Homeschooler Story

Cerita Homeschooling Teh Naila

14238172_662733887227371_2206611123365517609_n

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu’alaikum, bunda sholihat.. Hari ini, Rabu 7 September 2016 / 5 Dzulhijjah 1437 H kita akan sharing hasil wawancara dengan Uni Dessy. Sudah tahu Uni Dessy kah?
Beliau adalah bunda dari ananda *Naila Afiyah Sjach* dari *Sabumi HSMN Bandung*
Pemenang *Olimpiade Eksperimen Planet Sains Piala Gubernur Jawa Barat* yang mendapat *Juara 1 Level 1*.

Mari sama-sama kita simak hasil wawancara Tim Tema dengan Uni Dessy.

🌟💫🌟💫🌟💫🌟💫🌟💫🌟

Naila usianya berapa? mulai HS dari usia berapa?

🌹Naila 8 tahun. Baru tahun ajaran ini mulai HS, berarti baru 2 bulan. Hanya sebelumnya ada semacam percobaan HS selama 6 bulan untuk lebih meyakinkan Naila lebih suka yang mana, belajar di sekolah atau HS.

Percobaan HS-nya seperti apa, Uni? Kegiatan tambahan di rumah setelah sekolah?

🌹Iya. Saya minta di sekolah Naila konsentrasi pada pelajaran yang guru sampaikan biar di rumah gak perlu mengulang lagi. Di rumah kegiatan belajar yang dia suka.

Dan hasilnya kebanyakan gagal.
Dia lebih semangat berkegiatan di rumah, pelajaran sekolah lewat semua, gak ada yang nempel. Emaknya mesti mengajarkan ulang hampir semua pelajaran.

Ke latar belakang HS dulu yaa.

Sebelumnya anaila sekolah di MI. Pekan pertama sekolah saya langsung wow liat pelajarannya. Saya rasa belum saatnya anak kelas 1 SD dapat materi sebanyak dan sesulit itu. Saya selalu menanamkan pada anak-anak bahwa belajar itu seru, meraih ilmu itu seru. Ketika mulai sekolah Naila bilang nggak, belajar gak seru, pusing.

Semangat ke sekolah yaa untuk main, ketawa-ketiwi sama teman-temannya. Urusan pelajaran mesti belajar ulang di rumah. Saya mulai berpikir, dari pagi sampai siang di sekolah berarti cuma dapat mainnya doang, belajarnya tetap saja di rumah. Buang-buang waktu, dong.

Alhamdulillah dipertemukan dengan Sabumi HSMN Bandung, dari situ belajar tentang HS. Rasanya klop banget, ini yang saya cari.

Kemudian saya coba perkenalkan pada Naila konsep belajar HS ini. Materi wajib hapalan Qur’an, adab, dan fiqih ibadah. Belajar mata pelajaran sekolah cukup 1-2 jam duduk manis dengan mama, sisa waktu dia bisa lakukan apa saja. Kurikulum agama tidak berupa hapalan-hapalan seperti di MI, lebih penting mengisi ruhnya dengan nilai-nilai Islam terlebih dahulu daripada hapalan.

6 bulan mencoba memadukan sekolah dengan kurikulum HS yang fokus pada aqidah, Qur’an, siroh, dan crafting (hobinya Naila). Hasilnya Naila kelelahan. Hampir tidak punya waktu main. Akhirnya kurikulum HS yang keteteran karena mesti mengejar tugas sekolah dan ujian. Padahal menurut saya, kurikulum HS ini yang lebih penting untuk anak seusia Naila.

Suatu hari ketika mengulang pelajaran sekolah di rumah, Naila bilang, “Aku lebih suka belajar di rumah sama mama daripada di sekolah.” Saya bilang, “Ntar gak bisa main lagi sama temen-temen sekolah.” Naila bilang, “Gak apa-apa, aku kan masih punya temen di rumah.”
Sejak itu saya mulai nego sama suami tentang HS, yang awalnya beliau pun menolak. Usaha merayu terus dilakukan, sambil meyakinkan Naila juga tentang keadaan HS seperti apa. Tampaknya Naila sudah bulat ingin HS.
Singkatnya akhirnya saya dan suami sepakat HS, alhamdulillah.
Ortu gimana? Jelas menentang! Alhamdulillah biar berdekatan tapi kami beda rumah, jadi saya keras kepala aja, seperti yang sering mereka bilang sama saya. 😁

Kekuatan saya ada di Naila. Dia suka dengan cara belajar HS. Balik lagi bahwa belajar itu menyenangkan. Anak kalau mindsetnya belajar itu bikin pusing gimana mau sukses? Buat saya yang penting masa depan anak. Tantangan dari ortu, saya yakin akan pertolongan Alloh. Sebelumnya saya sudah melalui perubahan besar dalam hidup, saya yakin tantangan ini juga akan bisa dilalui, insya Alloh.

Akhirnya kenaikan kelas tiba, Naila ranking 3 di kelas, saya tanya lagi dia, rapot kamu bagus, mau sekolah ato HS? Jawabannya belum berubah, HS. 😊

Jadi Naila menang kemarin adalah pembuktian buat aki nini juga ya, Un?

🌹 Alhamdulillah, bikin mereka speechless. Meskipun niat awal bukan untuk pembuktian apa-apa, kok. Terlalu melelahkan kalau mengejar sesuatu hanya untuk pembuktian pada orang lain.

Sejak kapan Naila menunjukkan ketertarikannya pada sains? Bagaimana Uni menemukan minat naila di sains? Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk mengasah minatnya?

🌹 Semuanya karena Alloh. Skenario indah yang Alloh siapkan untuk kami.
Naila kecil dididik oleh ibu yang minim ilmu agama. Sejak usia 2 tahun senangnya lenggak-lenggok di catwalk. Saya sebagai ibu cuma bisa mengikuti maunya anak. Mulai dari lomba fashion show tingkat RT sampai yang rada bergengsi di mall Naila ikuti. Dia gak pernah ikut sekolah model. Cukup liat orang lain lalu dia praktekin sendiri di rumah.
Cita-cita Naila dari usia 4 tahun sampai skrg blm berubah, ingin buka salon. 😁
Sekali lagi, alhamdulillah bertemu Sabumi HSMN Bandung, serasa ditampar bahwa saya nyaris menyeret anak ke jalan yang salah. Mulailah saya mencari potensi Naila yg lain, sebagai pengalihan dari bidang fashion ini.

Ternyata Naila suka dan cekatan saat bikin suatu kreasi, yes… Crafting. Disiapkanlah berbagai media crafting. Tapi ternyata belum cukup kuat memenuhi jiwa kompetisinya. Tampaknya Naila kecil ini udah hobi koleksi piala.

Suatu ketika ada fieldtrip Sabumi ke planet sains. Naila excited. Sejak itu ketagihan bikin eksperimen sains, dan jadilah sains salah satu kurikulum utama di HS Naila.
Qodarulloh, bulan lalu hari Ahad, sedang santai lihat FB, ada postingan Planet Sains tentang olimpiade ini. Terjadilah percakapan:

Mama: Teh (panggilan Naila di rumah teteh), ada olimpiade sains nih. Lomba tentang sains gitu. Mau ikutan gak?

Naila: Mau!

Mama: Beneran? Susah, lho. Pesertanya banyak, Teteh musti belajar serius buat persiapan.

Naila: Biarin. Aku mau ikut.

Akhirnya tanpa pikir panjang, saya mendaftar. Itung-itung menambah kegiatan Naila saja.

Planet Sains sebagai penyelenggara menyediakan paket latihan soal untuk olimpiade, 120 soal multiple choice dan 4 paket eksperimen sains. 2 minggu kami fokus ke persiapan olimpiade, dengan waktu belajar yang tidak lebih dari 1 jam per hari. Batas maksimal Naila bisa fokus gak lebih dari 1 jam. Pelajaran lain kami hold, kecuali hapalan Qur’an, siroh, dan crafting.

Di sini beruntungnya HS-er, bisa fokus dulu mengejar sesuatu, yang lain di-hold. Kalau anak sekolah kan gak bisa gitu. Mereka tetep mesti sekolah lalu belajar persiapan olimpiade sepulang sekolah. 😰.

Sekali lagi belajar itu harus menyenangkan, termasuk mempersiapkan olimpiade sains ini juga harus menyenangkan, gak boleh bikin anak stres.

Ternyata materi olimpiade sebagian besar belum Naila pelajari, baik waktu di sekolah maupun ketika sudah HS. Pemilihan kalimatnya pun juga bukan kapasitas anak kelas 1-2 SD. Foto soal nanti menyusul yaa.
Sempat ciut waktu pertama buka latihan soal, tapi lihat semangat Naila saya gak mungkin malah menjatuhkan. Oya, begitu tau olimpiade ini hadiahnya piala & uang, Naila tambah semangat. 😁

Setiap mulai belajar saya memohon agar Alloh memberi kemudahan pada saya dalam menerjemahkan soal-soal ke kalimat yang mudah dimengerti, dan memohon agar Naila diberi kemudahan dalam memahaminya. Setiap selesai belajar saya tegaskan bahwa tujuan ikut olimpiade ini bukan juara, tapi agar Naila lebih semangat belajar. Kalau menang itu bonus, kalau kalah alhamdulillah atas ilmu yang kita peroleh selama persiapan olimpiade ini. Alhasil Naila melalui persiapan tanpa ada beban sedikit pun, hanya memang obsesinya buat menambah piala tampaknya cukup besar. 😓

Rizqiminalloh, Naila diberi kesehatan yang prima selama persiapan sampai hari H. Sampai di lokasi mata Naila tajam menatap piala.

Saya: Bagus pialanya?

Naila: Bagus Mah, besar.

Saya: Inget tetep semangat meski gak dapet piala. Dengan ikut olimpiade ini buat Mama, Teteh udah juara. 😊

Total peserta olimpiade 500 anak yang dibagi 3 level:
Level 1 kelas 1-2 SD
Level 2 kelas 3-4 SD
Level 3 kelas 5-6 SD

Naila di level 1 dengan jumlah peserta kurleb 100. Peserta mayoritas utusan sekolah-sekolah terkenal. Alhamdulillah tidak tampak rasa kecil hati melihat yang lain berseragam dan bergerombol, sementara Naila sendiri.

Seleksi pertama dimulai, 40 soal multiple choice pakai lembar jawaban computerize. Oya, di paket latihan ada contoh lembar jawaban juga, jadi Naila sudah berlatih memakai lembar jawaban ini.

Di tengah tes ada yg menangis, bahkan menjerit cukup histeris. Alhamdulillah Naila keluar ruangan tes masih cengar-cengir.

Dari seleksi awal dipilih 10 anak di masing-masing level untuk masuk babak final. Alhamdulillah Naila masuk. Sampai sini saya terus bilang bahwa buat mama teteh udah juara. Ketika sudah sejauh ini, kekhawatiran Naila kecewa pulang tanpa bawa piala semakin besar. Saat itu saya berdoa, yaa Alloh bahagiakan anakku hari ini.

Masuk babak final, melakukan eksperimen sains terompet balon, kemudian diberi pertanyaan oleh 3 orang juri.

Khas Naila, cuek, tampak gak merhatiin instruksi, bikin saya makin deg-degan. Naila berhasil menjadi yang pertama menyelesaikan eksperimen, tetapi sempet gereget juga liat gaya cueknya, nih anak nyimak pertanyaan juri gak sih. Pertanyaan juri dijawab tertulis di lembar jawaban, jadi kita gak tau jawaban dia apa. Sampai sini cuma bisa pasrah, sekali lagi berdoa, bahagiakan anakku, menang atau kalah, jangan buat ia merasa kecewa.

Nunggu pengumuman Naila kerjaannya mondar-mandir liat piala. Yang lain asyik menonton pertunjukan, Naila asyik pegang-pegang piala 😓.

Dan tiba saatnya pengumuman. Mengalir air mata ini ketika jas laboratorium ketiga disematkan di bahu Naila. Ini calon pejuang agama-Mu, yaa Alloh…

Rizqiminalloh, semuanya karena Alloh. Tidak ada yang istimewa dari Naila apalagi saya. Hanya ibu dan anak yang berusaha untuk lebih baik setiap harinya.

Percakapan ketika pulang olimpiade

Mama: Teteh jadi scientist aja, ntar kuliah di ITB.

Naila: Gak mau. Aku maunya buka salon…

#keukeuh

Uni, boleh tanya yaaa… Apakah cita-cita besar Naila yang sedang dan akan dibangun untuk masa depannya? Apakah Naila juga sudah punya semacam peta kehidupan dalam perjalanannya? Atau dia punya plan apa gitu?? Kalau ada, adakah tips dan trik untuk dibagi kepada kami? Terima kasih, Uni. 😊

🌹Pola pikir kami sederhana. Kami hanya ingin Alloh meridloi setiap langkah kami, arahnya ke mana kami pasrahkan pada Alloh. Kami hanya berusaha untuk terus menjadi muslim yang lebih baik.

Untuk anak-anak, sesuai kodratnya sebagai wanita, kami berharap kelak mereka menjadi istri dan ibu yang sholehah, sehat, cerdas, dan tangguh. Untuk ini saja kurikulum yang harus disiapkan cukup panjang. 😊

Sains, matematika, ilmu bisnis, dan lain-lain, itu semua alat untuk belajar, untuk menempa diri, agar kelak ilmu yang mereka peroleh bisa bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
Tidak ada grand design yang luar biasa. Sederhana, tapi harus jelas tujuannya ke mana, berkumpul kembali di surga.

CATATAN PENTING

🔹Sangat penting untuk menemukan cara belajar anak kita, dan tahu dalam kondisi apa anak kita saat belajar, apakah saatnya menerima materi baru, saatnya latihan soal, saatnya diskusi, saatnya membaca dan membuat rangkuman, atau saatnya belajar dihentikan dulu.

🔹HS-er punya banyak waktu luang, manfaatkan sebaik-baiknya.

🔹Untuk anak dengan jiwa kompetisi yang tinggi, rajin cari informasi kejuaraan dan siapkan energi, karena ini cukup melelahkan ortunya 😦 . Tetapi harus terus diingatkan juga bahwa menang kompetisi bukan tujuan. Goal-nya adalah anak semakin semangat meraih ilmu.

🔹Lillahi ta’ala. Teguhkan niat bahwa mendidik anak bukan untuk menunjukkan pada orang lain tentang kehebatan anak kita, bukan untuk membuktikan apapun. Semua proses akan berjalan tanpa beban.

Uni Dessy….. Jadi terharu… Pesan yang luar biasa. Itu bila orang tua lengkap ada suami dan istri. Bila si ibu singel parent, bisakah Uni beri kami masukan biar bisa juga sukses mendidik anak-anak dengan sukses secara iman dan islam?

🌹 Kata-kata guru saya yang selalu saya ingat, dunia ini memang tempatnya ujian. Beban, masalah, yaa memang tempatnya. Tapi selalu yakin bahwa Alloh pasti mampukan kita.

Menurut saya, HS tidak selalu lebih baik dari sekolah. Untuk beberapa kondisi lebih baik anak sekolah daripada HS.

Single mom menjalankan HS, jika belum mulai bisa dicoba pada saat liburan sekolah. Sebulan uji coba akan terasa tantangan-tantangannya, tinggal evaluasi. Jika sudah mulai HS, nikmati prosesnya, evaluasi terus. Dengan niat yang tulus lillahi ta’ala, insya Alloh, Alloh akan selalu memberi petunjuk.

Balik lagi ke kegiatan HS ya, Uni.
Tadi Uni bilang Teh Naila kan anaknya cuek. Kalau untuk kegiatan HS harian dibuat terjadwal rapi dan paten seperti jadwal di sekolah gitu gak? Hari ini jam sekian belajar ini. Jam sekian belajar ini…. Atau lebih fleksibel?

🌹 Saya buat jadwal pelajaran. Pelajaran rutin mulai jam 8 pagi, kecuali ada kegiatan ke luar rumah. Diusahakan jalan sesuai jadwal, tetapi kembali lihat kondisi anaknya (poin 1 catatan penting).

Untuk proses HS ini saya gak bisa share lebih banyak karena kami baru menjalankannya. Kami juga masih terus mencari media belajar yang baik dan cocok untuk anak-anak.

Tim Tema Diskusi Harian HSMN Pusat

HSMN.Timtemadiskusi@gmail.com


🔅🔆🔅🔆hsmn🔆🔅🔆🔅

👥facebook.com/hsmuslimnusantara
👥FB: HSMuslimNusantara Pusat
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s