Homeschooler Story

[HS Keluarga Ibu Ida Nuraini] Urgensi Tarbiyatul Aulad

💥 Resume Sabtu Bersama Bu Ida bagian 1

Sabtu, 14 Mei 2016
Pukul 09.00-11.00 WIB
Moderator: Tim admin Sabumi
Notulen: Teh Dessy Afriyani

Assalamu’alaikum ummahat..

Setelah sebulan bersama homeschooling keluarga Juwana, bulan ini kita akan bercengkrama dengan kelas HS bersama Ibu Ida Nur’aini.

Ada apa saja menu 4 pekan ini?

🖊Minggu ke-1
– Yang perlu diketahui tentang homeschooling
– Urgensi tarbiyatul aulad ditanamkan sedini mungkin

🖊Minggu ke-2
Share HS keluarga Ibu Ida
– Jadwal pelajaran
– Kebiasaan-kebiasaan harian
– Pembagian tanggung jawab mengajar antara ayah dan bunda
– Guru tambahan selain orangtua
– Buku-buku referensi/media belajar
– Membuat media ajar

🖊Minggu ke-3
– Kurikulum
– Standar kompetensi yang dituju
– Proses membantu anak dalam menemukan minat bakat

🖊Minggu ke-4
– Ijazah, bagaimana proses anak-anak mendapatkan kesetaraan dalam legalitas
– Opsi-opsi jalur pendidikan tinggi anak HS

Wow..padat dan penting banget ya bundas?

📌Moderator:
Assalamu’alaikum Ibu Ida.. Bagaimana kabarnya?
Hatur nuhun sudah menyempatkan untuk berbagi bersama para wargi Sabumi.. Insya Allah di sini ibu-ibu sudah siap menyimak kuliah perHSan dari ibu.. 🙂

📌Ibu Ida:
Wa’alaikumsalam… alhamdulillah baik.. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah demikian pula dengan saudara-saudara saya di grup Sabumi ini… aamiin.

Saya diamanahi 3 anak, yang pertama laki-laki umur 14 tahun, kedua laki-laki juga umur 11 tahun, dan ketiga perempuan umur 7 tahun. Insya Allah ada calon keempat masih mau 3 bulan di kandungan.

Alhamdulillah ketiga anak HS. Anak pertama sedang persiapan untuk ikut ujian paket B dan anak kedua ikut ujian paket A. Sedangkan anak ketiga masih belajar apa saja sesuai dengan yang anak ingin tahu.

Sedikit prolog dari saya, bahwa anak-anak saya adalah anak-anak deschooling, semuanya pernah bersekolah. Pertama pernah sekolah hingga kelas 4. Anak kedua hingga kelas 3. Anak ketiga pas TK A. Nah, memulai HS untuk anak-anak deschooling lebih membutuhkan perjuangan daripada anak-anak unschooling.

Kayanya itu ya sekilas dari saya. Baiknya langsung tanya jawab saja.

📌Teh Dyah:
Bu Ida, mau tanya tentang urgensi tarbiyatul aulad dalam kurikulum keluarga muslim baik yang nantinya mau HS maupun tidak.

Syukran jazakillah khayr ❤

📌Ibu Ida:
Kalau menurut saya, tarbiyatul aulad diberikan sejak memilih pasangan yang saleh, sejak dalam kandungan, ketika anak lahir, hingga anak itu mandiri di usia akil baligh. Jadi, tarbiyatul aulad itu mutlak dilakukan oleh orangtua, baik pelaku HS maupun bukan. Terutama di usia anak 0-7 tahun, pendidikan utamanya di tangan orangtua. Mulai dari menanamkan tauhid dan akidah yang benar kepada anak, mengajari anak melaksanakan ibadah, mengajarkan adab dan akhlak yang mulia, mengajarkan Al-Quran dan zikir ringan/sederhana ke anak, melarang anak dari perbuatan yang diharamkan, menanamkan cinta jihad, dan membiasakan anak dengan pakaian yang syar’i.

📌Teh Nisa:
1. Bagaimana menyiapkan HS untuk pemula, apa yang harus disiapkan untuk awal-awal?
2. Kalau kasusnya seperti anak-anak Bu Ida yang sempat sekolah dan berhenti di tengah, untuk awalnya apa yang harus dilakukan untuk lanjut HS?

📌Ibu Ida:
Persiapan HS untuk pemula adalah aktivitas yang membiasakan anak memiliki adab dan akhlak mulia. Kalau saya memulainya dengan pembiasaan melakukan hal-hal yang disunnahkan Rasul, misalnya mandi sebelum Subuh, ini bisa kami lakukan sekarang pas musim panas. Tapi kalau musim dingin ini tidak bisa kami lakukan. Namun mungkin kalau hidup di Indonesia tidak masalah ya. Kemudian adab masuk kamar mandi, adab mau tidur, adab pergi, dan lain-lain. Sebelum memasuki usia wajib sekolah lebih kepada aktivitas tersebut sambil diselingi kegiatan lainnya, misal bermain di luar, main tali, main engklek, dan membantu orangtua. Nah, membantu orangtua ini sudah mulai dibiasakan sejak anak bisa berjalan mulai dengan hal-hal sepele, seperti menaruh piring kotor ke tempat cucian. Melatih mandiri juga sejak anak bisa berjalan, misalnya mengambil baju sendiri ketika mau mandi.

Nah, ini dia yang tadi saya katakan butuh perjuangan untuk anak-anak deschooling. Karena mereka sudah terbiasa punya jadwal dari sekolah. Awal tidak sekolah, mereka bingung mau ngapain meski mereka yang minta. Hampir selama 1 tahun bongkar pasang jadwal kegiatan. Sampai akhirnya anak menemukan polanya sendiri. Awal untuk lanjut HS adalah komitmen mereka memilih HS. Saya sama suami seminggu sekali evaluasi kegiatan selama seminggu. Akhirnya kita sepakati ada jadwal utama, yakni belajar agama dan membantu orangtua, baru kemudian pelajaran akademis.

📌Teh Liza:
Jadi tetap punya schedule supaya ngga jomplang banget sama kebiasaan terjadwal dari sekolah ya Bu?

📌Ibu Ida:
Iya, jadi meski belum sekolah, sudah punya jadwal dan jadwal membantu orangtua dan keperluan pribadi itu lebih utama daripada belajar akademis. Itu kalau di keluarga saya ya. Saya dan suami sering menekankan kepada anak-anak, kami tidak meminta anak-anak untuk pintar akademis namun kami minta mereka saling kerja sama, punya kepekaan ketika orang lain membutuhkan bantuan, dan adab/akhlak mulia dan itu sering ditekankan sejak mereka masih sekolah. Kalau kami pertanyaannya sudahkah kalian membaca Quran dan buku? Bukan sudahkah kalian belajar? ✅

📌Teh Helmi:
1. Bu, apa dasar Ibu mengHSkan anak? Apakah anak-anak juga memilih HS atau atas arahan ibu?

2. Anak pertama kan sudah pernah sekolah formal ya Bu. Bagaimana strategi menjalankan masa transisinya dan berapa lama? Anak saya sedang dalam masa ini tapi karena jiwa sosialisasinya tinggi, hampir semua kegiatan ingin dilakukan dengan teman-teman. Bagaimana mengatasinya ya Bu?

3. Bagaimana ibu menyusun kurikulum untuk anak-anak dan memastikan bahwa kurikulum itu sudah sesuai atau belum?

📌Ibu Ida:
HS itu permintaan anak pertama yang waktu itu di-bully sama sekolahnya. Karena minat anak ke desain terhambat akibat tiap dijelaskan guru di kelas, anaknya malah menggambar. Dia dianggap tidak mendengarkan dan gambarnya direbut paksa sama gurunya. Anak pun merasa tidak nyaman. Ini terjadi sejak kelas 3 hingga kelas 4. Akhirnya kelas 4 mulai semi HS, masih sekolah formal tapi jarang masuk sekolah. Kalaupun toh sekolah, masuknya hanya setengah hari. Akhirnya kelas 5 full HS namun masuk ke sekolah payung, anak masuk sekolah hanya pada saat ulangan/tes saja. Anak pertama ini ketika pindah ke Semarang, sempat sekolah lagi kelas 1 SMP karena permintaan eyang kakungnya yang tidak sanggup jika melihat anaknya hanya menggambar tiap hari. Akhirnya HS lagi ketika menyusul ayahnya atas permintaan anaknya. Sedangkan adik-adiknya karena melihat kakaknya yang HS tertarik untuk HS dengan alasan ingin belajar seperti kakak, belajar sesuai keinginan.

2. Masa transisi hampir 1 tahun, pasang surut, terutama ketika anak mulai bosan dengan aktivitasnya. Akhirnya kami menemukan kuncinya melalui diskusi dengan anak-anak dan membangkitkan semangat mereka dengan memberikan kalimat bahwa orang yang berhasil adalah orang yang haus dengan tantangan namun bisa menemukan solusinya. Itu juga saya rasakan dengan anak pertama yang jiwa sosialisasinya tinggi. Hingga ada suatu masa ketika anak saya izin untuk rihlah dan melakukan khuruz selama seminggu dan itu usianya masih 13 tahun. Awalnya saya ragu dan takut anak umur 13 tahun pergi seminggu tanpa orangtua mau ngapain? Tapi suami mengingatkan saya bahwa anak usia baligh semangatnya menggelora dalam segala hal. Kebetulan semangatnya dalam mencari ilmu dan beribadah, jadi kenapa dilarang dan dikhawatirkan toh bersama jamaah yang kita juga tau seperti apa aktivitasnya. Akhirnya kami izinkan anak tersebut ikut dan alhamdulillah hasilnya luar biasa. Akhlak dan ibadahnya makin baik. Akhirnya sekarang ini, menjadi kebiasaan anak untuk rihlah setiap jamaah dari luar Taiwan datang ke Taiwan. Selain ikut rihlah, anak sering ikut kegiatan organisasi kampus di kampus ayahnya maupun di kampus lain seperti aktif di kegiatan PPI. Kami pesan kepada para mahasiswa untuk tidak menganggap anak saya sebagai anak pupuk bawang. Dia harus dianggap sama, diikutkan dan diberi tanggung jawab yang sama dalam kegiatan. Kalau salah ditegur juga.

Penyusunan kurikulum dalam keluarga saya dengan bertanya ke anak-anak, minggu depan mau belajar apa. Misalnya minggu ini Rara sedang senang belajar geografi, ya saya ikuti keingintahuan anak. Ketuntasan belajar anak adalah ketika anak paham saat ada tanya jawab. Indikatornya bukan dengan menjawab benar tapi anak bisa menceritakan kembali apa yang dipelajari.

📌Teh Dyah:
Belajar dalam keluarga Ibu termasuk di dalamnya adalah keterampilan hidup ya, bukan cuma duduk diam di depan meja?

📌Ibu Ida:
Iya Teh Dy, penekanan dan fokus pada keterampilan hidup. Duduk diam hanya pada saat saya sedang menjelaskan materi karena ini kaitannya dengan adab belajar. Belajar tidak boleh sambil membawa bantal guling selimut, atau sambil tiduran, sudah mandi dan sarapan. :D✅

📌Teh Rintan:
Ibu, bagaimanakah mengejar “ketertinggalan” untuk anak yang sudah besar? Apakah berarti yang sulung pun harus mengikuti atau start mulainya sama dengan adik-adiknya?
Misalkan banyak hal dasar yang harusnya diberikan pada saat masih kecil tapi itu ternyata setelah dilihat dan dievaluasi belum disampaikan, sedang usia anak sudah bukan masa golden age lagi dan yang pasti akan lebih berat dan susah saat diterapkan lagi ke anak, misal dari sisi adab atau segi kemandirian.

📌Ibu Ida:
Saran saya, pertama kali minta maaf dulu ke anak. Setelah itu, kasih tahu ke anak hal-hal yang perlu dikejar. Komunikasikan dengan anak bahwa itu salah orangtua yang waktu itu belum paham, belum punya ilmunya. Itu juga saya lakukan ke anak pertama karena waktu itu sibuk kerja, anak lebih sering dan lama sama pembantu. Saya minta ke anak untuk mengingatkan saya hal-hal apa saja yang perlu saya ajarkan dan saya minta ke anak untuk tidak malu jika belajar bersama-sama dengan adiknya untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Anak pertama ini luar biasa bossy. Karena terbiasa ada pembantu sejak hamil hingga SD kelas 5. Adiknya yang sering jadi korban sikap bossy-nya. Nah, saya, suami, dan anak sama-sama mengevaluasi diri. Kami akui itu kesalahan orangtua. Adiknya kami kasih tau kalau disuruh kakak jangan mau kecuali kakaknya sakit. Kakak juga kami kasih tau untuk tidak menyuruh-nyuruh adiknya. Alhamdulillah sudah mulai berkurang dan itu butuh kesabaran dalam menjalani proses tersebut. Mengingatkannya sampai berbusa. Dan itulah seninya menjadi orangtua.  :D✅

📌Teh Ami:
Bagaimana menyiasati kultur belajar HS anak-anak yang deschooling Bu, Sehingga anak tidak lantas merasa ‘tidak belajar’ saat HS?

📌Ibu Ida:
Hilangkan mindset kalau tidak belajar pelajaran akademis itu tidak belajar, misal kalau tidak belajar matematika maka belum belajar. Anak-anak deschooling akan makin sulit untuk mengetahui apa yang menjadi keingintahuannya dan minat belajarnya kalau belajar terpaku pada mata pelajaran yang “wajib” dipelajari. Berikan kebebasan anak mau belajar apa. Namun harus tetap punya kurikulum wajib atau jadwal wajib dalam sehari itu anak mesti melakukan apa. Misal untuk anak-anak saya, tadi saya jelaskan yang wajib itu membaca Quran, membaca buku, tugas pribadi, dan membantu orangtua. Membaca buku tidak harus mata pelajaran, ketika anak membaca buku ensiklopedi sama saja anak belajar.

Berkaitan dengan minta maaf ke anak, sikap tersebut justru memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan anak dan menghilangkan gangguan komunikasi dengan anak. Anak lebih mudah meminta maaf kalau salah, makin hormat dan menghargai kita.

📌Moderator:
Bu Ida, apa ada kesimpulan sebelum majelis ini kita tutup bersama? 😇🙏

📌Ibu Ida:
Mindset belajar untuk pelaku HS bukanlah dengan mempelajari mata pelajaran akademis, namun dengan bergerak beraktivitas, mengambil hikmah dari setiap kejadian, termasuk menemukan solusi ketika mempunyai masalah merupakan bagian dari belajar. Pelaku HS itu belajar setiap waktu, dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.  ✅

📌Moderator:
Saya tadi mencatat ada hal-hal penting. 💕💕

*Tarbiyatul aulad dimulai sejak dari pemilihan pasangan, masa kehamilan dan setelah lahir. Yang paling utama adalah penanaman akidah dan tauhid pada anak. Adab dan keterampilan hidup dilatih terus. 📝

*Untuk anak yang deschooling, buat jadwal sehingga anak tidak merasa bingung dengan kehidupan barunya. Belajar bukan hanya mata pelajaran saja, tapi biasakan anak membaca dan membantu orangtua di rumah. 📝

*Mindset haruslah diubah untuk keluarga HS, bahwa belajar bisa setiap waktu, dimana pun, dan dengan siapa saja. 📝

*Apabila ada 1 step pendidikan yang terlewat, orangtua sebaiknya meminta maaf untuk membuka jalur komunikasi dengan anak. 📝

Baik Bu Ida, jazakillah khoyron katsiro atas waktu yg diberikan. Semoga kita semakin semangat untuk HS. ;);)

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s