Memahami Homeschooling

Mitos Seputar Homeschooling (9/10)

🌸🌸 Bagian 9 🌸🌸

Mitos Seputar Homeschooling

1. Anak homeschooler tak bisa bersosialisasi

Kenyataannya, anak di sekolah formal juga tidak selalu mendapatkan teman karib satu sekolah. Apalagi jika yang dimaksud sosialisasi sempit semacam bullying, budaya tidak jujur, tawuran, atau hal negatif lainnya.
Dengan homeschooling diharapkan anak mendapatkan tempat bersosialisasi yang positif dan bisa bergaul dengan orang yang dapat memberikan teladan bagi tumbuh kembang sisi psikologisnya.

2. Orangtua tidak PD menjadi guru

Seringkali kalimat ini tercetus akibat pola penilaian yang terlanjur mengakar di masyarakat kita. Ada anggapan bahwa guru adalah orang yang serba tahu, berdiri dan berbicara sepenuh waktu untuk berbagi ilmu dan didengar siswa, juga tak pernah berbuat salah. Padahal di dalam homeschooling, siapapun bisa menjadi guru.
Mereka yang bisa menghantarkan ilmu dan membantu memecahkan suatu misteri ilmu, layak menyandang status guru.

Tukang cincau yang mahir mendeskripsikan cara pembuatan cincau dari daun hingga menjadi sajian sedap, layak menjadi guru.
Penjual batu yang bisa menjelaskan cara memilih batu yang baik, juga layak disebut guru.
Karena fungsi guru sejatinya adalah menanamkan konsep belajar yang mandiri, mental pantang menyerah dan sikap yang menjunjung tinggi profesionalisme.

3. Harus ada alokasi waktu khusus seperti di sekolah

Bayangan kaku ini tentu saja membuat galau.
Bagaimana dengan pekerjaan rumah?
Refreshing?
Hobby?
Bukan itu… Homeschooling seharusnya dibuat lebih fleksibel dengan aktivitas kita karena sistem belajarnya yang mandiri.
Orangtua disini hanya memfasilitasi, bukan mengambil alih alur pembelajaran. Tumbuhkan motivasi dalam diri mereka.
Biarkan mereka berinovasi, mengambil inisiatif, lalu dorong menjadi ahli.

4. Jam belajar HS kurang memadai

Durasi belajar bukanlah ukuran kesuksesan sebuah proses pembelajaran. Dengan memilih topik bahasan, tentu efektivitas belajar menjadi lebih optimal.

5. Homeschooler tidak disiplin

Dalam masyarakat sering kita temukan kasus dimana anak hingga orang dewasa mengabaikan suatu peraturan padahal peraturan itu telah dibuat dengan kuat.

Sementara bagi kita, seorang muslim, hakikat disiplin sejatinya adalah komitmen kuat yang lahir dari kecintaan. Itulah sebabnya yang pertama harus kita tanamkan adalah adab.
Ketika mereka komitmen terhadap adab, komitmen terhadap hak Allah, tak ayal disiplin pada peraturan buatan manusia pun adalah suatu keniscayaan.
Sebuah good value yang sangat menggiurkan, bukan?

6. Homeschooler tidak berijazah

Biidznillah, saat ini Sabumi dan HSMN sedang berproses untuk dapat menerbitkan ijazah bagi para homeschooler. ^^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s