Uncategorized

[Kulwap] Menjadi Sahabat Remaja

Resume Kuliah WhatsApp HSMN

BANDUNG – NASIONAL

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Tema : Menjadi Sahabat Remaja
📒 Narasumber : Lita Edia, S.Psi – Konselor sekolah

📅 Hari : Kamis, 20 April 2017

⌚ Jam : 09.30 – 11.00 W.I.B

📕 Moderator : Puspa

📕 Notulen : UmiUma

📚 CV Narasumber

Nama : Lita Edia Harti, S.Psi

TTL : Bandung, 14 Juli 1978

Domisili : Cimanggis Depok

Pendidikan :

  • SMAN 3 Bandung
  • S1 Psikologi Universitas Padjadjaran

Status : Menikah dengan 5 anak

Akmal 15 tahun, Hanif 12 tahun, Naurah 8 tahun, Shofiyyah 3 tahun, Salman 7 bulan

Pekerjaan :

  • Ibu rumah tangga
  • Ketua Litbang RA dan SDIT AMAL MULIA DEPOK
  • Bimbingan konseling RA dan SDIT AMAL MULIA DEPOK
  • Owner toko perlengkapan pendidikan rumah Pernik Sakinah (mainan, buku anak, buku parenting)

📰 MATERI

Menjadi Sahabat Remaja
Bismillah,
Perkembangan anak selalu dinamis di setiap masa. Termasuk di masa remaja.

Gap antara anak dan orangtua, menjadi topik yang cukup hangat dibicarakan antara orangtua remaja

Perbedaan nilai nilai yang dianut, kecenderungan perilaku, kebiasaan kebiasaan.
Kekhasan perkembangan remaja, salah satunya adalah lebih lekat dengan teman sebaya.

Sebenarnya hal ini merupakan fase penting sebagai persiapan masa dewasa.

Di fase ini, anak memilah mana yang perlu dibicarakan dengan orangtua.

Mana yang perlu dibicarakan dengan teman.

Anak mulai bersiap untuk berpisah dengan orangtua.
Kelak ketika dewasa, merekapun akan memilah mana yang perlu dikabarkan ke orangtua, mana yang tidak.

Mana yang menjadi topik dengan pasangan, mana yang menjadi topik dengan rekan kerja, mana yang dengan orangtua.

Semisal ada orang dewasa yang tidak bisa memilah, semua persoalan keluarganya diceritakan ke orangtua.

Biasanya ini dipandang belum dewasa.
Namun tidak semua orangtua sudah menyiapkan diri mendampingi anak di masa ini.

Masih ada yang terkejut dan mempertanyakan.

Merasa anak menjadi jauh.

Padahal memang sudah waktunya anak mempersiapkan diri untuk “jauh” yang sebenarnya adalah jalan menuju mandiri.
Tidak semua remaja mengalami masa yang meresahkan orangtua.

Mungkin ada saatnya ia mencoba coba hal baru.Tampak lebih sensitif

Akan tetapi hal itu tidaklah permanen sifatnya.
Salah satu faktor remaja bisa melalui masa sulitnya adalah ketika orangtua bisa menjadi sahabat remaja.

Bagaimana agar kita bisa menjadi sahabat remaja?
1. Bangun rasa percaya anak kepada kita, di DUA tahun pertama kehidupannya. Penuhi semua kebutuhannya di DUA tahun pertama,segera!
2. Jaga rasa percaya yang sudah terbentuk. Caranya: sesuai kata dengan perbuatan. Tidak berbohong, tidak mengatakan hal yang tidak akan dilakukan
3. Berempati pada perasaan anak. Menerima dulu sebelum mengarahkan.
4. Mendampingi anak ketika ia mengalami kesulitan (mendampingi tidak berarti intervensi/ membantu).
5. Bangun kelekatan dan kehangatan dengan cara bercanda, berinteraksi bersama, melakukan kegiatan bersama.
6. Komunikasi empatik.
7. Pahami kekhasan karakter remaja, agar orangtua tidak cepat terpancing emosinya. Bisa bijak menghadapi masalah yang muncul.

Ketujuh hal ini, perlu dijalankan dari sejak anak lahir, secara konsisten. Menjadi sahabat remaja, sulit dilakukan mendadak. Hal ini akan menjadi pondasi relasi positif anak dengan orangtua.

Catatan: membangun kehangatan berbeda dengan memanjakan. Seiring membangun kehangatan perlu membangun ketangguhan.

🍃🌼 🍃 SESI TANYA – JAWAB 🍃🌼🍃

🍂 Pertanyaan pertama :
󾠮. Assalamualaikum bund lita. Ingin bertanya, bgmn mengatasi kekhawatiran ketika anak kita yg sdh remaja nantinya sdh mulai memilah mana yg perlu disampaikan kpd ortunya? Kdg sbg ortu khawatir anak berbohong.
Lalu pertanyaan ke-2, mhn dijelaskan apa yg dimaksud komunikasi empatik?
Jazakillah khoir (Dyta, Jkt)

🍀 Jawaban pertanyaan pertama :

Wa’alaikumussalam, mba dyta.

🍃Perlu dibangun pondasi agar anak tidak berbohong

1. Kelekatan dan kehangatan orangtua dan anak.

2. Berikan rasa aman kepada anak, jangan sampai kita dipersepsi sebagai Ancaman.

3. Biasakan menerima perasaan anak, walau kita tidak sependapat.

4. Bentuk konsep diri positif. Menghukum terlalu keras, anak merasa terancam, anak cenderung berbohong.

Berikan target perilaku yang anak mampu, kadang “teror” orangtua untuk melakukan perilaku baik juga mendorong anak berbohong.

Konsep diri positif lahir dari minim kritik kerjanya apresiasi

🍃 komunikasi empatik, komunikasi yang menjadikan empati sebagai pondasi. Empati adalah bisa merasakan apa yang anak rasakan.

Anak menangis karena rebutan mainan sama adik “marah ya Nak, mainannya direbut”

Bukan…

“duuh gitu aja nangis, kasihan itu adek mau main sama sama”


🐾 pertanyaan lanjutan, menghukum anak yg baik itu spt apa agar tdk dianggap sbg hukuman yg trlalu keras?
Seringkali perbuatan dengan feedback orangtua itu tidak sebanding.
Anak menumpahkan susu, kita teriak. Padahal cukup minta dia ambil lap.
Coba dilist perilaku kesalahan anak, dan list respon kita biasanya bagaimana
Sebanding ngga, menakutkan ngga?
Tujuan mendidik sebenarnya “hanya” memberi tahu mana yang boleh mana yang tidak boleh, mana yang baik mana yang tidak baik. Kalau dengan memberi tahu apa yang baik, sudah cukup, ya sudah
Kadang orangtua ngga puas jika kita “hanya” memberi tahu baik baik.
Kalau kita marah besar, anak malah akan menyimak melototnya mata, tingginya suara

🍂 Pertanyaan ke-2
󾠯 Jika ketika anak kita sudah beranjak dewasa dan mereka memiliki pemikiran yg menurut pandangan mereka benar dan baik tetapi mnrt kita itu tidak .

saya ingin tau bagaimana cara menyampaikan nya agar tdk berkesan seolah olah kita orang tua yg selalu benar #syukron

(Nchie, bdg)

🍃 Jawaban pertanyaan ke-2
Pertama, miliki dulu prinsipnya, pendapat yang perlu kita koreksi yang mana, misal

1. Bahaya

2. Malanggar hak orang lain

Biasakan tanamkan ke anak,mengapa perilaku dilarang

“Boleh main, tapi ngga lempar lempar mainan balok, bahaya”

“Marah boleh, mukul adik jangan, adik sakit”

Kedua bangun pondasi, bentuk rasa percaya anak kepada kita orangtua

Bangun ikatan brain.

Bangun kehangatan dengan anak.

Dengan pondasi ini Insyaa Allah mudah mengoreksi perilaku usia remaja
Yang saya cermati, kesulitan itu biasanya karena pondasinya rapuh

🍂 Pertanyaan ke -3

󾠰 Pertanyaan ketiga, borongan 😁
1. Bagaimana jika anak sudah pernah berbohong? bagaimana evaluasi kita dan memperbaiki agar tidak berbohong lagi?
2. Bagaimana cara membangun komunikasi terbuka dg anak, agar anak terbiasa bercerita dan percaya ke ortu , bukan ke teman atau k tempat lain?
3. Saat pondasi agama belum kuat, saat ini usia sudah remaja, anak cenderung salah, misal mulai berpacaran dst, bagaimana sikap yg bisa dilakukan? dgn komunikasi yg tidak terlalu terbuka:(,
4.saat anak menumpahkan susu dan hanya diminta mengelap, apakah cukup direkam anak jika itu krn tidak hati2 tidak sengaja dan tidak akan diulangi lagi.

misal lagi lari2 dan menyenggol bunda yg sedang bawa susu atau mereka lagi minum dan bercanda trus tumpah, dan itu sudah pernah diingatkan sebelumnya.

Kdg kalau tanpa ngomel #ups,itu saya merasa anak blm ngerti.padahal salah ya teh? mohon pencerahan

(Nita-jkt)

🍃 Jawaban pertanyaan ke-3

1. sabar dan tidak langsung mengoreksi, cari akarnya. Jangan langsung berkata “kamu mendekati a”. Hati hati,… Anak usia remaja itu sensitif, mengapa? karena cara kerja otak usia ini, membuat mereka lebih cepat menangkap clue emosi. Jadi lebih sensiti, cepat marah atau cepat terluka
Untuk memperbaikinya, kembali keakarnya.Evaluasi, apakah anak merasa terancam?

Apakah konsep dirinya buruk sehingga dia sulit asertif (barkata apa adanya)
2. Biasakan mendengar aktif. Menyimak dengan kontak mata. Tidak memotong.
Bangun kehangatan dengan anak dulu, supaya komunikasi nyaman.

Jika mendesak, ada yang membahayakan, minta bantuan pihak lain. misal sahabat, guru, saudara, paman, kakek, nenek, untuk mendekati.
Kehangatan bisa dibentuk dengan bersama melakukan hobi yang sama.

Contoh: suami saya lebih mudah berkomunikasi dengan anak ketika sering touring bersepeda dengan anak
Saya dengan Anak, lebih hangat, ketika sering masak bareng di dapur.

Cari aktivitas berkualitas
Kalau sudah dekat dengan anak, anak akan lebih mudah mengikuti kita

Jangan dekati anak,.hanya ketika dia buat salah. Akhirnya anak akan banyak buat kesalahan sekedar cari perhatian
3. Sering saya temui, ayahbunda yang rajin ngaji, dateng ke anak kalau mau menasihati, udah gitu nasihatnya panjang.Padahal ayahbundanya ngaji juga baru, tapi pasang targetnya ke anak langsung tinggi, tidak bertahap
Soal kenapa tidak boleh pacaran harus didialogkan, akan masuk nilai nilainya kalau dah dekat dengan anak

Melalui cerita, pengalaman hidup
4. Karakter itu terbangun dari pembiasaan. Berulang ulang. 12 tahun pertama kehidupan anak, adalah masa emas membentuk karakter.
Tidak perlu langsung berpikir apa yang akan membuat anak jera.
Cukup berikan tanggungjawab sesuai perilakunya. Mau ngomel…resikonya ke kehangatan, kelekatan dan terutama usia belasan, kita sangat butuh ini untuk menjaga anak anak.Kalau kita jauh dari anak, sementara punya temen seru,pasti lari ke temen.

🍂 Pertanyaan ke-4

󾠱 Saya mempekerjakan art kira2 umur 20 th. Akhir akhir ini suka melepas jilbab dan terus diingatkan utk shalat wajib. Bagaimana contoh perkataan / perbuatan yg sebaiknya saya agar art tsb mau memakai jilbab dan melaksanakan shalat. Sejauh ini saya cuma bertanya “sudah shalat? Atau mau pake jilbab ga?” apa itu sudah cukup? Jazaakillah khair.

Yola – Bekasi

🍀 Jawaban pertanyaan ke- 4

Dengan memberi hadiah jilbab, memperdengarkan kajian, memberi contoh dan mengingatkan sholat.

🍂 Pertanyaan ke- 5

󾠲 Bgmn sikap kita sbg ortu jika remaja putri nya sedang mengidolakan sseorang publik figur/artis?

Batasan seperti apa yg masih dianggap batas normal?

Apakah perlu kita tahu aktifitas anak melalui hp nya?

Sri

🍀 Jawaban pertanyaan ke-5

Bangun pondasi bahwa kelak di akhirat kita akan bersama dengan orang yang kita cintai.

Tanyakan kepada anak, dalam hal apa yang menjadikan seseorang dimasukkan.
Cari sosok positif yang memiliki hal yang dikagumi tersebut. “Perkenalkan” pada anak.
Pada dasarnya mengidolakan ada proses menuju membentuk identitas diri adalah proses.

🍂 Pertanyaan Ke- 6

󾠳 Jk anak sdh beranjak remaja lalu memiliki pemikiran klu dia tidak di harapkan, bahkan merasa sbg beban buat ortunya, sering melamun, kadang kurang respon thd sekelilingnya. Bagaimana cara saya membantunya ya, trimakasih

🍀 Jawaban pertanyaan ke- 6

Jika memungkinkan ajak bertemu psikolog.

🍂 Pertanyaan ke- 7

󾠴 Untuk anak (laki-laki) usia 9 tahun apakah sudah terlambat untuk memulai membentuk karakternya. Mengingat hanya tersisa 3th dari masa emas pembentukan karakter. Dengan rentang waktu tersebut, menurut teh lita, karakter apa yang sebaiknya dikejar untuk dibentuk terlebih dahulu dan bagaimana caranya?
Ummu Hafizh – Pasuruan

🍀 Jawaban pertanyaan ke- 7

Belum, bangun kemandirian, tanggungjawab dan konsep diri anak.
Berikan kesempatan anak menuntaskan tugas kesehariannya tanpa bantuan.

🍂 Pertanyaan ke- 8

󾠵 Kalau anak di 2 tahun awal usia sdh sangat terpenuhi kebutuhan nya, dan memiliki kepercayaan kpd ortu kemudian stelah usia 4th ibunya mjd lbh tdk sabar menghadapi masa negatifismenya apalg ditambah dg pny adik lalu menjadi sering marah dg nada tinggi apakah dampaknya bagi anak??

Apakah akan sulit menghadapi anak ketika beranjak remaja?

Ummu Maryam-Kalimantan

🍀 Jawaban pertanyaan ke- 8

Betul, luka hati akan merusak rasa percaya anak kepada orangtua. Marah boleh tapi terkendali.

🌿🌿 KESIMPULAN 🌿🌿

Pondasi itu penting, jadi selamat membangun pondasi ya. Masa remaja itu asyik, kita mulai bisa banyak duduk bersama membicarakan topik-topik dewasa, seperti pernikahan, mencari nafkah, politik dll.
Kita juga bisa jadi tim bersama mereka.

Banyak banyak memberikan udzur ke anak ketika dia melakukan kesalahan. Biasanya mereka awalnya coba coba, rasa ingin tahunya besar. Jangan panik
Jazakumullah khairan katsiro

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🔅🔆🔅🔆hsmn🔆🔅🔆🔅

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

👥facebook.com/hsmuslimnusantara

👥FB: Generasi Juara

📷 instagram: @hsmuslimnusantara

🐤 twitter: @hs_muslim_n

🌐 web: hsmuslimnusantara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s