Parenting

Serunya Bermain Bersama Buah Hati

🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨
🗒🗒NOTULEN KULWAP SABUMI🗒🗒

✨Narasumber : Julia Sarah Rangkuti, penulis buku “Rumah Main Anak” (RMA)

🔅Moderator : Deviana

🔅Notulen : Ayu Hilma

🔅Tanggal : 24 Agustus 2016

🎞🎞🎞🎞

PROFIL NARSUM

Julia Sarah Rangkuti, biasa dipanggil Sarah. Bunda dari Ananda Kenzie (3 y) dan Keysha (1,5 y). Beliau lahir dan besar di Jakarta. Seorang istri dari Agus Sugito, lulusan Undip angkatan 2003.

# Sekilas tentang buku RMA:

Buku RMA sebenarnya hanya mengumpulkan yg terserak. Awalnya, saat saya sering posting kegiatan Kenzie di FB dan IG, saya ditawari teman utk membukukan kegiatan tersebut.

Namun, karena 1 dan lain hal, penerbit tersebut membatalkan proses, sehingga kami menarik kembali naskah tersebut dan menerbitkannya sendiri. Alhamdulillah, menjadi jalan banyak rezeki utk para agen dan reseller 😍

🎞🎞🎞

PENDAHULUAN

Serunya Bermain Bersama Buah Hati

Di kota Madinah, ada seorang anak kecil bernama Umair. Ia selalu bermain dengan burung pipit. Rasulullah saw menamai burung itu dengan al-nughair (anak burung pipit). Setiap kali melihat Umair, Nabi berkata, “Wahai Umair, apa yang dilakukan oleh al-nughair?” Sampai suatu ketika Nabi melihat Umair sedang menangis. Beliau pun bertanya, “mengapa engkau menangis wahai Umair?” “Ya Rasulullah, al-nughair telah mati,” jawab Umair. Maka Nabi saw duduk sejenak mengajaknya bermain. Para sahabat yang lewat melihat Rasulullah saw bermain dengan Umair. Beliau berkata pada mereka, “al-nughair telah mati, karenanya aku ingin menghibur Umair.” (HR Bukhari 6203)

Bunda, betapa indahnya akhlak Rasulullah saw. Beliau mengajarkan kita santunnya akhlak pada anak-anak. Sungguh hal yang luar biasa dan patutlah kiranya menjadi cermin bagi kita semua untuk meneladani sosok Beliau, bahwa MEMBERSAMAI si kecil dalam dunia bermainnya JAUH LEBIH PENTING daripada permainan itu sendiri.

Siapa di sini yang anak balitanya tidak senang bermaiiiin? Tidak ada, bukan? Semua balita pasti senang bermain. Sebab, bermain memang DUNIA mereka, Bunda.

Saat ini, banyak orangtua yang berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, termasuk juga memberikan mainan terbaik. Sayangnya, masih banyak pula orangtua yang hanya berhenti pada titik tersebut. Anak dibelikan beragam mainan namun tidak didampingi saat memainkannya atau tidak diberikan rangsangan lebih, yang dapat menstimulasi perkembangannya. Padahal, melalui kegiatan bermain mereka, anak-anak sedang belajar banyak hal. Dan, kita sebagai orangtua pun bisa memasukkan banyak pelajaran melalui kegiatan bermain.

Bunda, pada tahap anak usia dini, anak-anak sangat peka terhadap penggunaan pancaindra untuk memahami dunia di sekitarnya. Pemberian materi pelajaran akan sangat efektif jika dilakukan secara konkret melalui berbagai alat peraga yang dapat disentuh, dilihat, dicium, didengar, ataupun dirasakan. Jadi, jangan heran Bunda jika anak bayi suka memasukkan segala benda ke dalam mulutnya, misalnya. Sebab, ia sedang memasukkan informasi tentang benda tersebut ke dalam otaknya.

Bunda, agar bermain tak hanya sekadar bermain, kita sebagai orangtua berperan penuh menjadikan kegiatan bermain anak menjadi penuh makna. Ada pembelajaran yang perlu dipahami si kecil. Ada hikmah yang perlu diantarkan ke dalam diri mungilnya. Itulah mengapa, selain anak-anak bermain bebas, orangtua juga perlu merancang kegiatan bermain anak. Jangan sampai setiap hari anak-anak kita hanya bermain gadget atau hanya bermain bola dan boneka setiap saat. Dengan menyiapkan berbagai kegiatan bermain, kita dapat menstimulasi tiap aspek perkembangan si kecil.

Tidak perlu mahal untuk bermain, Bunda. Misalnya, Bunda ingin menstimulasi motorik halus si kecil, Bunda bisa menggunakan kardus bekas, tali sepatu, dan puncher (pembolong kertas) untuk membuat anak belajar ‘menjahit’. Jika Bunda ingin menstimulasi kemandirian anak, Bunda bisa menggunakan botol, corong, dan gelas untuk si kecil belajar menuang air. Dan banyak lagi benda-benda di rumah yang dapat dpergunakan untuk kegiatan pembelajaran si kecil dalam aktivitas bermainnya.

Apa yang kita butuhkan sebelum mengajak si kecil bermain? Tentunya ilmu perkembangan anak. Dengan mengetahui parameter perkembangan anak, kita dapat menstimulasi perkembangannya dengan lebih tepat sesuai dengan usianya. Contohnya, anak usia 2 tahun diharapkan telah mengenal warna dasar. Maka, kita dapat menstimulasinya dengan permainan matching colour dan sorting colour. Anak usia 4 tahun sudah mampu mengucapkan salam dan menjawab salam, maka kita dapat mengajaknya bermain peran dengan tema ‘saat bertamu ke rumah nenek’, misalnya.

Lalu, apakah kita perlu merancang aktivitas harian anak? Betul, akan lebih baik jika Bunda menyiapkan minimal satu kegiatan baru untuk anak setiap harinya. Dengan menyiapkan kegiatan yang berbeda-beda, maka kesempatan untuk menstimulasi tiap aspek perkembangan anak bertambah luas.

Dari mana kita dapat mengetahui milestone ini? Bunda bisa googling atau membaca berbagai buku mengenai Child Development. Dalam buku Rumah Main Anak yang saya tulis, saya juga berusaha untuk menjawab pertanyaan para orangtua terkait perkembangan anak dengan menyertakan parameter perkembangan anak 0-6 tahun, Kuisioner Pra Skrining untuk mengetahui apakah anak kita bertumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya, juga contoh jadwal harian bermain bersama anak. So, Bunda bisa membacanya juga di sana ☺ 

Selanjutnya, kita diskusi saja yuk Bunda-Bunda pembelajar hebat ^^

Semangat Bermain!

@juliasarahrangkuti

🎞🎞🎞

DISKUSI DAN TANYA JAWAB

1⃣ Kegiatan dan Tumbuh Kembang Anak usia 

Penanya : Teh Widya (W)

🔸W : Anak saya sudah mau 6 tahun mbak, yang cocok untuk kegiatan di rumah apa ya?

🔹J : Halo, mba Widya.. Hmm.. banyak sekali yg bisa dilakukan di rumah, Mba. Sebaiknya, sebelum “main apaaa ya” ada baiknya jika kita mengetahui parameter perkembangan anak setiap tahun terlebih dahulu. Dengan mengetahui parameter tersebut, kita jd mengetahui kebutuhan anak di usiany a tsb. Sehingga, ‘main apa’ yg kita ingin berikan pd anak bisa PAS utk menstimulasi mereka. Terkait parameter perkembangan anak, bisa dicek salah satunya di tumbuhkembang.info (atau di buku RMA 1 juga ada :))

Perkembangan anak bisa dilihat dr aspek: agama, kognitif, motorik kasar, motorik halus, bahasa, sosial-emosional, kemandirian, seni, dll 🙂

Jadi pd intinya, kita harus belajar dahulu ttg perkembangan anak agar bisa memberikan stimulasi (melalui permainan) dgn tepat..

Jadi, mmg saya menyarankan ibu2 di sini utk baca web td ya 🙂 krna kolomnya banyak, jd baca yg sesuai dgn usia anaknya saja 😍

2⃣ Ide Permainan Anak

Penanya : Teh Asri (A)

🔸A : Mba Julia, usia anak pertamanya sama dengan anak saya, 3 tahun. Kalau sekarang, jenis permainan apa saja yang sering Mba Julia lakukan bersama Kenzie di rumah?

🔹J : Halo Teh Asri.. Kenzie permainannya beragam, Mba..

Saya coba untuk menstimulasi menyeluruh dr segala aspek yg saya sebutkan tadi..

Intinya, ada pelajaran agama (baca buku hadits, ngaji, dll), bahasa (baca buku/story telling), kognitif, motorik halus (puzzle, balok, menyendok, lacing, dll), motorik kasar (renang, main bola, sepeda, melompat, berlari, dll), dan banyak lg..

More : bisa dilihat di Ig @juliasarahrangkuti ya 🙂

Next, mulai bulan depan insyaAllah Kenzie akan “sekolah” dgn saya menggunakan kurikulum Montessori++

++nya adalah pelajaran agama Islam..

3⃣ Tips Portofolio/Dokumentasi Kegiatan Anak

Penanya : Teh Mira (M)

🔸M : Salam mba Juli,

Saya Mira dgn ananda Izz (2,5 th)

Alhamdulillah sdh sering bermain dan membuat sesuatu sendiri di rumah tapi masih punya kendala ttg portofolio dan pendokumentasian yg baik, ya istilahnya masih berserakan🙈. Bgmn tips dan langkahnya mba Juli dulu untuk bisa membuatnya dgn baik sampai akhirnya bertelur jd sebuah buku?😁

🔹J : Alhamdulillah..tetap semangat, Mba..

Coba temukan cara mendokumentasikan ternyaman utk Mba. Apakah melalui tulisan/foto/video? Jika mmg lbh mudah lewat foto (seperti saya, misalnya), maka usahakan sebelum bermain foto displaynya dahulu (terlebih jika anak sulit difoto/saat difoto malah membuat kegiatan terdistract). Jika mmg suka menulis, maka bisa ditulis “resume” kegiatan hari ini dgn anak. Intinya sih konsisten.

Saya dahulu (sampai sekarang juga) masih dokumentasi dlm bentuk foto saja dan pengumpulan hasil kerja (misal, hasil gambar anak, main cat air, dll) ini dikumpul dalam 1 binder..

Kalau utk buku RMA, adalah “foto2 yg terserak” kemudian diberi tulisan (saya cicil nulisnya saat anak2 tidur).

4⃣ Dokumentasi dan Pengaturan Jadwal Bermain dengan Anak

Penanya : Teh ari (A)

🔸A : Bu julia.. Bagaimana sih caranya mendokumentasikan kegiatan anak sampai lengkap kap kap kap seperti yg bu Julia lakukan?

Apakah bu Julia punya jadwal sendiri utk kegiatan bersama anak?

Bagaimana berdamai dengan kesibukan sehingga kadang sering ga sempat menyiapkan kegiatan?

🔹J : Halo Teh Ari, utk pendokumentasian biasanya saya hanya foto2 saja. Sebelum dimainkan (ini skrg lebih sering) dan saat bermain (ini tergantung sikon, kalau malah menganggu pembelajaran ga saya foto).

Dokumentasi yg lain berupa penyimpanan hasil belajar dalam sebuah binder. Ini mulai ada sejak Kenzie usia 1y. Isinya, seperti hasil finger painting, mengelem kolase, coret2an pertamanya, mewarnai, memggambar, menggunting, tracing, membuat kreasi origami, dll).

Iya, Bun..utk kegiatan bersama anak biasanya kami start jam 10an-12an. Meskipun tidak setiap hari demikian karena suka pergi, dll. Justru karena HS jadi waktuny a lebih santai soalnya saya stand by di rumah terus sih, hehe. Jadi, dr pagi sampai malam yaaa anak2 sama saya terus 😁:)

Pagi hari biasanya motorik kasar (senam, main sepeda, dll). Jam 10an bisa kegiatan Montessori. Siang anak2 tidur. Sore jalan2 ke taman. Malam baca buku..

Berdamai dgn kesibukan caranya adalah senantiasa meluruskan niat, di awal, di tengah, di akhir. Bahwasanya, peran besar kita sebagai IBU adalah mendidik anak2 kita, bukan hanya membesarkan fisik mereka (memberi makan, mencukupi pakaian, dll), namun juga mengisi RAGA mereka, RUH mereka. 5 tahun pertama kehidupan anak2 adalah masa ideal utk mengenalkan anak pada Penciptanya, menanamkan tauhid. Maka, tentunya rugi jika kita sia2kan usia anak2 kita di masa 5 tahun pertama ini. Dan kelak, kitalah yg akan dipintai pertanggungjawaban-Nya..

Wallahu’alam. Tetap semangat ya, Bun..

Ps: salah satu cara agar ttp semangat adalah berteman dgn Buibu yg sevisi. Lihat2 kegiatan anak2 mereka. Bismillah, kalau kita ingin anak kita “istimewa” tentulah kita harus berjuang memberikan yg “istimewa” pula 🙂

5⃣ Penanganan Anak yang Addicted terhadap Youtube

Penanya : Teh Raya (R)

🔸R : Kl anak 31 udh mulai addict youtube gmn ya cara pengalihan nya.. soalnya aku jg kerja jd d rmh main sama sepupu nya yg udh SD dan udh pada punya gadget. Dan pas aq pulang malah jd manja.. ada trik jitu supaya sedikit demi sedikit dia jd g suka pegang hp dll nya?

🔹J : Halo, Teh Rayya..

Kalau boleh tahu, saat ditinggal kerja anak di rumah dgn siapakah mba? Neneknya? pengasuh? Atau daycare?

🔸R : Sama pengasuh dan nenek nya jg mba.. dan ada sepupunya jg kelas 6 sd dan 4 sd.. 🙂

🔹J : Teh Raya, ini biasanya Buibu lain juga memiliki problem yg sama, hehe..

Bagi ibu bekerja, alangkah baiknya jika menyamakan “suhu” dgn pendamping anak saat ia ditinggal kerja (nenek/pengasuh). Kita perlu menyampaikan dan menanamkan visi-misi pendidikan kita pd mereka, termasuk juga memberitahukan do and don’t. Termasuk juga penggunaan gadget. Jika memang ada rules yg lebih jelas serta konsisten dalam menerapkannya, maka insyaAllah akan lbh mudah. Misal, anak hanya boleh nonton maksimal 1jam/hari. Maka, sebaiknya Bunda sampaikan hal tsb pd nenek dan pengasuh. Sebagai konsekuensinya, Bunda juga harua menyiapkan alternatif aktivitas lain utk si kecil di rumah. Misal, menyiapkan mainan/art and craft, dll. Bunda bisa buat list kegiatan yg harus dilakukan anak selama di rumah. Oleh sebab itu, penting sekali menyamakan “suhu” dgn Nenek/pengasuh agar tdk berbeda2 penerapanny. Semoga dimudahkan ya, Mba 🙂

6⃣ Aplikasi Montessori

Penanya : Teh Mala (M)

🔸M : Utk aplikasi metode montessori k anak, dr sekitar setaun lalu sy cb terapkan k sarah (sekarang 4thn) smp ke langkah2 teknisny, spt anak duduk di sblh kiri bunda, lalu diberi tau cara main ny, dst.

Tp y ada..justru sarah ny ga pnh mau pakai cara y sama spt y sy contohkan. Dia cm nyerap tujuan akhir main/ belajar ny apa..tapi prosesny dia pakai carany sendiri.

Bagaimana itu ya mba?

🔹J : Hai Teh Mala dan Sarah..

Untuk aplikasi Montessori, sepengetahuan saya Montessori membantu anak2 untuk menemukan “konsep”nya. Misalnya, menuang dr satu teko ke dua wadah yg sama maka jangan sampai ada sisa air pada teko. Dari hal ini anak belajar ttg pembagian sama rata.

Jadi, jika anak punya cara yg berbeda dr yg kita ajarkan, silakan diamati kembali Bun. Apakah dgn cara tsb anak memahami konsepnya? Jika ridak, maka perlu diulang terus presentasinya. 

Setahu saya, Montessori sendiri kan memiliki ‘kontrol kesalahan’ sendiri ya Bun. Jadi, dgn adanya kontrol ini anak akan lebih terbantu utk peka dan mengetahui dirinya salah/tidak..

🔸M : Jadiii…selama anak dapet konsepnya, it is ok ya mba?

*meski caranya sesuai kreatifitas mereka

🔹J : Iya, Mba.. Tp, dlm beberapa hal cara2 dalam kegiatan Montessori berkaitan erat dgn penemuan konsep.

Intinya, tetap presentasi yg benar dan jangan pindah sampai anak juga paham konsepnya dgn cara yg benar.

Namun, di luar itu silakan anak melakukan variasi dan ekstensi 🙂

7⃣ Sosialisasi dan Pendampingan

Penanya : Teh wian (W)

🔸W : Perlu ga sih anak under5 years main sm anak lain, dan apa harus didampingi?

🔹J : Teh Wian, Halooo..

Pada umumnya anak usia 2y audah mulai menunjukkan senang berinteraksi dgn orang lain/teman2 sebayanya. Bermain dgn teman2 tentunya juga baik utk kemampuan sosial mereka. Namun, kita juga perlu memperhatikan lingkungan bermain anak, usahakan lingkungan tsb (teman2 anak) memiliki dampak positif pd anak kita, bukan sebaliknya. Jika yg terjadi ialah dampak negatif lbh besar drpd dampak positifnya (misal, anak jd suka berkata kotor, melawan orgtua, suka membully, dll) maka akan lebih baik jika anak kita dikuatkan dulu imunnya di dalam rumah. Terkait pendampingan, untuk anak under 5y baiknya masih didampingi (namun orangtua tidak perlu terlalu include di dalamnya) hanya mengawasi saja. Semoga membantu ya Mba..

8⃣ Penerapan Bilingual

Penananya : Teh dian (D)

🔸D : Kl d rmh mba Julia diterapkan bilingual bahasa ga? Itu sejak usia berapa ya? Ada tipskah? 🙂

🔹J : Teh Dian, kalau selama ini Kenzie baru mengenal bahasa Inggris utk nama2 warna (sejak usia under 2y sudah mampu mengucapkan nama2 warna dgn dua bahasa), selebihnya tidak ada. Saya belum mengajarkan English maupun bahasa lain pd Kenzie. Kalau Ayahnya, sesekali mengajarkan bahasa Jawa. Namun, tetap bahasa dominan kami sehari2 ialah bahasa Indonesia.

Rencana saya, setelah nanti Kenzie mengenal bahasa Indonesia, baik dr fonologi, morfologi, sintaksis, hingga wacana, barulah kemudian saya ajarkan bahasa Inggris. Saran saya, “matangkan” dulu bahasa ibu anak barulah kenalkan dgn bahasa kedua.

Akan tetapi, hal ini bisa tdk sama utk orangtua yg daerah tempat tinggalnya di daerah/luar negeri. Atau juga memiliki visi-misi mengenalkan anak dua bahasa semenjak dini. Monggo, sil a kan dikenalkan 2 bahasa, asal dgn konsistensi “ayah selalu menggunakan bahasa A pd anak” dan “ibu selalu menggunakan bahasa B pada anak”. So, jangan dicampur2 utk meminimalisasi anak “bingung bahasa atau juga speech delay.”

9⃣ Stimulasi untuk Anak dengan Speech Delay

Penanya : Teh fina (F)

🔸(F) : Permainan apa saja yg dpt menstimulus kemampuan berbicara krn kbtulan anak saya (5thn 6bln) speech delay?

🔹J : Teh Fina, mohon maaf sebelumnya apakah si kecil audah diajak ke terapi wicara?

Jika sudah, bisa dipraktikkan saran2 dr terapis dan dilakukan di rumh. Biasanya permainan meniup, menggigit sendok, senam mulut (mengucapkan AIUEO dgn lantang, di depan kaca juga oke), memakan beragam makanan dgn berbagai tekstur, makan buah tanpa dipotong (buah apel masih bulat, agar rahang anak kuat dan terbuka lebar) bisa cukup menstimulasi..

Kegiatan lain tentunya ialah paparan suara pd anak. Sering2lah membaca buku bersama, story telling, bermain peran, dongeng, menyanyi, mengaji, dll. (Lakukan dgn mimik, intonasi, dan geature yg baik). Meskipun anak masih pasif dan hanya mendengarkan, yakinlah bahwa ia menyerap kosa kata yg kita keluarkan dan pd suatu hari nanti akan mengeluarkannya.

Tetap semangat ya, Teh 💪🏽

🎞🎞🎞

PENUTUP

Alhamdulillah..jazakillah khoir Bunda2 semua. Mohon maaf utk kekurangan dan kesalahan. 

Bunda, menjadi orangtua ialah tugas mulia bagi kita semua. Masa kanak-kanak merupakan masa emas yg tak bisa terulang kembali.

Ingin jd seperti apa anak kita nanti? Orangtualah aktor terpenting yg melukiskan karakter, sikap, pemahaman dasar pd saat mereka balita. Isilah dunia balita kita melakui ragam pelajaran melalui kegiatan bermain, sesuai dengan fitrah mereka.

So, mari kita bersama2 berusaha menjadi orangtua yg bersungguh-sungguh membentuk dan menanamkan karakter baik pd anak. Agar, saat kita meninggal nanti, ada anak soleh yg mendo’akan. Agar, tak ada generasi lemah yg kita tinggalkan..

Wallahu’alam

🎞🎞🎞

Ingin kenal lebih dekat dengan Mbak Julia dan Rumah Main Anak, follow Instagramnya:

@juliasarahrangkuti

@rumahmainanak

🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🔅🔆🔅SABUMI🔅🔆🔅

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥 FB Group:

Sabumi (Muslim Homeschooling Bandung)

💻 Blog: sabumibdg.wordpress.com

Sabumi is part of HSMN
👍FB fanpage:

Homeschooling Muslim Nusantara

🌐 web:

hsmuslimnusantara.org

📷 instagram: @hsmuslimnusantara

🐤 twitter: @hs_muslim_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s