Parenting

Melatih Anak Bermental Kaya

Moderator: Ambu Ayeman

Notulen: Teh Rika Lestari
~ Biodata Narasumber ~

Nama: Putri Ramdhani Catur Setyorini

TTL: Balikpapan, 3 Juli 1981

Alamat: Perum Pesona Telaga Cibinong, Kab. Bogor

Pendidikan terakhir: S1 Teknologi Pangan UNPAD

Nama suami: Nuke Pratama (42 th). S2 Mechatronic FH Ravensburg Weingarten.

Nama anak:

1. Radhiyan Muhammad Hisan, 14 thn (HS)

2. Asma Wafa Ahdina, 8 thn (Sekolah Komunitas Kebon Maen Cilangkap Depok)

3. Hikma Shabrina Putri, 5 thn (belum sekolah)

Aktivitas utama: ibu rumah tangga. Kl sampingannya banyak, multifungsi 😄
~ Selayang Pandang ~

Bermental kaya??! Maksudnya…

Siap jadi orang kaya?!

Siap jadi milyuner?!

Yaaa … boleh lah mereka itu semua masuk dalam definisi kaya… betul, jadi mukminun harus kaya. Kaya harta, kaya jiwa, kaya akal, kaya ilmu.

Menurut saya, mental kaya adalah mental siap menerima semua kondisi yg kita hadapi. Mental kaya adalah mindset yg positif.

Seperti dlm hadits disebutkan, sungguh ajaib perkara seorang muslim, ketika diberi musibah dia bersabar, ketika diberi nikmat, dia bersyukur. Itulah mental kaya.

Sikap orangtua yg bisa membuat anak terhambat mental kayanya, salah satunya adalah over protektif. Over proteksi berkaitan dengan mindset yg negatif.

Anak dilarang memanjat teralis jendela atau pohon, takut jatuh. Padahal, manjat juga belum, tapi sudah suudzon nanti bakal jatuh. Jadi anak sudah kehilangan kesempatan belajar.

Anak mau cat rambutnya, dilarang. Padahal belum tau bisa atau tidak.

Anak mau pakai baju ga nyambung sama acara atau warnanya beda2 (antara jilbab, atasan, bawahan), dilarang. Padahal anak sudah berpikir out of the box.

Bagaimana mau jadi seorang entrepreneur??

Yaa yaa, mental kaya erat kaitannya dengan entrepreneurship. Bagaimana seseorang bisa memiliki dan menjalankan bisnisnya, harus bermental kaya.

Ketika kesulitan, kesusahan, kesedihan yang didapat, tapi anak bisa tetap bahagia. Karena bahagia itu pilihan, bermental kaya lah, maka kamu akan bahagia…!!!

Banyak orangtua yg tidak tega melihat anaknya menderita, gagal, sedih, dsb. Akhirnya, anak selalu diarahkan. Anaknya menurut saja, selalu. Suatu saat, si anak ingin berbuat sekehendak hatinya. Ortu merasa anak sudah tak menurut lagi. Di cap lah, anak durhaka…

Ada lagi, si anak selalu dilayani, dicukupi, dienakkan, karena ortu tak mau lihat anak menderita. Ealah, si anak malah seperti memperbudak dan menginjak-injak kepala orangtuanya.

Helloooww, Bunda, Ayah… yg buat anakmu jadi begitu siapa…??

Ayo Bunda, Ayah, perbaiki sikap kita yuk… jangan terlalu over protektif ke anak. Biar anak kita bisa bermental kaya. 👍🏻✊🏼
~ Tanya Jawab ~

Teh Nadia 
Mau nanya Mba Putri.. ini kan pengasuhannya dasar banget ya hihi.. nah kalau anaknya sudah usia 6,5 tahun (perempuan) masih manja, masih cengeng… salahin emaknya aja lah ya, ehm..

Tapi kan ga boleh menyerah! Pasti bisa diubah… Nah, minta tips dan trik bagaimana sih membentuk mental kaya seperti tema diatas ini? Jazakillah khoyron katsiro Mba.✅

📌 Jawab

Manja, cengeng di usia 6,5 tahun… kayak apa dulu nih, manja dan cengengnya?
Menangis ketika merasa sedih, wajar loh…

Menangis dijadikan senjata utk mewujudkan keinginannya, ini yg harus diubah 🙂

Kalau kasusnya yg kedua, ga ada cara lain… harus tega

Ketika menangis karena sedih, tanya alasannya. Besarkan hatinya. Pompa semangat ke dalam dirinya. Next, ketika bertemu kasus/ penyebab yg sama, dia bisa tidak menangis lagi, bahkan bisa tersenyum. Minimal tidak menangis lagi.

Anak kedua saya, Wafa, terlihat tomboy, tough, suatu saat masuk ke rumah dlm kondisi berkaca-kaca matanya. Saya tanya kenapa, kok nangis…

Dia cerita, Mas-nya tidak membela ketika dia diganggu teman laki2, malah disoraki untuk melawan, dikasih semangat buat melawan teman laki-lakinya itu…

Saya jawab, bagus dong… Mas Hisan kasih semangat kamu buat berani, melawan orang yg intimidasi kamu.

Dia malah bilang gini… tapi, aku kan juga pengen dibelain sama Mas… biar berasa punya kakak laki-laki…

Wafa bilang begitu sambil senyum-senyum… tapi nangis juga…

Giliran saya yg ketawa 😀

Jadi, dr kisah itu, ooohh ternyata … Wafa perempuan juga ya… 😀

Paham ya Bun, semoga bisa mengambil hikmah dr yg saya ceritakan

Jadi, manja dan cengeng harus tau dulu sebabnya, baru kita bisa kasih treatment yg tepat ✅

***

Teh Nunu

Bagaimana membantu menumbuhkan mental kaya si anak,sementara di sisi lain saya juga harus membantu dia belajar mengontrol emosinya?

fyi: anak saya laki-laki umur 6 tahun punya adik laki-laki juga umur 3 tahun

Jazakillah

📌 Jawab

Bun, mampu mengontrol emosi termasuk dalam mental kaya. Justru disitulah poinnya.

Ketika anak marah, bagaimana melatihnya untuk tidak berlebihan dlm marahnya. Bisa menahan kemarahannya. Dan menyalurkan emosi marahnya ke arah/ kegiatan positif.

Misal, ketika anak marah lihat mainannya diberantakin adiknya, kita bisa ajak anak untuk ayo kita bereskan dan simpan mainannya, agar tidak diberantakin atau dimainin sama adik…

Jadi, marahnya bisa jadi kegiatan positif utk menjaga miliknya. Tidak berlebihan juga. Marahnya tidak merembet kemana-mana.

Ini termasuk mental kaya. Jadi, nanti ke depannya, dia bisa memetakan, penyebab marahnya apa, perlu ga sebetulnya dia marah?

Kalau sudah tenang, anak bisa diajak diskusi, tentang indahnya berbagi. Apalagi sm saudara sendiri. Main bersama lebih menyenangkan, dsb.

Ketika dia bertemu dg kondisi yg sama, dia bisa memutuskan… apakah aku harus marah? Atau aku ikut bermain bersama dg adik?

Mungkin, dia mau mencoba untuk ikut bermain dg adiknya, daripada marah-marah seperti sebelumnya.

Itu salah satu contoh kejadian aja ya Bunda-Bunda…

Sementara, si adik juga dapat pelajaran. Bahwa sebelum pinjam mainan kakak, harus izin dulu.

Ini mah contoh kasus ya.

Jadi intinya apapun bentuk emosi si anak, mau marah, senang, kesal, dll kita sebagai ibunya harus terus kasih penjelasan. Terutama kondisi-kondisi yg mungkin bagi kita (dan anak) bisa membuat sikap/mindset negatif muncul

***

Teh Rian

Kegiatan atau apa saja yg bisa menumbuhkan mental kaya?

Sikap yang harus dimiliki orang tua agar anak bermental kaya?

📌 Jawab

Sebetulnya, mental kaya harus dimiliki oleh orangtuanya dulu ya… dengan selalu positive thinking.

Kegiatan-kegiatan positif bisa membuat mental kaya. Misalnya, berbagi, melakukan kebaikan kepada siapa saja, memelihara hewan, dsb. Itu bisa jadi latihan kita utk bermental kaya.

Dan satu lagi, merutinkan sholat fajar (sholat sunnah 2 rakaat sebelum Subuh). InsyaAllah, mental kaya itu akan kita dapat 🙂

***

Teh Nisa

Bu, mau tjurhat aja ini mah 💆🏻

Tidak bermaksud hati melarang jajan, khaizan 4 tahun sudah kesepakatan itu jajan mainan 1000/ hari atau belanja lain senilai 1000 yang disepakati.

Suatu hari batas maksima 1000 itu sudah sampai, dia diajak temannya ke warung, tahu-tahu sudah belanja, pulang-pulang bilang “Ibu, Izan barusan pinjem uang temen Izan, boleh?” 💆

Tiba-tiba saya khawatiiiiir, seusia ini udah tahu konsep pinjam meminjam uang.

Padahal saya inginnya, “Kamu gak Ibu kasih uang, karena batas dia sehari sudah maksimal, bukan berarti kamu bebas pinjam uang ke teman” 😩

Pertanyaannya.

1. Ketika sudah tau konsep pinjam uang/barter dll, apa saat ini sudah perlu dipahamkan nilai dan mata uang?

Fyi, kondisi Izan ya, saya ajarkan Izan komunikasi jual beli sejak sebelum 4 tahun, sudah bisa belanja telur dan tepung ke warung sendiri, dengan catatan dan uang pas yang harus dikasih ke ibu warung walaupun dia belum paham nilai uang.

2. Izan sudah mengerti uang lebihan itu harus ditabung, anak-anak tidak kami biasakan makan di luar, ataupun berbelanja selain belanja bulanan. Mainan dan jalan jalan pun tidak setiap minggu dikasih, dengan harapan si “mental kaya” ini.

Tapiiiiii… beberapa orang temannya bisa membeli mainan setiap minggunya, makan diluar, jajan jajanan.

Nah saat ini sudah terlihat “perlawanan” karena hal tersebut.

“Kenapa dia punya Izan engga?”

“Kenapa dia jajan terus aku engga?”

Pertanyaannya (lagi) terlalu dini kah saya minta dia untuk nurut keinginan kami (orangtuanya) soal mental kaya dalam hal ini?

Sudah tepatkah?

Karena rupanya kemarin dia hanya sebatas meniru, tanpa paham maknanya.

Mangga… 

📌 Jawab

Wah, masyaAllah, pertanyaan-pertanyaan disini mantap-mantap 👍🏻👍🏻

Konsep komitmen dan konsekuensi yg Bunda terapkan sudah bagus. Jajan per hari 1000. Tidak lebih. Ketika Izan meminjam uang temannya untuk jajan, Bunda bisa ingatkan lagi tentang komitmen yg sudah dibuat di awal.

Dan mungkin, Izan belum paham, bahwa ketika dia sudah jajan 1000, mau lebih dg pinjam uang, itu konsep yg berbeda. Diingatkan saja Bun…

Kalau memang anak sudah siap menerima ilmunya, tidak ada salahnya dia kita kasih ilmu ttg uang dsb.

Apalagi Izan sudah bisa transaksi jual beli ya di warung … boleh kita kasih ilmu jual beli, mata uang, dsb.

Nah, yg menarik adalah ketika anak sudah mulai membandingkan dg temannya atau saudara sepupu nya, dll…

Kenapa dia punya, aku enggak…? Dia bisa jajan terus, aku enggak?

Saat yg tepat memberikan ilmu adalah ketika anak bertanya.

Jadi, ketika Izan tanya, kok dia punya, aku enggak…? Disini Bunda bisa masuk dengan menjelaskan konsep2 dan keinginan Bunda. Tentu dg bahasa yg dia pahami

Misal, masalah jajan… beritahu bahwa kenapa ga boleh banyak jajan. Karena makanan diluar belum tentu sehat, bersih, dsb 

Kaitannya dg mental kaya, harusnya anak ga dilarang jajan ya? 😀

Bukan gitu juga Bun… ketika kita melarang anak utk tidak terus-terusan jajan, pastilah ada ilmu dan hikmah yg ingin kita ajarkan ke anak.

Katakanlah dia berontak. Dia jajan terus makanan yg sama selama berhari-hari, akhirnya dia kena sendiri ga enaknya.

Ini pernah terjadi sama Wafa. Dia pernah menentang, ga boleh jajan makaroni yg pedes itu. Berhari-hari dia beli itu dg uang tabungannya sendiri, karena ga saya kasih. Hari ke-5, perutnya sakit. Gatel an di bibirnya.

Sesekali, biarkan juga sih anak melanggar komitmen yg sudah kita buat. Biar anak bisa merasakan konsekuensi dr hasil menentangnya

Itu belajar bermental kaya juga, menurut saya 🙂

Qadarullah wa maa syaa a fa’ala waktu kulwapnya sudah habis (dari tadi, mohon maaf) .

Kita cukupkan dulu sampai disini yaa buibu…

***

Kesimpulannya

1. Kasus anak cengeng/menangis ➡ Cari tahu apakah karena sedih atau memaksakan keinginannya? ➡ Cari tahu alasannya ➡ Treatment sesuai alasan.

2. Bantu anak mengontrol emosinya = memperkaya mentalnya. ➡

*Arahkan ke kegiatan positif

*Bantu memetakan alasan kemarahannya

*Bantu memutuskan bgmn cara bersikap

*Selalu beri penjelasan

3. Kegiatan untuk menumbuhkan mental kaya:

*Ortu selalu positive thinking

*Senantiasa melakukan kebaikan

*Shalat qabla subuh

4. Kasus meminjam uang teman kala uang jajan habis:

*Tetapkan aturan2 yang jelas yang dapat dipahami anak

*Biarkan anak menjalani konsekuensinya dan belajar dari pengalaman tersebut.

Hmmm. Perlu kami para ibu refleksi masing2 nih. Yuk pelan2 perbaiki.

@Putri Ramdhani

Terima kasih yang dalam kami haturkan untuk ilmu yang sudah dibagikan. Semoga dapat dipraktekkan dan barakah. Jazakillah khoiron ❤

Ibu2 semua, terima kasih atas partisipasi dan perhatiannya, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

Kulwap kita tutup dengan hamdalah dan doa akhir majelis. 

Subhanakallahuma wabihamdika asyhadu ala illaaha illa anta astaghfiruka waatubu ilaik

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s