Homeschooler Story · Multitema · Parenting

Mengapresiasi Karya Anak

Curriculum Vitae Narasumber

✏ Nama: DK. Wardhani (Dini)

✏ Tanggal lahir: Maret 79

✏ Alamat: Malang

✏ Pendidikan: S2 Arsitektur-Urban Design

✏ Status: Married with two kids

✏ Aktivitas: Dosen, Penulis dan ilustrator buku anak, Homeschooler

Web : http://www.capungmungil.weebly.com, http://www.capungmungil.blogspot.com

IG : @dkwardhani

FB : DK. Wardhani (@dinidkwardhani)

***

🌙Pembukaan


Mengapresiasi Gambar Anak

by DK. Wardhani

Keni suka sekali menggambar dan gambarnya buanyak sekali, di kertas yang terpisah-pisah. Saya awalnya hanya mengumpulkan saja. Lama kelamaan saya perhatikan gambarnya satu persatu… eh ternyata lucu ya.
Mungkin banyak orangtua yang bingung mengapresiasi gambar anak, ya memang lucu tapi selanjutnya apa? paling cuma bisa bilang “Bagus yaa!”
Nah, mari kita lihat. Kira-kira apa sih yang bikin bagus? (lagi-lagi berdasar pengalaman yaaa). Urutan pengamatannya bisa disesuaikan keunikan gambar si anak.


1. Ide

Yak, ide itu mahaaal. Jika anak bisa memvisualisasikan apa yang ia bayangkan dalam gambar, ia layak dapat apresiasi.


2. Detail

Kalau saya, yang saya perhatikan adalah detailnya. Keni kalau menggambar detail sekali. Coba lihat, bagaimana Keni menggambar wajah si pensil semua berbeda-beda ekspresinya. Ada yang senang, ada yang alisnya naik, ada yang sedih, nangis dll. Begitu juga saat menggambar api, awan, air dll semua detailnya berbeda. itu pasti butuh waktu dan kesabaran bikin sedetail itu.


3. Warna

Anak-anak kalau mewarna itu kadang tidak terduga pencampurannya. Keni termasuk yang tidak ragu-ragu memainkan warna.


4. Cerita di balik gambar itu

Coba deh ditanya, ini gambarnya tentang apa? Anak akan panjang lebar menceritakan apa yang ia gambar. Meskipun gambarnya sederhana, sering kali saya menemukan cerita-cerita yang lucu, unik, dan imajinatif.

Contohnya : semut baris itu ada ceritanya lho. Yg depan bu guru semut, muridnya lagi baris antri masuk kelas semut di bawah tanah, semut nomer 2 dari belakang ngantuk karena lama antrinya lucuu bangets denger ceritanya.


5. Komposisi

Bagaimana anak bisa menguasai bidang gambar, itu bukan hal yang mudah lho.


6. Tarikan garis

Keni kalau menggambar jarang sekali menghapus. Dia bisa menarik garis dengan pede. Nah, jangan kebanyakan diatur nanti malah merusak mood si anak.


Oia, jangan lupa lihat usianya ya pak bu… jangan ukur pakai usia kita
* Kadang ada anak ngga mau mewarna gambarnya, bukan apa-apa itu karena ia sudah sangat detail saat menggambar hitam putih jadi jangan paksa untuk diwarnai. Cape…katanya.

* Bebaskan saja saat menggambar, jangan sampai karya mereka hanya dua gunung dan sawah saat diajak menggambar bebas.

* Jangan buru-buru mengajak anak untuk ikut lomba, pengalaman saya sendiri gambar Keni ini bukan gambar yang disukai juri-juri lomba, bahkan mungkin gurunya juga, karena tipikal komik bukan gambar lukisan.

* Ibu dan Bapak selalu berusaha menunjukkan full attention, bahwa kami adalah fans Keni no 1 😀

Oh ya, banyak teori yang mengatakan gambar itu mewakili pribadi/ karakter/ suasana hati anak, saya ingin sekali bisa mempelajari itu. Jika teman-teman ada saran buku atau literatur lain yang bisa saya baca, monggo komen atau inbox saya ya 🙂

Semoga bermanfaat

***

Membuat Picbook ala Keni

by DK. Wardhani

Keni hobby sekali menggambar, dan semua gambarnya berserakan dimana-mana. Mau dibuang sayang, tapi mau disimpan pening karena banyak banget.

Dulu saya bersikap biasa saja dengan gambar-gambar Keni (hanya saya kumpulkan dalam map), hingga akhirnya saya melihat keunikan dari gambar Keni dan terpikir membuatnya menjadi cerita bergambar alias picbook. Awalnya Keni menggambar secara terpisah-pisah yang menghabiskan banyak sekali kertas, lama kelamaan Keni mulai bisa menggambar 1 cerita utuh dalam satu buah buku gambar.

Caranya:
Kumpulkan gambar yang bertema sama, misalkan bertema serangga.

Scan semua gambar‐gambarnya

Buka software untuk melayout, paling mudah menggunakan powerpoint.

Masukkan masing‐masing gambar, atur gelap terang dan kontrasnya.

Ajak si kecil untuk memberi cerita sederhana pada masing‐masing gambar.

Beri text pada masing‐masing gambar sesuai dengan gambarnya. Awalnya saya yang membantu membuat cerita untuk 1 tema, lama-lama Keni bisa membuat cerita sendiri.

Jangan lupa buat cover yang menarik. Saya biasa membuat menggunakan PPT dan memakai free downloadable texture paper agar lebih variatif.

Export atau save sebagai pdf.

Print semua gambar dan cover, kemudian Jilid rapi. Biasanya 1 tema 1 buku

Buku cerita bergambar siap mengisi perpustakaan pribadi anak.

Anak senang, Ibu apalagi 😀

Dengan membukukan semua coretan Keni, Keni lebih semangat menggambar karena ia tahu bisa menghasilkan “sesuatu”.

Selain itu, Keni jadi tahu bahwa Ibu menghargai semua yang menurut orang lain hanya sekedar corat-coret Keni.

Contoh picbook yang sudah jadi bisa dilihat di

http://www.capungmungil.blogspot.com/2014/08/free-picbook-2-kelas-serangga-by-keni.html

***
🌙Frequently Asked Questions

1. Mulai usia berapa saya mendokumentasikan karya?

Saya mulai mendokumentasikan, insyaAllah sekitar usia 4tahun. Keni mulai menggambar sih 2tahun ya mulai pegang pensil dengan bener (tidak digegam tapi dipegang seperti kita pegang pensil mau nulis). Tapi saya dulu pas Keni 2tahun pake papan tulis yang magnet apa itu ya, yang kalau digeser gambarnya hilang. Jadi ngga kepikir untuk mendokumentasikan, hingga suatu hari saya lihat gambarnya yang unik, barulah saya jepret pake kamera hp biasa waktu itu belum punya scanner. Setelah saya punya scanner, mulai saya cicil untuk scan dibantu Adit.

2. Apakah dipilih atau didokumentasikan semua?

Kalau yang saya lakukan memang hampir 70%-80% yang saya kumpulkan, paling ndak saya scan. Sisanya paling karena di kertas bergaris/buku kotak yang sangat sulit didokumentasikan, atau di kertas bekas kucel. Kalau selain itu saya bisa scan, saya upayakan untuk scan.

Kalau untuk adit, karena tidak suka menggambar biasanya ya bikin video, power point ya semacam itulah.

3. Kalau gambarnya masih bulet-bulet dan gak jelas apa didokumetasikan juga?

Saya memang agak kelewat soal itu dulu ke anak-anak, harusnya iya. Dulu saya dapat portfolio dari playgroupnya anak-anak, jadi santai aja. Tapi memang beda dengan kita terima jadi dengan kita mengikuti perkembangan karya anak.

Dan memang tahapan gambar anak seperti itu, mulai dari titik, bulatan, nanti akan masuk tahapan/fase orang-orangan sawah dst. Bisa baca referensi tentang perkembangan gambar anak, ada bukunya.

4. Bagaimana jika anak menggambar objek yang sama terus menerus?

Biasanya yang muncul jadi objek utama ada sesuatu yang menarik dan penting dalam hidupnya. Ada anak yang tidak pernah menggambar orang tuanya, ya karena mereka sibuk. Beberapa sekolah sudah menggunakan jurnal menggambar pagi dan pulang sekolah untuk mengamati situasi hati dan perkembangan anak.

Kalau gambarnya itu-itu saja mungkin saatnya diekspos ke alam, jalan nature walk, bikin nature jurnal pengamatan langsung. Tidak ada yang bisa menggantikan pengalaman bersentuhan langsung dengan alam, tidak juga TV dan Video.

Selain alam liar, perkenalkan anak dengan buku-buku yang menginspirasi bukan sekedar lucu-lucuan, buku-buku yang disebut “Living Book”. (bisa googling di Charlotte Mason Education). Contoh Living Book adalah buku-buku Beatrix Potter, Little House on the Praire dll.

5. Bagaimana jika tidak suka mewarnai?

Tak apa, biasanya anak yang tidak suka mewarnai gambar hitam putihnya kecil-kecil dan detail. Tapi memang mewarna dengan cat (finger paint), crayon, kapur bagus untuk sensory. Bisa diselang seling dan di buat variasi. Yang penting anak pede, biasanya juga anak males mewarnanya karena tangannya yang ngga kuat lama pegang pensil. Telapaknya sakit karena tidak siap, jadi harusnya yang diperkuat adalah kesiapan tangan, bukan memperbanyak berlatih menggambar. Salah satunya bisa dengan jepit jemuran.

6. Apakah perlu les?

Well, tergantung tempat lesnya sih sebenarnya. Ada teman mengelola DIENG CORNER di Sorowako, dia tidak pernah mengajari anak-anak menggambar. Hanya dibuatkan tema, anak-anak tetap bebas bereksplorasi, tapi tetap diajari tekniknya, misalkan bagaimana memegang pensil, kuas, takaran air, perbedaan akrilik dan cat air misalkan begitu. Jadi cari tahu dulu seperti apa tempat lesnya.

Keni sih pernah les, tapi setelah les gambarnya mirip dengan gambar-gambar di kompetisi lomba-lomba gitu jadi eksplorasi sendiri aja sekarang. Beri anak tantangan dan project-project. Anak belajar dengan cepat lho.

7. Robotik les atau tidak?

Robotik memang Adit ikut Creative Island, ada mentornya. Dan ada tahapan-tahapan yang dia lalui untuk sampai ke programing. Awalnya mulai dari yang gerakannya karena mekanik dulu bukan elektronik. Jenis yang dipakai Lego Technic. Tahap berikutnya dikenalkan ada puley, gear dll. Di setiap sesi ada percobaannya, misalkan dia bikin island yatch nanti layarnya diganti ganti ukurannya dan kemiringannya trus dia catat mana yang yang tercepat, kemudia dia belajar menyimpulkan. Alat-alatnya cukup mahal untuk punya sendiri dan selama si anak nyaman dan progressnya bagus ya jalan terus.

8. Apakah boleh dibantu orang tua?

Hmmm, saya juga kadang suka gemes sih kepengen perbaiki garisnya atau warnanya. Kadang saya tunjukan caranya di awal, tapi anak juga punya harga diri. Dia ngga mau dibantu. “Kalau dibantu itu bukan gambarku jadinya”. Tapi adakalanya dia yang minta tolong, “Bu gimana posturnya unta yang pas?” nah kalau gitu saya ijin untuk membantu. Biasanya tipis hanya sebagai guide, atau di kertas lain. Tapi kadang saya godain juga sih. Hehehe.

9. Bagaimana mendokumentasikan karya 3 D?

Salah satunya dengan foto dan video, atau sekali-sekali bikin pameran misalkan legonya yang sudah dirangkai ditaruh di dalam plastik bening trus di gantung-gantung pakai benang atau senar. Untuk beberapa hari lah kira-kira.

Kalau anaknya sudah mulai bisa, ajakin aja bikin PPT atau animoto (gampang banget ini mah). Power point bisa juga lho jadi slide show. Di android kalau ga salah slide show maker ya? dan movie maker.

10. Apakah menggambar itu bakat?

Ya bisa jadi, tapi ada sih beberapa teman yang bapak dan ibunya ngga menggambar tahunya anaknya bagus gambarnya. Itu karena eksplorasi tadi, eksplorasi bukan les. Temen-teman homeschooling yang mengambil cara unschooling biasanya jarang yang ikut les ini itu, yang lenting disiapkan adalah atmosfernya.

11. Bagaimana mengembangkan gambar anak?

Beri dia tantangan, misalkan dengan membuat qur’an journaling atau bikin ensiklopedi, atau cerita bergambar (awalnya bisa jadi ibu yang bikin dulu ceritanya). Atau seperti yang Keni lakukan membuat minibook dan menjualnya di kids market. Learning by doing. Mengunjungi expert juga bisa, berkenalan, lihat portfolionya, lihat pameran ilustrator dll.

Pertanyaan tambahan:

Tanya: 

Bagaimana dengan narasi karya..?

Apakah anak2 Mba dini juga diminta utk memberikan cerita ttg karyanya?

Krn sebetulnya kami dirumah lebih fokus ke cerita gambar ketimbang ke gambarnya. Apakah ini kurang tepat?

Jawab:

Narasi karya sangat penting mbak. Kami juga melakukan itu, anak-anak presentasi, atau menceritakan kembali gambarnya, juga kami lakukan untuk buku-buku yang sudah mereka baca. Dalam Charlotte Mason Education itu juga salah satu pilar belajarnya.

Itu melatih anak untuk bisa menuangkan idenya baik lisan dan gambar. Keep going mbak.

Tanya:

Mba Dini anak-anak suka bikin komik, tapi tidak pernah sampai ending, gimana Cara mengarahkannya ?

Jawab:

Ditanya dulu mbak, kenapa ngga selesai? bisa jadi emang bingung ngasih ending, bisa jadi galau pilih ending yang mana.

Anak-anak itu perlu di nurture, bukan dibiarin, bukan juga di kekeup… hehehe. Itu inti parenting kan ya…

Tanggapan Penanya:

Menurut mereka ceritanya udah selesai. Tokoh komiknya kebanyakan menurut saya. Kalo dikasih penjelasan alur sebuah cerita, mereka tidak indahkan. Kalo kita kejar terus mereka akan ceritakan secara verbal, tidak mau menuliskannya.

Tanggapan Narsum:

Hhmmm.. ngga apa apa sih, tetap di arsip saja mbak. maybe next time kalau mereka lihat lagi mereka mau improve. Keni kadang gitu, banyak yang ga selesai, kalau saya sih mendorong Keni punya target pencapaian sendiri.

Kalau bisa diarsip yang bagus sekalian mbak  supaya anak senang dan bisa masuk perpus rumah.

***

🌙Penutup

CELOTEH KENI bukan buku fiksi

Tapi nonfiksi 😁

Tokoh sekaligus penulisnya real.

Celoteh Keni berisi kumpulan tulisan, diary, cerita keseharian, pengalaman homeschooling, yang diilustrasikan sendiri oleh Keni (8th).

Di dalamnya ada banyak inspirasi tentang bagaimana menyampaikan ide, keberanian untuk memvisualisasikan gagasan, menyalurkan emosi secara positif, dan juga menumbuhkan semangat berkarya seorang anak.

Gambar adalah bahasa universal, gambar adalah media anak berkomunikasi dengan sekitarnya. Orang tua terkadang lupa, memandang anak dengan kacamatanya. Untuk itu buku ini hadir. Yuk selami dunia anak, lewat bahasa dan cara pandang anak, bukan cara pandang kita… orang tua.

Buku ini bisa dibaca siapa saja, semoga bisa mengambil inspirasinya.

***

🌙Reference

https://www.facebook.com/KeniaDyanti/

https://animoto.com/play/bVfn73v5QwVVGe13f6d8GQ

https://www.youtube.com/watch?v=1RY10Zv6SZA

https://www.youtube.com/watch?v=WuiPpy-l8xM

http://www.capungmungil.blogspot.com/2014/08/free-picbook-2-kelas-serangga-by-keni.html

https://www.instagram.com/laksmira_loopnhook_graphology/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s