Homeschooler Story

Sharing Homeschooler Keluarga Ibu Ida Nur’aini (bagian 2)

🌼🍂🌼🍂🌼🍂🌼🍂🌼🍂🌼

Bismillaahirrohmaanirrohiim

🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺:)🌺

Resume diskusi SABUMI (HSMN BANDUNG)

Tema : Sharing Homeschooler Keluarga Ibu Ida Nur’aini (bagian 2)

Hari/tanggal: Sabtu/28 Mei 2016
Jam : 09.00-11.00 WIB
Narasumber: Ibu Ida Nur’aini
Moderator: Tim Adminah Sabumi
Notulen : Astri Pratiwi

Moderator:

Assalamu’alaikum ummahat shalihat.
Alhamdulillah hari ini kita bisa berkumpul dan belajar bersama lagi tentang homeschooling. Kali ini masih dengan narasumber ibu Ida Nur’aini. 👏👏👏

Assalamu’alaikum Bu Ida 🙂
Apakah sudah stay tune? 😁

Bu Ida:
Wa’alaikumsalam… Semoga tetap semangat ya…
Mohon maaf minggu lalu saya off karena kondisinya drop. Kondisinya kaya main roller coaster..😂
Semoga teman-teman bisa memaklumi ya..

Moderator:
Semoga sehat-sehat selalu ya buuu…
Dede utuun, yang soleh/solehah sama bunda yaa.

Oiya, agenda untuk hari ini adalah:

🖊Minggu ke-2
Share HS keluarga Ibu Ida
– Jadwal pelajaran
– Kebiasaan-kebiasaan harian
– Pembagian tanggung jawab mengajar antara ayah dan bunda
– Guru tambahan selain orangtua
– Buku-buku referensi/media belajar
– Membuat media ajar

Kita langsung mulai dengan sesi tanya-jawab ya.

Pertanyaan 1: Teh Firna
Bu, anak saya tahun ajaran nanti (bulan Juli) minta full HS. Selama ini jam sekolahnya dari jam 7 sampai jam 14.00. Saya agak gentar mengisi jamnya karena takut lari ke TV. Bisakah ibu memberi contoh kegiatan putra-putri ibu terutama yg usia 7-10 tahun?

Jawab:
Wa’alaikumsalam teh Firna.
Jika anak yang meminta untuk full HS, saran saya, anak diminta membuat jadwal pribadinya yang diajukan ke orangtua kemudian dibahas bersama-sama. Yang terpenting dibicarakan ke anak adalah konsisten dan tanggung jawab dengan jadwal tersebut namun juga tidak strict, misal ada toleransi jika molor 15 menit dari jadwal. Kalau anak mati gaya dengan jadwal tersebut, orangtua bisa memberikan alternatif pilihan.

Yang perlu diingat, untuk anak-anak deschooling ada masa anak mengalami kebuntuan beraktivitas dan itu sangat wajar. Saya butuh 1 tahun agar anak-anak stabil dengan jadwalnya. Itupun masih bongkar-pasang sampai sekarang.

Teh Firna:
Paham, Bu. Insya Allah. Maaf Bu, ada toleransi waktu ga berapa lama jadwal boleh bongkar pasang (per berapa minggu atau bulan?

Bu Ida:
Jadwal yang tetap untuk anak-anak saat ini, bangun tidur sudah pasti salat subuh, murojaah, aktivitas pribadi, dan membantu orangtua. Jam 7.30-08.00 siap belajar. Belajar agama hingga jam 11. Jam 11 hingga Zuhur belajar akademik. Setelah Zuhur, murojaah, lalu me time. Setelah Ashar, aktivitas di luar rumah. Maghrib dan Isya di masjid. Bakda Isya langsung tidur. Untuk anak pertama sudah punya jadwal tiap dua minggu sekali atau sebulan sekali rihlah/mabit. Anak kedua tiap minggu olahraga sama teman-temannya. Anak ketiga masih ikut kakak kedua atau orangtuanya.

Awalnya saya memakai jadwal yang ketat, semua serba terjadwal. Yang terjadi anak-anak ga nyaman dan ga semangat belajar. Namanya emak-emak maunya seidealis mungkin dan sebaik-baiknya. Eh, ternyata untuk anak baligh hal tersebut tidak berlaku. Akhirnya saya menemukan formula yang pas, saya perbanyak me time-nya. Ternyata anak-anak lebih punya banyak ide untuk ngoprek. Bongkar pasang minimal seminggu karena tiap minggu ada evaluasi.

Itu berlaku di keluarga saya ya. Masing-masing keluarga bisa berbeda dan orangtualah yang mengerti karakteristik anak-anaknya. Oh iya, meskipun me time-nya banyak namun tetap ada batasan dalam penggunaan gadget, sehari maksimal dua jam dan dibagi dalam dua periode.

Teh Firna:
Belajar agama di rumah ibu meliputi apa saja? Bagaimana jika gadget-nya plus dipakai belajar online bu? Saat ini saya pakai Memrise dan Ixl, Bu.

Bu Ida:
Belajar agama seperti hadits, mendengarkan kajian, tafsir, adab, dan shiroh.
Anak pertama malah tiba-tiba mengeluarkan wacana akan masuk pesantren di umur 16 tahun. Dia sibuk cari pesantrennya. Tahun depan ikut ujian paket B. Saya tanya, kenapa gak langsung saja lulus dari paket B langsung masuk pesantren. Ternyata anaknya punya alasan yang membuat saya membisu.
Anak bilang belum cukup waktunya belajar sama ayah bunda. Lulus paket B mau mematangkan konsep hidup dulu sama ayah bunda. Setelah itu, umur 16 tahun masuk pesantren untuk memperdalam agama. Anak sudah punya pilihan pesantren yang dituju. Tidak mau ke sekolah Islam Terpadu tapi pesantren yang belajar agamanya lengkap mulai dari sejarah, hadits, fiqih, bahasa Arab, hingga hafalan.
Katanya sebelum kuliah mau memperdalam agama dulu. Lulus pesantren, kalau ketemu jodoh nikah baru kuliah sambil kerja. Itu bikin emak sedih. 😭
Saya tinggal menghitung tahun bersama Raihan. Ternyata kebersamaan saya sama Raihan gak lama. 5 tahun lagi kalau masih ada rezeki umur. Makanya kenapa dia gak mau masuk pesantren umur 15 tahun karena sudah punya rencana besar untuk hidupnya.Orangtua hanya mengaminkan dan mendoakan.
Sejak umur 14 tahun, Raihan sudah dilatih mentalnya untuk pergi sendiri selama 3-7 hari. Sebetulnya itu juga melatih mental orangtua, sih.

Kalau untuk belajar online ada tambahan satu jam dan tetap dalam pendampingan. Biasanya sehari sebelumnya materi sudah di-download sehingga anak-anak tidak perlu online lagi.
Tadinya download 1 minggu sebelumnya ternyata H-1, anak-anak berubah pikiran, minta ganti materi, emak yang repot. Akhirnya sekarang, download H-1.

Bagus itu, kalau saya sih pakai aliran bebas sekarang. Anak minta materi apa kita cari bersama di internet lalu kita bahas bareng. Pengalaman langganan Ixl, anak bosan sebelum waktunya selesai. Langganan education.com ambil paket seumur hidup juga jarang dipakai. Kalau ini sih sebetulnya keinginan emaknya. Ternyata anak-anak lebih senang explore apa saja. Ya sudah, orangtua sebagai fasilitator saja.

Pertanyaan 2: Teh Ayu Gerhana
Memrise dan Ixl itu apa ya?

Jawab:
Memrise dan Ixl itu semacam chanel belajar online langganan dan berbayar. Memrise untuk belajar bahasa asing, sedangkan Ixl untuk belajar matematika.

Pertanyaan 3: Teh Fadhilah
Bu, bagaimana mengondisikan anak-anak agar disiplin melaksanakan schedule yang sudah dibuat? Apakah memakai sistem reward & punishment efektif? Terima kasih.

Jawab:
Ketika anak-anak membuat jadwal, saya suka tanya kalau jadwal itu tidak kamu lakukan terus konsekuensi apa yang harus kamu terima. Biasanya mereka akan memberi konsekuensi sendiri berupa pekerjaan di rumah, mulai dari menyapu rumah, mengepel, mencuci piring, masak, dan lain-lain. Jadi bukan saya sebagai orangtua yang memberi konsekuensi, tapi mereka sendiri yang menawarkan konsekuensi tersebut dan saya tinggal menagih janji mereka akan konsekuensi yang akan mereka jalani. Ini terbukti lebih efektif daripada konsekuensi tersebut datang dari orangtua.
Kalau mereka jalani, tidak selalu ada reward. Saya bilang itu sudah menjadi tanggung jawabmu dalam memenuhi amanah dengan jadwal yang kamu buat. Kalau reward biasanya akan diberikan 6 bulan sekali. Ini juga permintaan anak-anak. Awalnya tiap bulan tapi bentuknya kecil. Akhirnya anak-anak minta ditabung saja Bun, sampai 6 bulan biar bisa kerasa kalau rekreasi.

Moderator:

Wow..betul juga ya Bu. Mereka diajarkan tanggung jawab sedari kecil.
Bagaimana Teh Fadhilah, ada tanggapan?
Anak-anaknya usia berapa Teh Fadhilah?

Teh Fadhilah:
Anak yang pertama 6,5 tahun, yang kedua 2,3 tahun.
Iya Bu Ida, terima kasih masukannya, nanti saya coba. Kemarin saya mencoba dengan memakai sistem koin, tapi sepertinya belum efektif. Nanti saya akan coba praktikkan masukan dari Bu Ida.

Bu Ida:
Anak-anak sudah punya jadwal membantu orangtua tiap hari yang jadwalnya berbeda tiap hari, misal Raihan hari ini mencuci piring dan semua peralatan masak seperti panci, wajan, membersihkan kompor, dan memasak nasi. Adiknya Rama bertugas menyapu dan mengepel 1 rumah, ada 3 lantai. Nah, untuk konsekuensi, Raihan ditambah tugas menyapu dan mengepel 1 lantai dan tugas Rama berkurang. Contohnya hari ini Raihan ada rapat pengurus forum mahasiswa muslim Indonesia. Meskipun harus berangkat pagi, tugas tersebut tetap harus dikerjakan, tidak ada alasan pergi kemudian bebas tugas.

Selama Raihan tidak ada, tugasnya dikerjakan adiknya dan saya, maka ketika Raihan datang, saya dan adiknya bebas tugas.

Teh Fadhilah:
Jadi jika tidak dilaksanakan baru dikasih konsekuensi ya Bu, karena konsekuensinya mereka sendiri yang buat?

Bu Ida:
Mohon maaf, di keluarga kami yang masak tidak boleh membersihkan peralatan masak dan dapur karena masak itu sudah menyita waktu. :mrgreen:
Jadi, supaya yang tidak masak merasakan capeknya masak maka ada pembagian tugas untuk membersihkan peralatan masak dan dapur.

Moderator:
Nah, untuk Rara tugasnya bagaimana, Bu?
Mungkin bisa jadi contoh untuk anaknya Teh Fadhilah (dan anak saya juga) 😁

Bu Ida:
Kalau Rara tugasnya di-rolling membantu kakaknya. Seringnya sih ditanya ke Rara, hari ini mau bantu siapa, Kak Raihan atau Kak Rama atau ayah. 😀
Jadi anak bisa langsung belajar sama kakaknya, kakaknya jadi coaching untuk Rara.

Moderator:
Kira-kira efektifnya untuk usia berapa ya Bu, anak bisa membuat jadwal sendiri dan bertanggung jawab penuh?

Bu Ida:
Kalau untuk tugas pekerjaan rumah, baru tegas di usia 7 tahun. Mulai usia 10 tahun, baru mulai diberlakukan Quality Control (QC) untuk pekerjaan rumah.
Kalau bertanggung jawab penuh sejak usia baligh. Kalau mulai bisa membuat jadwal dari usia 5 tahun juga sudah bisa.
Sebelum umur 7 tahun masih tarik ulur karena anak akan trauma dan akhirnya tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali.

Pertanyaan 4: Teh Lies
Bu, bagaimana kalau jadwal hariannya berubah-ubah? Apa masih oke atau harus dievaluasi ulang? Alasan utamanya karena anak-anak (13, 8, 6, dan 3 tahun) memiliki karakter sendiri-sendiri. Apa harus ada jadwal yang tetap?
Perubahan jadwal ini setiap 2 hari sekali, Bu. Anak sulung saya ekstrovert, kadang suka ‘mengatur’ adik-adiknya hehe..

Jawab:
Perubahan jadwal kalau tiap minggu masih wajar, hehehe…. Kayaknya dimana saja tipe anak sulung seperti itu, Bu. Anak saya juga begitu, saya sebagai anak sulung juga begitu. Tapi saya menilainya sebagai hal positif, itu bentuk perhatian dan tanggung jawab kakak ke adik.

Kalau saya justru memakai gayanya yang suka mengatur itu untuk coaching adiknya, artinya ibu bisa punya banyak waktu untuk me time.
Raihan anak pertama hobinya desain, eh ternyata Rara anak ketiga sama seperti kakak sulungnya. Dia suka mengatur adiknya. Sang adik awalnya suka marah karena gak suka diatur kakaknya yang katanya gambarnya kurang beginilah atau begitulah. Akhirnya saya dekati adiknya, saya bilang ke Rara, “Adik Rara mau pintar gambar kaya Kakak Raihan?” Rara jawab iya. Nah, Kakak Raihan itu bukan mengatur, tapi pengen adik gambarnya jadi bagus. Akhirnya mereka sekarang akur tiap belajar gambar dan Raihan mau meluangkan waktu untuk mengajari adiknya menggambar. Meski biasanya diawali dengan jail, godain adiknya dulu. mulai dari minta dibuatin susu, roti bakar, dan lain-lain. Biasalah kakaknya cowok, adiknya cewek. Kakaknya bilang ongkos ngajarin gambar. 😂

Pertanyaan 5: Teh Rina
Bu, bagaimana membuat anak konsisten dengan komitmen yang dibuatnya? Karena anak ke-2 saya (11 tahun), sering awalnya komitmen tapi pas saya tinggal, dia sering abai sehingga jadwal yang sudah terpola jadi berantakan lagi. Dan sulit untuk memulainya lagi.
Apa yg harus saya lakukan?

Jawab:
Pernah ditanya ke anaknya alasan tidak konsistennya apa?

Teh Rina:
Keasyikan main, kadang main futsal, game, atau sepedaan ke temannya.

Bu Ida:
Pernah ditanya selain main, kegiatan apa yang anak sukai?

Teh Rina:
Anak saya suka baca, tapi kalau sudah bareng temannya, dia kadang lupa dengan bacaannya.
Kadang dia suka menggambar juga.

Bu Ida:
Kasusnya sama seperti kasus anak ke-2. Sebetulnya anaknya tidak mau HS, tapi karena kondisi di sini tidak memungkinkan untuk sekolah, maka anak harus HS. Awal HS, anak bingung mau ngapain, tiap hari sepedaan, main sepatu roda, main bola, entah sepak bola, basket, atau futsal.
Alhamdulillah anaknya tidak terlalu suka dengan game di HP. Tiap kali capek main, dia langsung tidur. Akhirnya saya kasih tantangan, kalau tetap seperti itu main sepatu roda atau main bola harus ada prestasi yang bermanfaat untuk masa depan. Saya tegaskan bahwa orangtua tidak melarang untuk beraktivitas seperti itu, tapi manfaat untuk masa depannya apa kalau tidak ada prestasi.
Anaknya juga suka membaca. Saya tanya cita-citanya apa, ke depannya pengen kuliah jurusan apa, suka dengan bidang apa. Saya dampingi dan temani untuk kembali fokus dengan bidang yang dia sukai. Akhirnya lama-lama berkurang. Meski kadangkala saya suka sedih karena percobaan kimia yang ingin dia lakukan sudah seperti anak kuliahan tapi tidak memungkinkan untuk dilakukan di sini karena repot izin ke kampusnya. Akhirnya dia hanya melihat percobaan kimia di Youtube.

Teh Rina:
Ok siap Bu…makasih banyak..🙏
Anak saya belum punya HP sendiri karena saya lihat dia belum bisa tanggung jawab. Dia suka pakai komputer, I-Pad, atau laptop kakaknya.

Bu Ida:
Sebetulnya kalau ada kakak, lebih enak kasih contohnya ,Bu. Bisa modelling dari kakak. Kalau saya dengan suami, prinsipnya pegang anak 1, setelah anak 1 jadi, enak mendidik adik-adiknya. Ketika saya ajak ngobrol anak kedua ini, saya modelling-nya dengan anak pertama yang sudah jelas arahnya mau ke mana. Bukan dengan membandingkan ya, tapi biarkan adik yang menilai. Jika adik seperti kakak, apa yang adik lakukan.

Teh Rina:
Anak ke-2 saya agak unik, kalau kakaknya tipe teratur. Anak yang ke-2 ini, prestasi sekolah bagus, sering dikirim untuk olimpiade-olimpiade sains, dia bisa ngoprek wifi, bikin antivirus program, game sederhana, dan lain-lain hanya lewat youtube. cuma dia kalau sudah main gak kenal waktu, sampai fisiknya jadi sering sakit.

Bu Ida:
Perjuangan berdarah-darah, salah kita kebanyakan di anak 1, tapi kalau anak pertama sudah bisa dipegang, ke adik gak akan susah.

Teh Rina:
Kalau saya mengobrol dengan kakaknya, biar dia jadi mentornya, susah nyambungnya, beda karakter.
Kadang jadinya mereka berantem..😓

Bu Ida:
Bisa jadi selama ini dia berprestasi bukan keinginan hati kecilnya, Bu, sehingga ketika sekarang dia suda baligh, sudah merasa bisa mengaktualisasikan dirinya dan punya keberanian, anak mulai berontak. Atau mungkin dia capek dengan beban prestasinya.

Teh Rina:
Anak saya dari kecil gak ikut les apa-apa kecuali berenang, atau main, camping-camping. Cuma dari TK minat dia ke sains terlalu berlebih, bikin saya pusing. Jawab pertanyaan dia, mesti belajar lagi. Dia dari umur 6 tahun suka buka buku-buku ayahnya atau yang berupa sains.
Pas dia bikin program komputer tapi bilangan biner, saya mual luar biasa. Ada seorang dosen ITB, mungkin dia bakat ke sana.

Bu Ida:
Ini terjadi pada anak pertama saya. Sejak SD dia sudah punya prestasi robot, animasi, sampai desain. Tapi ketika sudah baligh, anak bilang aku capek. Padahal semua kejuaraan dia ikuti karena maunya. Kata anak saya, punya prestasi seperti punya beban. Akhirnya dia tinggalkan kesukaan robot, animasi dan sekarang yang dipilih cuma desain. Saya cuma bilang pilih dan lakukan yang buat hidupmu bahagia dan bermanfaat untuk umat. Dan ternyata sekarang anaknya bahagia dengan pilihannya di bidang desain. Kalau berdasarkan pengalaman saya, komentar orangtua bisa membuat anak tertekan. Dan ketika anak tertekan, dia akan melakukan apa saja sesuka hatinya.

Teh Rina:
Tapi saya ingin dia saat ini mengekplor potensi lainnya dan juga mentalnya. Jangan fokus ke situ dulu, mungkin nanti. Apa saya terlalu mengekang?
Bingungnya, justru saya ingin dia bebas berekspresi dul, menggali potensi lainnya, menguatkan otot-otot dan motorik halusnya, bermain wajar, semacam itu.

Bu Ida:
Setiap anak itu pasti beda karakter, Bu. Tidak ada anak yang sama karakternya, termasuk anak kembar sekalipun. Kalau sampai kakak-adik gak nyambung atau sering bertengkar di usia baligh, mohon maaf bisa jadi ada kalimat orangtua yang membandingkan antar kakak-adik. Yang saya alami dengan kedua anak laki-laki saya yang sudah baligh ini, justru menjadi teamwork yang solid ketika sudah baligh,karena mereka sudah terampil dalam menyampaikan gagasan atau ketika berdiskusi berdua antar kakak-adik.

Teh Rina, anak pertama dan kedua laki-lakikah? Umur berapa?

Teh Rina:
Anak ke-1 perempuan 15 tahun, ke-2 laki-laki 11 tahun, ke-3 perempuan 3 tahun.

Bu Ida:
Hmm… pantas kalau anak pertama lebih teratur karena anak perempuan. Bisa jadi tanpa ibu sadari, ibu menginginkan anak ibu yang kedua yang laki-laki ini seperti kakak perempuannya.
Apakah sudah pernah bicara berdua hanya dengan putra ibu? Tanpa ada suami dan kakak atau adiknya? Berdua saja. Tanya maunya apa, apa yang dia inginkan dari orangtuanya. Fitrahnya laki-laki tidak mau dibandingkan meskipun dengan kakak perempuannya. Apalagi jika anak laki-laki tersebut punya kekurangan, kemudian orangtua dengan santainya bilang gini, “Tuh, kakakmu yang perempuan aja bisa masak, kamu sebagai laki-laki gitu aja gak bisa, apalagi kamu udah punya prestasi.”
Wah, itu anak laki-laki bisa sangat marah dan marahnya dia adalah tidak mau mendengar apa kata orangtua.

Teh Rina:
Betul Bu, saya mengajari anak saya untuk tertib dan bertanggung jawab saja. Kebetulan ayahnya kerjanya jauh, pulang sebulan sekali. Jadi saya bagai devil dan suami angelnya, semua dibebaskan.😭

Iya saya sering ngajak anak-anak ngobrol atau curhat-curhatan. Dia juga sadar dengan kelemahannya, tapi besoknya kalau ada teman-temannya, begitu lagi.

Bu Ida:
Bu Rina yang baik, itu bentuk protes anak karena kecewa ke orangtua, Bu. Ada masalah yang dipendam dalam hati anak tapi dia belum bisa ngomong ke orangtua.

Teh Rina:
Iyaa Bu, saya pernah menemukan catatan di tasnya. Dia kangen ayahnya, dia bosan jadi laki-laki sendiri. Apalagi sudah sering kecelakaan, dijahit karena agak hiperaktif. Di rumah, saya membebaskan dia. Hanya karena khawatir dengan fisiknya, saya membatasi terlalu lama main sampai seharian.

Bu Ida:
Curhat yang baik itu jika semua masalah yang anak pendam bisa keluar. Ekstremnya gini Bu, ini berdasarkan pengalaman saya, setelah resign, saya ajak ngobrol anak pertama sampai 3 hari. Saya khusus ajak anak piknik keluar kota, tanpa adik-adiknya dan suami. Saya minta anak mengeluarkan semua unek-uneknya dan apa yang keluar dari mulutnya, dia bilang bunda gak becus jadi ibu. Makder itu saya, Bu. Karena saya janji tidak akan jawab semua unek-uneknya, saya juga gak kasih nasehat sama sekali ketika dia curhat. Akhirnya dia minta maaf dan sekarang sikapnya berubah total. Dia kecewa, ibunya tidak sesuai harapannya. Akhirnya kami sama-sama berjanji untuk memperbaiki sikap dan menjadi lebih baik.

Dia mengaku pernah menendang dan menampar adiknya. Itu semua karena kesal sama saya. Alhamdulillah sekarang adiknya kasih laporan bahwa kakaknya berubah total. Dulu memanggil adiknya tidak mau dengan sebutan adik, tapi langsung memanggil nama.

Itu kejadian anak saya saat berumur 12 tahun. Dan sekarang adiknya respect ke kakaknya. Bahkan kalau kakaknya tidak ada, adiknya sering menanyakan. Tadi saya jelaskan kalau anak sudah baligh, biasanya kakak-adik akan menjadi teamwork yang solid.

Saran saya, sebelum anak kedua ibu berumur 12 tahun, tuntaskan dulu pendaman masalah di hati anak. Kalau sudah di atas umur 12 tahun, anak akan lebih susah diajak bicara karena dia sudah punya konsep diri menurut anak. Setelah itu evaluasi per bulan, terutama adab dan ibadahnya. Kalau sudah bagus, umur 14 tahu  mulai perlahan dilepas untuk pergi sendiri. Beri dia kepercayaan dan tanggung jawab.

Umur 11 tahun sudah bisa diajak curhat. Selama curhat, janji untuk tidak komentar apapun apalagi memberi nasehat. Biarkan unek-unek yang anak pendam keluar semua. Belajarlah menjadi pendengar yang baik untuk anak kita. Tidak akan hina di hadapan anak ketika kita mengakui bahwa orangtua juga bisa salah, tidak hanya anak. Dan ketika kita lupa  pernah membentak anak sehingga anak terluka, jangan pernah bilang, “Ah masak sih Bunda pernah kayak gitu.”
Ingatan anak lebih tajam dari ingatan kita. Apalagi memori yang menyakitkan. Lha wong kita saja disindir suami kadangkala masih ingat padahal besoknya dikasih intan berlian malah gak ingat. 😂

Jawaban berdasarkan pengalaman saya, jadi mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dan tidak cocok dengan kondisi masing-masing keluarga.

Teh Rina:
Bu Ida, rada ngemplong… Insya Allah akan saya coba perbaiki menjadi lebih baik. Makasih banyaaaaaak ya, Buu….😘❤

Moderator:
Masih ada 4 bahasan yang belum dibahas ya, mengenai pembagian tanggung jawab mengajar, guru tambahan, buku-buku referensi/media belajar, dan membuat media ajar. Dilanjut pekan depan saja yaa buibuuu… Ibu Ida perlu istirahat juga karena masih trimester pertama.

Jazakillah khoyran katsira untuk sharingnya hari ini. Semoga kita bisa bertemu lagi pekan depan di jam yang sama. 🙂

Kita tutup sharing hari ini dengan ucapan hamdalah, istigfar, dan doa akhir majelis.

Alhamdulillah..
Astagfirullahaladziim..
Subhanakallahuma wabihamdika waasyhadualla ilaahailla anta astagfiruka wa atuubu ilaih..

Kami tim admin pamit mundur.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 👋🏻👋🏻👋🏻

Resume oleh Astri PP

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)

Part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s