ada orgtua yg bekerja keras banting tulang peras keringat kerja dr pagi sampai pagi lagi–karena apa? Karena sayang sama keluarganya. Bohong?  Ngga, bener kok. Beneran krn sayang. Supaya anak istri bisa makan, anak bisa sekolah dll. Tp di sisi lain, apakah dengan begitu anak tdk merasa ada yg hilang? Lalu kalau sudah sakit semua tinggal penyesalan? Mari belajar cara mengapresiasi rasa sayang ini kepada anak bun..anak itu bisa menilai mana yg sungguh2 lebih sayang padanya. Bayangkan…bayangkan saja…kalau anak memperoleh afeksi dan rasa sayang itu bukan dari anda, orgtuanya. Tapi laki2 lain yg bukan muhrimnya…atau…predator? Naudzubillahimindzaliik.

8. LUNAK DAN FLEKSIBEL

Jadi orngtua itu tegas tapi ngga kaku. Tegas loh ya bun..bukan keras ngga ketulungan. “Yassiruu walaa tu’assiruu,, basyiruu walaa tunaffiruu,,

”Permudahlah, jangan dipersulit,, berilah kabar gembira,jangan ditakut-takuti. .”
Ini nasihat loh bunda. Asal tdk melanggar syariat, mudahkan anak2 anda. Ajari dengan kabar gembira. Puji upayanya. Supaya muncul pencitraan positif anak dimata orangtua.

Contoh sederhananya begini
Anak gadis pake hijab.
Ada 2 cara orgtua dalam menghadapi ini :
1. Ya bagus gitu. Tapi teh, itu kurang panjang. Kurang besar. Liat umi. Kaya gini nih yg syar’i. Panjang. Udah nanti umi belikan jilbab yg besar.
2. Masyaallah anak gadis umi. Cantiknya nak. Allah benar2 sayang padamu. Jilbab itu bukannya menutupi kecantikan wanita tapi justru membuatnya makin bersahaja. Makanya Allah berpesan untuk mengulurkan hijab sampai ke dada #sambil benerin jilbab ananda#…yah kok ngga sampe nih teh kainnya, kayanya kekecilan nih buat teteh, udah ngga cukup. Yg ini kita kasih adik sj ya. yuk besok ikut umi, umi belikan yg baru buat teteh.

Dst.
Enak mana bunda?

9. TIDAK MUDAH MARAH

Ya Allaaaaah…mau nangis rasanya kalau sudah sampai poin ini. Mana yg gampang banget tersulut dan jadi ibu si sumbu pendek disini??? Maaaanaaaaa?? Ngga usah ngacung. Cukup simpan dan koreksi sendiri ya 🙂
Laa taghdhob walakal jannah itu sungguh2 bunda.
Tapi orgtua bukan berarti ngga boleh marah kok. Marahlah, tp yg wajar. Jadikan marah ini ibarat garam pada sayuran. Ngga ada ngga nikmat. Kompromi dg perasaan. Jangan baper. Kalau marah jgn lama2. Marahnya pagi sampe malam masih bete. Jangan ya..
Wanita yg kuat..bukan yg bisa angkat galon sendiri. Wanita yg kuat adalah yg bisa menguasai dirinya ketika marah. Semarah apapun dia ketika itu pada anak2nya.
Mak, jangan dikit2 marah. Kenapa? Kalau keseringan, nanti marahmu udah ngga istimewa lagi buat anak. Ngga mau kan diginiin sama anak: “yaelah, biasa aja brow..emang emak gw pemarah kok”
Naudzubillahimindzaliik…

10. DEKAT DAN BERWIBAWA

Dekat dengn anak itu suatu keharusan. Jadi sahabatnya, jd tempat berbagi, jadi kawan main. Tp apapun, posisi anda tetaplah orangtua. Maka kewibawaan anda sebagai orgtua pun harus dipahami anak. Jgn sampai kedekatan dg anak menjadikan kita tdk dihormati anak. Demikian pula sebaliknya.
Ngga mau juga kan anak tetiba bilang: “tenang ajalah. Emak gw deket sama gw. Gampang lah gw minta apa juga pasti dikasih. Yoi bro?”
Seperti halnya pendidikan dalam islam, orgtua tetap harus pada posisinya sebagai orgtua. Dimana anak sepatutnya menginduk kpd orgtuanya bukan sebaliknya. Semua poin2 diatas saling berkaitan. Ada waktu kita harus lunak tp ada waktu kita harus tegas.

Intinya…

Ingatlah bahwa yg diharuskan mempersiapkan diri pertama kali adalah ibu. Tapi tentunya semua atas izin Allah. Jangan terlalu PD dgn usaha kita ini bunda, kita bukan siapa2 bukan apa2 dibandingkan kuasaNya. Semestinyalah kita merasa fakir di depan Allah. Karena hidayah itu adanya di tangan Allah.

Bila nanti ada pertanyaan..pernyataan..

Ya Allah, saya teh udah terlanjur begini. Da anak2 udah pada gede2, karakternya udah kebentuk. Salah saya emang, tp gimana lagi.

Maka bu,
Awali lah dg Bertaubat dulu.
Lalu ingat,
Apa yg sudah terjadi, adalah takdir Allah. Qadarullah. Jangan memperpanjang angan.  Jangan mengucapkan seandainya aku dulu tak begitu, andaikata anakku begini begitu, dilarang ya bu.
Sebab seluruh taqsir/kelalaian/meremehkan kebaikan dan kecenderungan kepada keburukan adalah panjang angan-angan. Karena seluruh manusia pada dasarnya, senantiasa mengajak dirinya untuk menghindar dari keburukan dan melakukan kebaikan. Akan tetapi ini masih sebatas janji di dalam hati akan hal itu.

Tidaklah diragukan bahwa barangsiapa yang berangan-angan bisa berjalan di siang hari maka dia akan berjalan dengan langkah yang lemah dan penuh kemalasan. Demikian juga barang siapa yang berangan-angan mendapatkan waktu subuh maka dia akan beramal di malam hari dengan amal yang ‘lemah/ala kadarnya’. Sedangkan barang siapa yang membayangkan/tergambar di depan matanya kematian akan segera datang maka dia akan bergegas dan bersungguh-sungguh.

Rasulullah membagi harapan dalam 2 bentuk
1. Yang masih bisa diusahakan, tunjukkan usaha yg sungguh2, minta bantuan kepada Allah dan jgn menyerah
2. Yg sudah tidak bisa diupayakan. Sudah berlalu. Untuk itu RIDHO dan PASRAHLAH.tp untuk kedepan, ihris ya ummahat!! Bila masih bisa diupayakan, upayakan sekuat tenaga dan sungguh2.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

Jgn pernah merasa gagal.

Kenapa? Krn gagal tidak gagalnya kita, hasil akhirnya kita itu Allah yg menentukan. Allah tdk akan salah memberi score.

Kalau merasa kita gagal sebagai orgtua,
Bu…sebagus2nya orgtua itu adalah nabi2 kita. Kurang shalih apa nabi Nuh?? Kurang taqwa apa beliau kepada Rabbnya? Kurang dalam apa pemahaman agamanya? Tp apa beliau mampu mengajak serta istri dan anaknya naik ke bahtera??? Lalu apalah kita dibandingkan para nabi ini..

Memang benar, kalau lihat anak org bener teh serasa kita ibu tergagal di dunia. Tp hidayah itu rahasia Allah. Ada orgtua yg shaleh, tp anaknya bengal. Ada orgtua yg masa bodoh, eh anaknya shaleh. Ngga usah mikir hasil dulu ya bundas. Jgn jadi orgtua tipe “pemadam kebakaran” yg ngga peduli dari mana datangnya api tp ke tkp langsung mikir gimana caranya api padam. Pikirkan prosesnya.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s