Homeschooler Story · Parenting

Homeschooling Keluarga Ibu Ida (bagian 3)

🖊Minggu ke-1
– Yang perlu diketahui tentang homeschooling
– Urgensi tarbiyatul aulad ditanamkan sedini mungkin

🖊Minggu ke-2
Share HS keluarga Ibu Ida
– Jadwal pelajaran
– Kebiasaan-kebiasaan harian
– Pembagian tanggung jawab mengajar antara ayah dan bunda
– Guru tambahan selain orangtua
– Buku-buku referensi/media belajar
– Membuat media ajar

🖊

Minggu ke-3
– Kurikulum
– Standar kompetensi yang dituju
– Proses membantu anak dalam menemukan minat bakat

🖊Minggu ke-4
– Ijazah, bagaimana proses anak-anak mendapatkan kesetaraan dalam legalitas
– Opsi-opsi jalur pendidikan tinggi anak HS

***

Pertanyaan 1
Teh Helmi

Ketika menyusun kurikulum, tentu tidak langsung fix ya Bu. Bagaimana menyiasati perubahan-perubahan yang ada di tengah proses? Apakah Ibu membuat batasan agar tidak berubah-ubah terus? Karena standar kompetensi anak juga bisa beda-beda kan ya Bu?

Nah untuk menemukan minat bakat anak, apa indikator anak tersebut sudah menemukan minat bakatnya? Di usia berapa patokan anak sudah mantap bahwa minat bakatnya yang itu? Bagaimana membedakan apakah itu minat bakat atau penasaran yang belum ditemukan jawabannya?

Jawab

Saya coba jawab sesuai dengan yang kami jalani dan jawaban saya tidak harus sama aplikasinya dengan keluarga masing-masing.

Teh Helmi yang baik, kalau buat kami perubahan-perubahan itu boleh selama anak mampu tuntas dalam menyelesaikannya. Di keluarga kami, kegiatan craft dilakukan hanya 1 minggu sekali karena ternyata anak-anak kalau membuat sesuatu itu banyak idenya sehingga dari pagi sampai sore tidak tuntas akhirnya saya beri batasan kalau belajar sesuatu mesti tuntas. Yang terjadi tidak menghasilkan sesuatu dan jadi berantakan.

Standar beda-beda tiap anak, kalau saya lebih melihat ke kemampuan anak. Misal anak ketiga ini sama dengan anak pertama, maunya lebih sering gambar, cerita, gak mau belajar serius seperti matematika dan science. Nah, agar anak ketiga ini mau belajar science, kakaknya belajar science lewat multimedia atau dengan membaca, adik ikut mendengar kemudian saya minta adiknya menggambar atau menceritakan kembali. Kalau kita buat aktivitas masing-masing tiap anak dengan kebutuhan dan kemampuan yang beda-beda, kita sendiri yang repot. Jadi ortu mesti kreatif dan cerdas:D

Kakak yang belajar science disini adalah anak kedua. Kalau anak pertama sudah mandiri belajar sehingga sudah jarang belajar bersama saya dan adik2nya. Saya hanya memantau perkembangannya.

Tanggapan

Mulai usia berapa anak dilepas belajar sendiri?
Lalu memantau perkembangannya seperti apa? Apakah ada evaluasi secara periodik?

Jawab

Indikator anak menemukan minat bakatnya jika anak melakukan sesuatu tanpa kita minta/suruh dengan terus menerus dan apapun hambatannya dia akan tetap lakukan, contoh ekstrimnya mau ada gempa, hujan, bahkan perut lapar pun anak cuek. Menemukan minat bakat tidak harus anak punya prestasi misal dengan menang lomba, namun anak bisa mencari solusi dengan minat bakatnya. Misalnya dengan minat bakatnya tersebut anak jadi punya jaringan. Misal yang terjadi dengan anak pertama saya, dia menawari jadi desain acara-acara masjid agar bisa belajar bahasa arab dengan imam masjid.

Saya kurang sepakat jika prestasi itu jadi satu2nya indikator anak dibilang punya minat bakat di bidang tertentu. Karena menurut pengalaman saya dengan anak pertama, sejak sebelum sekolah hingga SD, anak sering juara animasi, robot, bahkan hingga tingkat internasional, namun ternyata itu bukan minat bakat anak. Anak bisa menang dalam lomba tersebut karena terus menerus berlatih bukan karena suka. Justru di desain ini, anak gak pernah punya prestasi namun dia melakukan karena hobi/suka sehingga ketika menggambar sesuai dengan maunya bukan untuk memenuhi permintaan pasar sehingga tiap lomba gambar gak pernah menang. 😀

Kalau kami sejak usia 13 tahun mulai belajar sendiri. Kalau untuk akademik perkembangannya dengan menjawab soal evaluasi yang ada dalam buku-buku pelajaran. Nah kalau soal akademik, itu tgs ayahnya. Kalau soal yang lain biasanya dengan diskusi beberapa masalah kekinian misal masalah politik, ekonomi, keluarga, dll.

Evaluasi dilakukan seminggu sekali, kalau diskusi tiap hari ada waktu diskusi.

**

Pertanyaan 2
Teh Dianti

Yang seperti apakah standar kompetensi dalam islam?

Jawab

Standar kompetensi dalam keluarga saya, penekanannya lebih ke adab dan pemahaman akidah yang benar.

Ada kejadian menarik dari buka puasa kemarin, ketika pulang tiba-tiba anak-anak saya bilang gini..
“Bunda, tadi pas buka ada teman Ayah yang gak langsung buka lho pas ada azan, tapi nunggu sampai 10 menit. Itu syiah kan Bun?”
Terus kakaknya yg pertama menambahkan,
“Aku amati pas shalat juga beda kok Bun”
Saya tanya, “Bedanya dimana Kak?”
“Iya pakai tepuk-tepuk paha, iya Bun itu Syiah.
Terus anak-anak bilang, “Kok berani ya buka bareng kita yang aswaja”.

Pemahaman akidah yang benar mengenai apa itu sunnah bedanya dengan Syiah, Kristen Ortodox sudah biasa menjadi bahan diskusi kita sehingga ketika anak-anak melihat perbedaan tersebut anak-anak langsung paham.

Anak ketiga yang umrnya 7 tahun sih hanya angguk-angguk saja, nggak tau paham atau nggaknya. Kita mulai ajak diskusi masalah-masalah tersebut sejak usia 10 tahun.

Kalau kompetensi dalam hal akademis, kami kurang fokus untuk itu. Misal anak umur 7 tahun secara akademis harusnya sudah belajar kelas 1 namun belum semua mapel anak kelas 1 dipelajari, masih memilih apa-apa yang dibutuhkan anak saja. Yang penting adalah adab dan tugas pribadi dalam hal ini membantu ortu.

Tanggapan

Setuju, Bu 👍🏼
pergaulan juga sebaiknya dibatasi ya, Bu.
Afwan. Apakah anak ibu yg paling besar sudah masuk lingkungan pergaulan majemuk? Bagaimana pendampingannya?

Jawab

Kalau untuk anak pertama malah sudah tahu bedanya apa itu Muhammadiyah, NU, HTI, JT, salaf. Dan dia ikut semua kegiatan di semua lingkungan tersebut nanti pas di rumah diskusi dan dibahas bareng sama saya dan suami. Uniknya adalah, kerika di Radio Rodja sedang dibahas mengenai JT, anak bilang klo menurut salaf, yang dilakukan orang JT itu tidak ada rujukannya. Saya bilang selama sama-sama aswaja, tidak perlu diperuncing perbedaannya namun jika perbedaannya dengan Syiah atau Islam Liberal nah itu baru kita harus tegas.

Dia pengen jadi desainer yang juga ustaz yang bisa diterima oleh semua lingkungan sehingga kalau ditanya kamu ikut aliran apa, dia selalu jawab saya islam yang sesuai Quran dan Hadits, gak masuk aliran apapun 😀

Itu untuk anak pertama, kalau anak kedua sih masih belum jauh kesana. Karena ternyata secara periode usianya, anak pertama memang sudah seharusnya masuk dalam periode tersebut. Umrnya 14 tahun jalan 15 tahun. Sedangkan anak kedua baru mau 11 tahun.

Biasanya anak mulai bisa diajak diskusi soal pemahaman akidah di usia menjelang 13 tahun.

Tanggapan

Apa anak Ibu Ida tersebut masuk sebagai santri di berbagai majelis itu atau hanya berkegiatan bersama saja?
Apakah pemilihan majelisnya atas rujukan Ibu atau anak memilih sendiri?

Jawab

Yang penting sering diajak diskusi dan ditanya setiap pulang ikut kajian, tadi dapat materi apa? Ustaznya siapa?
Biasanya sih anak akan googling soal ustaz.

Pernah pulang kajian anaknya marah-marah, bilang gini..
“Wah parah ini pengajian kaya dangdutan, laki perempuan campur baur, udah gitu ustaznya kebanyakan guyon gak ada isinya. Yang anehnya masak untuk para istri yang sedang kerja jauh dari keluarga gapapa gak pulang 3 tahun yang penting bisa ngumpulin duit banyak untuk pulang. Bangun rumah, sekolah anak-anak. Untuk sekolah anak-anak sih benar Bun. Lha tapi kan masak perempuan ninggalin keluarga 3 tahun boleh terus fungsi dia sebagai istri dan ibunya dimana?”
Saya jawab, “Lihat Kak, itu pengajian ditujukan untuk siapa? TKW kan? Yang pemahamannya tidak sebaik kita”
Walau anak bilang gini, “Tapi kan Bun, itu udah gak benar secara syariat”.

Tuingg… nah kaya gini ini mesti diajak diskusi lagi, agar anak paham ada beberapa kondisi yang tidak bisa ideal. Perlu diskusi panjang dengan anak.

Anak saya hanya ikut berkegiatan saja dengan frekuensi yang lumayan sering. Mengenai pemilihan, ada beberapa anak yang mengajukan, ada beberapa saya dan suami yang mengajukan. Contohnya hari ini, anak ikut pesantren dengan komunitas muslim Taiwan asli dimana batasan laki perempuan tidak seketat kita. Sebelum berangkat, saya dan suami sudah kasih pembekalan dulu, kasih saran boleh tapi hati-hati pemahaman mereka tidak sebaik kita, yang penting Kakak kasih contoh. Apalagi usia Kakak lebih muda dari mereka, perhatikan adab kalau mau kasih masukan ke yang lebih tua.

Untuk kegiatan saat ini, itu usulan pengurus masjid agar anak saya ikut.

***

Pertanyaan 3
Teh Afifah Umm Ahmad

Saya adalah ummi dari empat putra. Pertanyaan pertama bagaimana kita bisa mengetahui bakat dan minat anak?

Jawab

Kalau usia anak masih kurang dari usia 10 tahun ya dengan menstimulasi sesering mungkin bisa dengan mengikutkan anak dengan berbagai macam kegiatan seperti kursus/lomba yang anak suka tanpa paksaan atau dengan memfasilitasi membelikan peralatan untuk mendukung kesukaannya.

Nah setelah usia 10 tahun seperti paparan saya diatas. Dari berbagai macam kegiatan akan ada satu kegiatan yang konsisten anak lakukan. Sebelum usia 10 tahun gak usah buru-buru untuk pengen tau minat bakat anak.

Mulai kelihatan jelas itu di usia 14 tahun dan menetap di usia 18 tahun. Kalau usia 18 tahun belum menetap artinya ada yang salah dan perlu dievaluasi bersama ortu dengan anak.

Tanggapan

Anak paling besar 12 tahun Alhamdulillah sudah mulai banyak mengajak ana diskusi yang agak berat.. mulai dari masalah pergaulan, lingkungan yang menurut dia “aneh” karena bermudah-mudah ikhtilat.

Jujur ana sangat khawatir dia jadi terbiasa dengan lingkungan pergaulan seperti itu, kira-kira solusi terbaik menurut Ibu bagaimana? Dia pun sekarang sudah agak mulai keukeuh dalam mempertahankan argumennya.

Jawab

Wah bagus itu Mba Afifah. Saran saya setelah anak menjelaskan pendapatnya yang menurut dia aneh, Ibu tanya terus, menurut kamu Nak, sebaiknya sebagai seorang muslim sikap kita sebaiknya bagaimana? Justru Ibu tidak perlu khawatir.

Pas study tour dengan siswa-siswa PKBM hari Ahad minggu lalu dimana siswa-siswa PKBM kebanyakan adalah TKI dan kita ketahui kebanyakan sikap mereka seperti apa termasuk cara berpakaian. Sebelum berangkat, saya dan suami ajak ngobrol dulu dengan anak-anak nanti kondisi yang akan anak temui seperti apa. Kalau nanti ada game sedangkan game tersebut mesti bercampur sikapnya mesti gimana. Akhirnya pas di lapangan, anak kedua gak mau ikut game, dia lebih senang main dengan Ayah dan adiknya di pantai krn siswa yang seumuran dia gak ada. Sedangkan anak pertama tau mesti bersikap kaya gimana. Ketika harus berkelompok, membentuk lingkaran, anak gak memilih utk dekat dengan teman perempuan termasuk ketika harus berfoto bersama.

Sejak usia 9 tahun sebelum baligh kita sudah jelaskan tidak boleh sentuhan dengan non muhrim. Dan kita ingatkan terus ketika mereka sudah baligh bahwa sudah ada kewajiban dalam menegakkan syariat.

Untuk anak ketiga karena sering ikut diskusi dengan kakak-kakaknya sehingga lebih cepat tau dan sudah gak mau sentuhan dengan teman laki-lakinya.

Ketika pulang dari tarawih anak saya kedua bertanya seperti ini..
“Bunda.. aku gak mau salat zuhur di masjid.”
Sy tanya, “Kenapa Nak gak mau di masjid?”
“Ya gimana Bun? Kalau ke masjid, aku jadi dosa dan batal puasanya..”
Lha saya bingung.. “Lho kok bisa Kak? Ke masjid kok dosa dan batal puasa?” Ternyata apa coba bunda-bunda?

“Aku kalau ke masjid ketemu perempuan-perempuan yang kelihatan auratnya. Itu kan dosa bun, sedangkan puasa itu kan gak boleh lihat kaya gituan.”
Saya tanya balik, “Kok bisa batal? Ya iya lah Bun kan lihat kaya gituan bisa batal” 😀

Disini lagi musim panas sehingga perempuan-perempuan seringnya pakai celana pendek dan kaos tanpa lengan.
Bukan karena lihat makanan. Kalau lihat makanan sih gak ngaruh karena mereka tau gak halal dan ada babi.

Tanggapan

MasyaAlloh… walhamdulillah.. Allohuakbar..sungguh pencerahan yang luar biasa Bu Ida..
Anti mungkin tipikal yang sangat sabar ya Umm… bisa pelaaan mengajar, share dengan anak-anak.. itu bagi ana butuuuuh ilmu dan pengamalan tentunya..
Agak suka nahaaaan emosi kalau anak dah cuek dengan perkataan kita.

Jawab

Kalau anak cuek dengan omongan kita, artinya ada yang anak pendam. Bisa jadi bentuk kecewa dan marahnya anak ke kita. Kalau gak ada masalah yang anak pendam, komunikasi anak dengan ortu harusnya lancar-lancar saja Bu.. bahkan ketika anak salah, tanpa kita minta pun anak akan mengakui kesalahannya dengan jujur.

Saran saya cek dulu Bun.. komunikasi tatap muka secara khusus dengan anak tanpa suami dan adik/ kakaknya.

Wah saya juga jauh dari sabar Bun, tanpa Allah mampukan, saya gak bisa sabar. Minta ke Allah untuk sabar, minta tolong ke anak-anak dan suami pas ibu lagi gak sabar untuk mengingatkan.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:
Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)
💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:
Homeschooling Muslim Nusantara
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s