Homeschooling Highlight · Memahami Homeschooling

FAQ: Homeschooling Muslim

MUKADIMAH

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Hai Ibu-ibu..

Yang perlu diketahui, sekolah tidak sekolah adalah pilihan. Bukan soal akidah, dimana kalau sudah HS lalu pindah ke jalur sekolah formal langsung dicap “murtad” atau sebaliknya.

Sekolah + HS + guru + orangtua + anak adalah organ yang semestinya bersinergi.
Jadi, jangan sungkan:
“Duh, saya ngga pede.”
“Duh, bisa ngga ya?”
“Duh..”

Dan owh..ahh..owh lainnya.

Ibu-ibu, kita perlu satu kata dulu: KOMITMEN.

Ibu maunya apa? Sekolah? Oke.. Tapi risikonya bersekolah sudah tahu, kan? Konsekuensinya sudah mafhum, kan? Ya sudah, jalani.
Kalau memilih sekolah, bersiaplah untuk memeras keringat dan banting tulang untuk membiayai sekolah anak-anak karena pada umumnya, sekolah yang bagus itu identik dengan biaya yang tidak sedikit.

Mau HS? Sudah paham mulainya dari mana? Kenapa urutan dalam HS muslim itu berbeda dari HS lainnya?

Buat FAQ yuk, bantuan dari teman-teman sekalian sangat dibutuhkan.
Sila buat pertanyaan apa saja seputar HS, terutama HS MUSLIM.

Anda butuh apa saja?
Siapa saja yg berperan?
Biaya khusus?

Mungkin tidak sekarang kami jawab satu-satu. Tapi FAQ yang anda sampaikan amat berharga sebagai modal starter kit para ibu SABUMI yang menjalani maupun yang baru tertarik HS —- dan juga bagi member HSMN seluruh indonesia —- bahkan di luar komunitas ini.

Yuk bu, diantos yaaaaak… 😊

FREQUENTLY ASKED QUESTION (FAQ)

1.

Saya dan suami berpikir berkali-kali untuk HS lalu tiba-tiba deg-degan dengan pertanyaan dan pernyataan dari orang-orang sekitar, “Punya usaha apa yang nanti bisa diwariskan kalau anak-anaknya HS?”
Jleeeb.. Menusuk banget lah karena kami masih keluarga pekerja yang belum memiliki usaha yang murni dari ide sendiri.
“Halooo, ini di Indonesia yang apa-apa harus pakai ijazah.”
Untuk pernyataan ini, kami masih bisa menjawab. Tapi untuk pertanyaan di awal, bagaimana menanggapinya?

Jawab:
Anak HS juga bisa punya ijazah, kok. Justru dengan memilih HS, kita bisa lebih fleksibel dalam menentukan masa depan.

Bagaimana jika nantinya anak kita memerlukan ijazah seperti anak yang ikut sekolah formal? Tinggal HS dan ikut sekolah payung.
Kalau sudah cukup dengan ijazah kesetaraan saja? Ya sudah, HS saja plus ikut PKBM.

Bagaimana kalau ingin kuliah di luar negeri? Apakah masih perlu ijazah lokal?
Kalau begitu, cukup dilihat persyaratannya saja. Biasanya ada opsi harus memiliki sertifikat kurikulum tertentu. Ikuti saja tesnya, misalnya Cambridge, GAC, dan lain-lain.

Jadi, kalau anak kita tidak memerlukan ijazah dan ingin menjadi pengusaha saja? Tidak masalah.

FYI, jalur formal pun ada juga yang tidak mengeluarkan ijazah, atau dapat ijazah tapi dari Depag sehingga belum tentu diterima di sekolah negeri. Jadi, jangan takut dulu. 😊

2.

Saya merasa diri ini masih labil emosinya, terutama kepada anak. Sedangkan untuk HS, sepertinya orangtua (terutama ibu) dituntut untuk extra multitasking. Mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, mempersiapkan pembelajaran anak, sekaligus menjaga kestabilan emosi anak. Sedangkan menjaga kestabilan emosi ibunya, siapa yang akan membantu?

Tentu ada Allah dan suami. Juga ada halaqah pekanan untuk me-recharge diri. Tapi saat suami pergi kerja, kadang-kadang khawatir belum sabar menghadapi rengekan ini itu.

Itu yg terjadi sekarang, mood saya belum stabil. Khawatir dzolim sama anak 😔

Jawab:
Saya juga selalu berpikir seperti itu.
Tapi dengan berniat ingin HS (ini baru niat ya), ternyata efeknya saya jadi lebih semangat memperbaiki diri, semangat berakhlak baik, semangat mencari ilmu, menambah wawasan, semangat bertemu dengan ibu-ibu hebat di Sabumi, dipaksa kreatif (padahal saya setiap crafting hasilnya selalu jelek, tiap masak hasilnya selalu ngga enak 😭😭😭), dan dipaksa siap untuk jadi guru hebat untuk anak saya.

Walaupun mungkin nanti kenyataanya saya tetap mencoba menyekolahkan anak dulu, ya tidak apa-apa. Yang penting semangatnya HS, yaitu belajar sepanjang hayat untuk saya pribadi dan anak-anak saya.

Jujur, saya juga masih banyak keterbatasan ilmu, emosi yang labil, dan banyak takut ini itu 😔.

3.

Saya memiliki kekhawatiran jika kami sebagai orangtua dipanggil lebih dulu oleh Allah, sedangkan anak-anak masih kecil. Jika mereka tidak sekolah formal, bagaimana melanjutkan HS-nya? Siapa nanti yang akan bertanggung jawab?
Kalau masuk sekolah formal saat itu terjadi, apakah bisa langsung “loncat” dari HS ke sekolah formal?

Jawab:
Perpindahan jalur ini sebenarnya sudah diatur dalam Undang-undang. Coba dilihat Permen No. 17 tahun 2010 pasal 71, 73, dan 81 insya Allah. Intinya, itu bisa dilakukan dan dilindungi secara hukum juga.

Pada kenyataannya memang ada yang mulus dan ada yang tidak, karena banyak sekolah yang belum mengerti soal Permen ini. HSMN bersama pihak Diknas Kota Bandung bagian Sekolah Rumah sedang mengupayakan hal ini agar para pelaku HS tidak merasa dipersulit.

Sementara itu, inilah pentingnya orangtua terbiasa membuat catatan perkembangan anak (rapor/portofolio) yang dapat membantu sekolah untuk menempatkan anak pada jenjang yang paling tepat untuk dirinya.

Lebih membantu lagi bila anak HS ada dalam PKBM yang legalitasnya sudah dipayungi sehingga bisa ikut membantu soal pengisian rapor, ijazah, dan sebagainya. Ini berlaku juga untuk anak-anak HS yang di tengah jalan ingin pindah ke jalur formal. Di atas segalanya, biidznillah tentunya 😊.

Terus terang ini pasti menjadi kekhawatiran kita semua. Tapi suami saya pernah menasehati, kenapa yang paling utama adalah menanamkan iman?
Kenapa mengajarkan adab?
Kenapa menyempurnakan akhlak? Karena justru itu bisa memudahkan hisab kita yang pertama tentang apa yang diperintahkan Allah di surat At-Tahrim ayat 6.

Apa yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah jika ditanya tentang itu?
Juga apa yang kita wariskan jika kita meninggalkan anak-anak dalam usia dini sebelum kita pernah berikhtiar untuk menanamkan iman?

Mungkin hasilnya tidak akan terlihat sekarang. Tapi jika mempelajari sirah nabawy, kita bisa perhatikan bagaimana generasi nubuwah itu tumbuh dan terpelihara karena iman sebagai fondasi utama.

4.

Dalam kasus orangtua meninggal, selain membantu urusan formalnya, apakah Sabumi juga bisa mengambil alih sebagian tanggung jawab pendidikan iman, adab, dan akhlak jika anak belum sampai usia baligh?
Jujur saja pelajaran-pelajaran utama dan pertama ini yang paling menjadi kekhawatiran saya jika tidak tersampaikan ke anak, mengingat keluarga besar saya juga bukan orang-orang yang paham betul soal pentingnya pelajaran-pelajaran tersebut untuk diberikan kepada anak sebelum pelajaran-pelajaran lain yang sifatnya kognitif.

Jawab:
Bukan Sabumi yang mengambil alih ya Bunda, bukan siapapun. Tanggung jawab itu tetap ada pada orangtua. Sabumi hanya sebagai wadah komunitas di wilayah Bandung pada khususnya, yang nantinya akan membantu mendampingi para orangtua dalam melaksanakan pendidikan dengan kurikulum anak usia dini (berdasarkan pertanyaan ini) berkaitan dengan urutan HS yang muslim dimulai dari iman, adab, ilmu, dan amal.

Inilah yang membedakan anak HS dan jalur formal (sekolah). Kalau pelaksanaannya diambil alih, apa bedanya antara anak HS dan sekolah formal? 😊

Itulah pentingnya kita mempersiapkan pengetahuan agama bagi anak, sebelum ia bisa dilepas sendiri, sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput. Anak yang fondasi agamanya sudah cukup kuat, meski lingkungan punya faktor x, tetap kemampuan analisis dan mengambil kesimpulan terhadap masalahnya akan lebih baik ketimbang yang lalai ditarbiyah sejak dini.

5.

Saya adalah seorang pengajar sekolah formal di SMA dengan jadwal yang full setiap hari sampai jam 3 sore, dan jam 4 baru bisa pulang. Kecuali hari Senin dan Jumat bisa pulang setelah jam 1 siang.
Nah, kalau ingin menerapkan HS kepada anak saya bagaimana caranya? Sementara sebagai ibu, saya juga wajib mengontrol kegiatan anak saya.

Jawab:
Soal working mom yang ingin ber-HS, mungkinkah?
Boleh dibaca-baca ulang di sini ya teh:
https://sabumibdg.wordpress.com/2016/03/21/homeschooling-with-working-mom-mungkinkah/

Selalu ada cara. Kerja sama tim antara suami dan istri adalah modal utama. Selain itu, keberadaan komunitas pendukung juga bisa menjadi tempat kita mengamanahkan dan menitipkan anak HS.
Paling ideal memang orangtua ada di tempat untuk menjalankan ini. Akan tetapi pada kondisi dimana orangtua harus bekerja, tidak menutup kemungkinan HS tetap bisa dijalankan.

6.

Mengapa kita harus membuat portofolio anak, terutama jika memilih HS?

Jawab:
Portofolio itu penting, lho, dan ternyata itu adalah salah satu dari beberapa hal yang harus dimiliki anak homeschooler atau student.
Kalau ibu-ibu ada yang mengenal Asy-Syahid Hasan Al-Banna, beliau adalah seorang guru dan juga da’i. Beliau memiliki portofolio semua anak, yang tercatat dalam satu folder untuk masing-masing anak, mulai dari riwayat kelahiran, sakit yang pernah diderita, obat yang pernah diberikan dokter, tahap tumbuh kembang, alergi, faktor penyebabnya, dan hal lain hingga sangat mendetail. Ini bisa dicek di buku “Cinta di Rumah Hasan Al-Banna” atau “Persembahan Cinta Istri Hasan Al-Banna”.

Jika disimpulkan dari semua ini, dua hal yang harus kita kuatkan saat memutuskan untuk menjadi sumber energi bagi anak-anak adalah:

1. Semangat belajar yang tak pernah padam, dan
2. Realisasikan rencana yang kita miliki.

Betul, sesuatu yang sempurna itu wajib diikhtiarkan tapi bila support system belum memungkinkan untuk itu, mulai menjadi “pemain” tentu lebih baik daripada kita terus duduk di kursi penonton sambil terus memperpanjang angan-angan. 😊
Mungkin di antara kita ada yang merasa hanya orang biasa tanpa keahlian apapun serta berasal dari keluarga yang jauh dari agama. Namun, itu jangan dijadikan alasan untuk tidak belajar. Azzamkan dalam hati kalau saya ingin memperbaiki diri dan keturunan. Tentu ini tidak dapat di-outsourcing-kan. Kembalikan pada diri sendiri, mau bergerak atau tidak?

7.

Memperpanjang angan-wngan ini bagaimana maksudnya?

Jawab:
Memperpanjang angan ini sudah diatur dalam agama kita, Islam ini. Rasulullah sangat melarangnya, baik angan-angan masa lalu, kini, ataupun masa depan.

احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل : لو أني فعلت لكان كذا وكذا، ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن ” لو ” تفتح عمل الشيطان

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki’, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan setan.”

Petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam [ketika menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah] supaya mengucapkan ucapan-ucapan yang baik [dan bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah].

Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala yang bermanfaat [untuk di dunia dan di akhirat] dengan senantiasa memohon pertolongan Allah. Larangan bersikap sebaliknya, yaitu bersikap lemah.

Semoga bunda semakin merasa kuat dikuatkan dari sini ya.

8.

Saya baru mau mulai HS-nya. Kalau sekarang ingin terstruktur dan ada pola pembelajaran dengan membebaskan anak-anak berekplorasi dan mengamati.
Baru mulai membuat portofolio anak-anak, mengumpulkan dokumentasi anak-anak yang disimpan rapi di kotak, sambil melihat-lihat lagi polanya.
Menempatkan diri sebagai fasilitator setelah mengamati minat anak-anak ke mana.
Masih ada kekhawatiran terhadap kemampuan diri, takut mandeg di tengah jalan. 😁
Alhamdulillah, bersama suami bisa menjadi a home team, jadi ada yang diajak diskusi dan bicara.
Saya ingin anak-anak punya keahlian saja, tidak perlu berijazah formal. Kalau punya keahlian yang betul-betul ditekuni dan diseriusi bisa menjadi jalan untuk bertahan hidup, bahkan bisa bermanfaat luas untuk orang banyak.

Jawab:
Tidak mengapa cita-cita tinggi untuk karir anak di dunia, tapi yang utama katakan pada anak:

“Nak…
Ibu bahagia bisa mendampingimu di dunia.
Alangkah indahnya jika kebahagiaan ini abadi hingga kelak di surga-Nya.”

Apalagi jika saat ini anak-anak masih tahap usia dini. Di grup ini juga yang sudah HS mungkin masih hitungan jari, tapi 5 tahun lagi mungkin sudah tidak seperti sekarang.
Yang terpenting bukan apa yang nanti terjadi pada anak-anak, apalagi rezeki sudah dijamin di sisi Allah, melainkan keimanan, sesuatu yang harus diupayakan sendiri.
Sungguh merugi jika waktu yang kita lewati bersama anak-anak, tidak menjadi jejak berharga bagi kehidupan akhirat yang kekal nantinya.

Mungkin di masa dewasanya anak-anak kita nanti, dunia tidak seperti sekarang. Mungkin saja ijazah atau rapor malah jadi tidak berlaku?
Mungkin saja, kan? 😁

9.

Iman-Adab-Ilmu-Amal.
Adakah dalam referensi aktivitas HS yang tadi Teh?
Background kita beda-beda ya kan, Teh? Saya benar-benar tidak PD tentang iman, adab, ilmu, dan amal tadi, orangtuanya pun tidak kompeten.
Bisakah Sabumi membantu para orangtua supaya lebih kompeten lagi sehingga lebih PD lagi untuk bisa ber-HS?
Kalau ada kuliahnya, kalau ada panduannya, kalau ada bimbingannya, saya ingin sekali ikut. Mulainya dari mana?

Jawab:
Insyaallah on progress. Doakan ya.
Ini ada tahapannya, salah satunya adalah bersabar dalam menuntut ilmu. Tidak semua hal bisa didapat dalam satu waktu seperti magic.
Sebagai permulaan agar sama-sama bergerak, tidak berlebihan jika kita mulai dengan memperbaiki fikroh (mindset). Ini adalah sebuah ajakan karena memutuskan untuk HS atau tidak, tarbiyah kita sebagai orangtua kepada anak tetap berjalan.

10.

Teteh-teteh semua, saya mau bertanya, nih. Saya ingin belajar menerapkan HS untuk anak saya nanti. Tapi, suami masih ragu dengan kemampuan diri kami. Malah takut tidak mencapai target. Kalau tidak sejalan dengan suami, tapi saya tetap keukeuh ingin HS bagaimana ya?

Jawab:
Terlepas dari usia ananda, bila merasa ragu atas kemampuan diri, kuncinya hanya satu, kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah. Analogi paling mudahnya begini:

“Aku mau siiih pake jilbab. Tapii…belum siap. Jilbabin hati dulu kali ya sekarang mah, ntar kalau udah siap baru pake.”

Question: Siap? Siapnya kapan? Sampai kapan umur kita?
Besok, lusa, sekarang, kapan saja malaikat maut mengintai.
Kalau pegangnya Al-Quran, pasti ngga pakai nanti-nanti, karena wajib hukumnya.

Sama halnya pendidikan anak (HS maupun tidak), saya memilih kata “tarbiyah” ya Bunda, tunggu siap? Siapnya kapan, Bunda? 😊

Pilihan HS atau tidak, tarbiyah anak adalah sebuah kewajiban yang dalilnya sudah jelas. HS hanya memberi keleluasaan untuk orangtua dan anak dalam menentukan target yang mau dicapai. Kalau saya tidak mampu sampai Z, oke kita buat 4 tahap. A to G, H to M, dst sampai Z. Beri jeda sebaik mungkin, seperlunya yang dirasa. Punya keleluasaan mengenai apa yang seharusnya saya pelajari di awal sebelum kita naik ke level berikutnya. Punya keleluasaan menentukan jalan bagaimana yang harus saya tempuh untuk target yang saya buat. Jangan muluk-muluk dulu, gol akhir kita adalah jannah, Bunda. Kejar dunia untuk akhirat, bukan kejar dunia untuk dunia.
Pelan-pelan, Bunda, tapi istiqomah. Nanti taufik Allah menyertai. Belajar kalau sekaligus, hilangnya juga sekaligus.
Mengobrol sebanyak-banyaknya waktu yang ada dengan suami. Samakan dulu visi dan misi. Karena benar Bun, HS tanpa visi yang sejalan antara kedua orangtua adalah sesuatu yang sulit. Musykil mungkin tidak, selama Allah izinkan, tapi sulit.

11.

Kalau misinya “harus menjadi guru yang hebat untuk anak” kok rasanya berat banget ya. Di HS, orangtua hanya sekadar fasilitator kan ya? Bukan dituntut harus bisa, apalagi menguasai semua hal.

Jawab:
Tugas kita sebagai orangtua adalah membekali anak dengan kecintaan akan ilmu, dan mengarahkannya ke referensi yang benar. Mudah-mudahan jika budaya belajarnya sudah terbentuk, dia akan mencari sendiri jawaban-jawaban atas pertanyaan ilmiahnya.
Kita tidak perlu menjadi superwoman yang bisa segala hal. Tapi, kita perlu terus belajar dan berusaha menjadi ibu yang sebenarnya bagi anak-anak kita.

12.

Kalau bersama Sabumi itu rasanya PD dan semangat banget untuk HS. Yang membuat tidak PD adalah diri sendiri, kemampuan diri, keterbatasan ilmu, atau suka kehabisan ide mencari aktivitas belajar anak agar tetap berkegiatan. Apalagi kalau sudah usia sekolah, apakah kebutuhan belajarnya akan terkejar oleh kemampuan kita?

Jawab:
Semakin besar, anak akan semakin pintar. Mungkin tidak akan terkejar oleh kita. Jadi, ada satu keterampilan penting yang harus kita tanamkan kepada anak, yaitu keterampilan dan kecintaan untuk belajar (bukan keterampilan untuk mengikuti pelajaran, ya).
Peran orangtua akan lebih banyak sebagai fasilitator, bukan pengajar. Jadi, dari sekarang kita ajarkan mereka untuk mencintai belajar, mencintai membaca, sehingga membuat mereka memiliki keterampilan untuk menjelajahi dunia ini, mencapai cita-citanya dengan tangan sendiri. Menjadikan belajar sebagai kebutuhan sekaligus salah satu bentuk ibadah kepada Allah.
Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu, dari buaian hingga liang lahat, bahkan dianjurkan untuk menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Apalagi jika bisa menjadi penghapal Al-Quran, derajatnya akan ditinggikan di dunia dan akhirat.

13.

Saya masih belum kebayang, kalau anak HS membuat rapornya nanti bagaimana?

Jawab:
Bila ikut PKBM, rapor akan dibuat oleh PKBM yang bersangkutan. Melalui kerja sama dari progress report orangtua selama di rumah dan kehadiran fisik ananda di PKBM.
Jangan mengisi rapor hanya untuk memuaskan orang lain dengan deretan angka 9 di dalamnya. Kita tidak tahu, apakah anak benar-benar berusaha sesuai hatinya, atau terpaksa demi memuaskan orangtua, atau lebih parahnya malah mencontek. Hargai anak dari usahanya dalam mencapai nilai tersebut, bukan dari hasil akhirnya saja.

14.

Saya masih bingung membuat portofolio. Data yang saya masukkan di portofolio paling parameter perkembangan anak (karena masih balita) dan catatan harian seperlunya. Apa ada yang lainnya?

Jawab:
Betul Bunda. Portofolio untuk setiap anak bisa ditambah dengan hasil karya, foto kegiatan, dan interaksi kita di support grup ini. 😊
Atau mungkin celoteh anak-anak yang “ajaib” dan extraordinary atau gambar-gambar mereka yang menurut kita masih abstrak juga bisa kita masukkan di sana.
Tidak perlu bingung, lakukan sesuai passion dan sumber daya minimal dulu, sambil jalan bisa sambil terus melakukan perbaikan. 😘
Interaksi dengan komunitas itu misalnya ikut berpartisipasi dalam kegiatan fieldtrip, playdate, english club, arabic, cooking class, crafting online, renang, dan lain-lain. Itulah kenapa ada form kegiatan untuk diisi.
Selama ini banyak yang bilang, susah mencari referensi HS muslim. Jadi hasil googling yang keluar kebanyakan adalah aktivitas HS dari komunitas yang lain.

Sebenarnya sekarang kita lebih enak, lho, karena kita ditakdirkan bukan menjadi yang pertama merintis HS. Ada banyak sekali referensi keluarga HS, yang terdekat dengan lingkungan kita ada Teh Patra, Teh Kiki, Bu Ida, Teh Ratih Sondari, dan lain-lain. Saat beliau-beliau ini memulai, pasti tantangannya lebih besar. Sedangkan kita bisa menjadikan portofolio mereka sebagai referensi saat menjalankan HS.

15.

Untuk kurikulum HS, apakah persiapan formalnya bisa dibuat dari usia 0 bulan?

Jawab:
Untuk usia mulai 0 bulan atau anak usia dini, mungkin yang diperlukan dan ditekankan adalah home education-nya atau tarbiyatul aulad-nya dulu.

16.

Kalau untuk usia 0-2 tahun,contoh home education atau tarbiyatul aulad-nya seperti apa?

Jawab:
Untuk ananda di bawah usia 2 tahun, kegiatan yang disarankan adalah semua aktivitas yang bisa membantu mengoptimalkan sensorik dan motoriknya sesuai dengan milestone tumbuh kembang ananda. Insya Allah lebih enjoy ya. 😊

17.

Apa bedanya PKBM dan Sekolah Payung?

Jawab:
PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah suatu lembaga yang dibuat oleh dan untuk masyarakat. Lembaga ini bergerak di bidang pendidikan dan berada di bawah pengawasan dan bimbingan Dinas Pendidikan Nasional. Cakupan kegiatan yang ada dalam PKBM yaitu: Kejar Paket A-B-C, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kelompok Belajar Usaha (KBU), Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KPPU), Pemberdayaan Perempuan, Keaksaraan Fungsional Dasar Dewasa, dan Taman Bacaan Masyarakat (perpustakaan).
Untuk mendapatkan ijazah, pelaku HS bisa mengikuti ujian kesetaraan melalui program Kejar. Kejar Paket A setara dengan kelas 6 SD, Kejar Paket B setara dengan kelas 9 SMP, dan Kejar Paket C setara dengan kelas 12 SMA.

Sekolah payung atau umbrella school merupakan sekolah formal yang membolehkan para pelaku HS untuk mengikuti Ujian Nasional (UN) di sekolah tersebut. Ijazah yang dikeluarkan berasal dari Diknas dan sama dengan murid lain yang memang bersekolah di sana. Untuk biayanya bergantung kepada kebijakan sekolah.

 

***

PENUTUP
Memilih sekolah formal atau HS sejatinya bukan sesuatu yang kemudian memutuskan kita dari tanggung jawab mendidik anak-anak.

Awalnya mungkin kita bingung harus memulai dari mana, maka bersyukurlah ketika hari ini ananda masih belum masuk usia sekolah, karena kekhawatirannya akan berbeda dengan yang sudah usia sekolah.

Komentar nyeleneh akan mampir di telinga kita, yang sesungguhnya berlaku untuk keputusan apapun yang kita buat. Baik itu tentang sekolah atau hal lainnya, namun kita kembalikan kepada visi misi keluarga kita.

Paling tidak, kita beri jeda 6 bulan sebagai masa “transisi” dimana kita dan tim (pasangan plus anak) mencoba, memetakan kecenderungan masing-masing, melihat minat dan bakat, mempelajari ritmenya, dan merumuskan kebutuhan anak yang harus kita optimalkan, serta support system yang harus disiapkan.

Selain itu, mari kita tengok sejarah. Bagaimana para tokoh besar dunia mencatatkan namanya di panggung peradaban dengan dukungan penuh dan penerimaan, tak perlu selamanya menjadi Einstein jika anak kita memiliki kecenderungan berbakat menjadi Mozart, misalnya.
Tak perlu risau jika angka-angka atau aljabar tak dipedulikan, mungkin bakatnya seperti Buya Hamka yang pandai merangkai kata-kata.
Tak perlu mengharap mereka pemberani laksana Khalid bin Walid, mungkin bakatnya diplomasi seperti Mush’ab bin Umair.
Ada Al-Jahzi ahli zoologi,
Al-Jazari..
Al-Khawarizmi..
Al-Kindi..

Tapi Bu, bakat mereka semua dibutuhkan dalam mengisi kehidupan ini.
Memilih sekolah formal atau HS intinya sama: terima mereka dengan segenap kelebihan dan keistimewaannya, fokus memaksimalkan semua bakatnya, dan kenalkan dengan penciptanya. Sehingga, apapun keputusan Allah, panjang atau pendek kebersamaan kita dengan mereka, tugas kita sudah diikhtiarkan secara maksimal.

Jika memang harus mendampingi mereka belajar di rumah, semoga Allah memberi pertolongan dan keberkahan atas ikhtiar ini.

Kehebatan itu lahir kala kita bisa menembus tantangan. Kalau semuanya sesuai dengan keinginan, tak ada yang namanya perjuangan.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

💕💕💕💕💕

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahrim: 6)

💕💕💕💕💕

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Mulk: 2)

Insya Allah HSMN beserta segenap tim sedang mempersiapkan sesuatu yg bisa memfasilitasi kita sebagai homeschooler.

Apa itu?
Sabar ya, Ibu-ibu.
Enjoy your time.
Have a nice day.
Salam untuk semua ibu pembelajar hebat.
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s